Menjelang Ramadan, Tradisi ‘Mungah’ Hadirkan Kebahagiaan Umat Muslim

oleh

RADARSUMEDANG.id, PAMULIHAN – Menjelang bulan suci Ramadan, umat Muslim di berbagai daerah menghidupkan kembali tradisi khas sebagai bentuk kebahagiaan menyambut bulan penuh berkah. Salah satu tradisi yang masih lestari di Jawa Barat adalah ‘Mungah’, yang identik dengan kebersamaan dan ungkapan rasa syukur.

Secara bahasa, ‘Mungah’ berasal dari kata ‘Bungah’ dalam bahasa Sunda, yang berarti bahagia. Namun, maknanya lebih dalam dari sekadar perasaan senang. ‘Mungah’ adalah ekspresi kegembiraan yang dihadirkan dalam hati sebagai wujud syukur atas datangnya Ramadan.

Tradisi ini biasanya dirayakan dengan berbagai cara, seperti menggelar pengajian, berbagi makanan kepada sesama, hingga botram atau makan bersama keluarga dan tetangga.

Pimpinan Pondok Pesantren Asy-Syifaa Wal Mahmudiyyah, Abuya Prof. Dr. (H.C.) KH. Muhyiddin Abdul Qadir Al-Manafi, MA, menegaskan bahwa sikap bahagia dalam menyambut Ramadan memiliki dasar dalam ajaran Islam.

“Mungah itu menghadirkan rasa bahagia di dalam hati akan datangnya bulan Ramadan. Karena Ramadan adalah anugerah yang sangat istimewa dari Allah SWT yang tidak ada bandingannya untuk umat Nabi Muhammad SAW,” ujarnya dalam ceramahnya baru-baru ini.

Abuya juga menjelaskan bahwa kebahagiaan dalam menyambut Ramadan sejalan dengan firman Allah dalam Surat Yunus ayat 58, yang menegaskan bahwa karunia Allah harus disambut dengan rasa syukur dan kegembiraan.

“Ini anugerah dari Allah SWT. Kita harus bersyukur menghadapi Ramadan, meskipun belum membeli baju baru, tetap bahagia karena ‘Bungah’. Bahkan, hanya dengan merasa bahagia menyambut Ramadan, kita sudah mendapatkan pahala,” tambahnya.

Lebih lanjut, Abuya menekankan bahwa kebahagiaan dalam ‘Mungah’ bisa dilipatgandakan pahalanya jika diwujudkan dalam bentuk amal kebaikan. Mulai dari menghadiri pengajian, membaca shalawat dan dzikir, berbagi makanan, hingga bersedekah, semua bentuk ekspresi ini akan semakin meningkatkan keberkahan dalam menyambut Ramadan.

Di berbagai daerah, tradisi ‘Mungah’ disambut dengan antusias oleh masyarakat. Banyak keluarga yang mengadakan acara botram, yaitu makan bersama dengan hidangan khas Sunda sebagai bentuk kebersamaan dan ungkapan syukur. Selain itu, sejumlah masjid dan pondok pesantren juga mengadakan pengajian khusus untuk menyambut Ramadan dengan ilmu dan doa.

Dengan semangat ‘Mungah’, diharapkan umat Muslim dapat semakin siap menyambut Ramadan dengan kebahagiaan dan ibadah yang lebih baik. Sebab, seperti yang disampaikan Abuya, bulan Ramadan adalah anugerah luar biasa yang patut disyukuri dengan sepenuh hati.

“Mari kita sambut Ramadan dengan kebahagiaan dan amal kebaikan, karena setiap ekspresi kegembiraan dalam menyambut bulan suci ini akan diganjar pahala oleh Allah SWT,” pungkasnya. (tha)

No More Posts Available.

No more pages to load.