RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Genap berusia 90 tahun, Kecamatan Jatinangor merayakan hari jadinya dengan penuh suka cita dan semangat reflektif. Bertajuk “Jagrag Jagat”, peringatan milangkala ini tak sekadar menjadi ajang seremoni, tetapi momentum untuk menyatukan langkah dan menggugah kesadaran kolektif warga akan pentingnya menjaga jati diri, merawat budaya, dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik.
Perayaan yang dipusatkan di halaman Kantor Kecamatan Jatinangor itu diwarnai berbagai kegiatan, mulai dari bazar UMKM perwakilan tiap desa, layanan kesehatan gratis, donor darah, hingga pembagian 100 paket santunan untuk dhuafa dan anak yatim melalui program “Nya’ah Ka Indung”. Masyarakat juga disuguhi sajian seni tradisional seperti kecapi rajah, tari tradisional, hingga sisingaan yang menggambarkan kekayaan budaya lokal yang tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Puncak acara ditandai dengan kedatangan Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila, yang disambut meriah dengan atraksi sisingaan. Bahkan, Fajar ikut menaiki singa buatan, menciptakan suasana penuh kegembiraan dan kebanggaan bagi warga Jatinangor.
“Usia 90 tahun ini luar biasa. Jatinangor bukan hanya sejarah, tapi masa depan. Kami dari Pemerintah Kabupaten Sumedang sangat mengapresiasi dan akan fokus penuh untuk pengembangan kawasan ini,” ujar Fajar dalam sambutannya, Kamis (17/7).
Ia menegaskan komitmen menjadikan Jatinangor sebagai etalase pembangunan wilayah timur Sumedang dan menyebut sejumlah langkah konkret seperti penataan jalan rusak, pengelolaan kabel udara ke bawah tanah, hingga penguatan branding “City of Innovation” sebagai bagian dari implementasi Smart City.
“Jatinangor harus naik kelas. Kita butuh penataan terpadu, pelayanan lintas wilayah yang optimal, dan pemimpin lokal yang punya visi besar serta mental melayani,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Camat Jatinangor, Endang Rohmayudi, menggarisbawahi empat hikmah dari milangkala kali ini. Pertama, tumbuhnya kembali semangat nyaah lembur atau cinta kampung. Kedua, pentingnya kekompakan warga. Ketiga, dorongan untuk memperkuat UMKM. Dan keempat, penghormatan pada sejarah dan pelestarian budaya di tengah gempuran digitalisasi.
“Kami bangga Jatinangor dikenal sebagai digital knowledge center. Tapi budaya dan nilai-nilai luhur dari para karuhun harus tetap dijaga,” ujarnya.
Endang juga menyampaikan harapannya agar Pemkab tidak menjadikan Jatinangor sebagai daerah prioritas terakhir dalam pembangunan.
“Jalan di sini masih banyak yang leklok. Kami apresiasi komitmen perbaikan, tapi tolong Jatinangor jangan terus-terusan jadi anak tiri,” ungkapnya dengan nada tegas.
Dari sisi sejarah, sesepuh Jatinangor, Ismet Suparmat, menjelaskan bahwa penetapan hari jadi ini merupakan upaya pelurusan sejarah. “Jatinangor sudah ada sejak 1935, bahkan lebih tua dari Kabupaten Sumedang yang berdiri tahun 1950. Dulu bernama Kecamatan Cikeruh. Baru tahun 2000, berubah menjadi Kecamatan Jatinangor,” jelasnya.
Ismet menegaskan, sejarah panjang Jatinangor bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi fondasi untuk menatap masa depan. “Kita boleh digital, tapi harus tetap hormat pada karuhun. Itu kekuatan kita,” pungkasnya.
Dengan semangat Jagrag Jagat, Jatinangor tak hanya memperingati usia, tetapi menguatkan tekad untuk terus tumbuh sebagai kawasan strategis, berbudaya, dan berdaya saing tinggi di kancah regional maupun nasional. (tha)







