RADARSUMEDANG.id, BANDUNG — Ratusan pelamar kerja mengantre di depan sebuah restoran Jepang di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (13/8).
Mereka berbaris menunggu namanya dipanggil untuk wawancara posisi pekerjaan yang disediakan restoran tersebut.
Salah seorang pelamar, Rosa (21) mengaku sudah tiba di restoran itu sejak pukul 08.00 WIB.
Dia menunggu hampir tiga jam sembari membawa map cokelat berisikan surat lamaran dan daftar riwayat hidup atau curriculum vitae (CV).
Rosa mengaku ini adalah perusahaan kelima yang dia lamar. Empat lamaran sebelumnya belum ada yang lulus.
Dia pun menaruh harapan tinggi pada pekerjaan ini sebab membutuhkan uang untuk membiayai keluarganya.
Dari pengalamannya, Rosa menyebut cukup terkendala dengan syarat minimal tinggi badan yang kerap dia temukan. Apalagi di bidang food and beverages (F&B) yang menurutnya kurang relevan dengan pekerjaan yang dijalani.
“Sebenarnya fifty fifty, menurut aku buat yang nggak berpengalaman pasti susah, tetapi kalau ada pengalaman seenggaknya masih bisa kalau di Bandung, soalnya aku juga beberapa kali dapat panggilan interview,” kata Rosa ditemui JPNN di lokasi.
Menurutnya, kualifikasi syarat lowongan pekerjaan saat ini banyak yang tidak sesuai dengan kemampuan, salah satunya batas usia pelamar.
Rosa yang baru berusia 21 tahun, mengaku masih percaya diri bisa mendapatkan pekerjaan.
Hal berbeda justru dialami pekerja yang sudah memasuki usia senja.
“Penginnya untuk semua kualifikasi jangan terlalu tinggi apalagi masalah umur, karena yang butuh kerja banyak juga yang sudah tua, apalagi bapak-bapak begitu kan pasti tulang punggung, sedangkan sekarang patokannya usia,” katanya.
Dia pun membandingkan dengan kualifikasi pelamar kerja di luar negeri, seperti Jepang. Di sana, perusahaan benar-benar melihat dari segi kemampuan calon pelamarnya, bukan usia atau bentuk fisik.
“Aku kalau lihat di luar negeri enggak ada patokan umur, selagi dia masih mau kerja pasti diterima,” imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang pelamar lainnya, Robi (28) mempertanyakan janji pemerintah yang menyebut akan membuka 19 juta lapangan pekerjaan.
Robi yang hampir setahun menganggur itu kebingungan karena sulitnya mencari kerja. Dia harus bersaing dengan pelamar lain yang usianya lebih muda.
“Janjinya masih ditunggu, Pak, soalnya ini saya juga masih susah cari kerja. Waktu di rumah sih optimistis bisa dapat kerja di sini, tetapi pas datang jadi pesimis soalnya pesaingnya banyak yang lebih muda dari saya,” kata Robi.
Janji 19 juta lapangan pekerjaan pernah disampaikan Gibran Rakabuming Raka saat menjadi calon wakil presiden dalam Debat Pilpres IV Minggu, 21 Januari 2024.
Saat itu, debat Pilpres membahas tema Pembangunan Berkelanjutan, Lingkungan Hidup, Energi dan Sumber Daya Alam, Pangan, Agraria, Masyarat Adat dan Desa.
“Jika agenda hilirisasi, pemerataan pembangunan, transisi energi hijau, ekonomi kreatif, UMKM bisa dikawal, insyaallah akan terbuka 19 juta lapangan kerja untuk generasi muda dan kaum perempuan,” kata Gibran.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran naik menjadi 7,28 juta orang per Februari 2025. Jumlah itu bertambah 83,45 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Jumlah pengangguran di Jawa Barat mengalami kenaikan dari 1,77 juta orang menjadi 1,81 juta orang. (mcr27/jpnn)






