RADARSUMEDANG.id, UJUNGJAYA – Di sebagian besar daerah, serangga mungkin dianggap hewan yang menjijikkan untuk dikonsumsi. Bahkan, tak sedikit orang yang merasa geli hanya dengan melihatnya.
Namun, hal itu berbeda di Kecamatan Ujungjaya, belalang justru menjadi primadona. Hewan kecil yang biasanya beterbangan di persawahan ini kerap diburu warga, baik untuk dijadikan camilan maupun lauk pauk pendamping nasi.
Pada musim tertentu, Engko (70) tampak begitu bersemangat menyusuri pematang sawah. Dengan peralatan sederhana buatannya sendiri, ia bergerak lincah menangkap belalang yang beterbangan di antara batang padi. Usia senja tak mengurangi kegesitannya dalam berburu.
“Kalau musimnya pas, belalang bisa banyak sekali. Sebagian saya makan sendiri, sisanya dijual,” ujar Engko, Selasa (2/9).
Harga belalang yang ia jual pun terbilang terjangkau, hanya Rp5.000 per gelas plastik. Meski sederhana, hasil itu cukup membantu ekonomi keluarganya.
“Biasanya dari pagi sampai jam 9 bisa sapat setengah kilo, atau kalau lagi banyak bisa satu kilogram. Yang pesan juga ada, lumayan lah dijual buat keperluan sehari-hari,” katanya.

Belalang hasil tangkapan tak bisa langsung dikonsumsi. Proses pengolahannya memerlukan ketelitian. Setelah ditangkap, serangga ini dikukus lebih dulu, kemudian dipilah agar terpisah dari serangga lain. Setelah dibersihkan, barulah belalang siap diolah menjadi berbagai masakan sesuai selera penikmatnya.
“Kalau yang suka banyak, tapi belalangnya jarang. Apalagi kalau sudah musim panen itu belalangnya jarang,” ucapnya.
Bagi sebagian warga Ujungjaya, belalang goreng adalah menu favorit. Teksturnya yang gurih dan renyah disebut mirip dengan udang.
“Rasanya unik, gurih seperti makan udang. Jadi ketagihan kalau sudah coba,” tutur Mimi, salah seorang warga penikmat belalang.
Meski dianggap makanan ekstrem di banyak tempat, belalang sebenarnya kaya akan protein hewani. Kandungan gizinya bahkan dinilai bisa menjadi alternatif sumber pangan bergizi. Namun, tak semua orang bisa menikmatinya. Sebagian orang mengalami alergi setelah mengonsumsi belalang karena kadar proteinnya yang tinggi.
Bagi masyarakat Ujungjaya, belalang bukan sekadar serangga pengganggu tanaman. Ia adalah bagian dari tradisi kuliner lokal yang terus bertahan hingga kini. Dari tangan-tangan sederhana seperti Engko, belalang menjelma menjadi santapan lezat yang tak lekang oleh zaman. (gun)







