PAMULIHAN – Momentum Hari Santri Nasional tahun ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah. Tiga santri terbaiknya berhasil menorehkan prestasi gemilang sebagai juara dalam ajang Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) Tingkat Jawa Barat Tahun 2025.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Sumedang yang juga menjabat sebagai Plt. Bupati, M. Fajar Aldila, S.H., M.Kn., mewakili Bupati Sumedang Dr. H. Dony Ahmad Munir, S.T., M.M., pada Upacara Peringatan Hari Santri Nasional Tingkat Kabupaten Sumedang, Rabu (22/10) di Lapangan Upacara Pusat Pemerintahan Sumedang. Turut mendampingi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumedang KH. Hamzah Rukmana, S.Ag., M.A.
Adapun santri berprestasi yang mengharumkan nama pesantren sekaligus Sumedang di tingkat provinsi ialah Alief Wira Yudha Mustholih, Juara 1 Tafsir Jalalain (Tafsir Wustha). Muhammad Ghani Al Ghifari, Juara 1 Adabul Alim wal Muta’alim (Akhlaq Wustha). dan Muhammad Regi Ramdhani, Juara 1 Riyadusholihin dan Manhaj Dzawi Nadzor (Hadits dan Ilmu Hadits Ulya).
Pimpinan Pondok Pesantren Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah, Abuya KH. Muhyiddin Abdul Qadir Al-Manafi, M.A., menyampaikan rasa syukur sekaligus makna mendalam dari momentum Hari Santri yang jatuh setiap 22 Oktober. Menurutnya, peringatan Hari Santri sejatinya sudah berlangsung sejak 1.460 tahun yang lalu berdasarkan hitungan komariah.
“Santri pertama dalam Islam adalah Sayyidah Khadijah, istri Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama di Gua Hira pada malam Senin di usia 40 tahun, Sayyidah Khadijah adalah orang pertama yang menyambut dakwah beliau dan memeluk Islam. Maka sejak saat itu, tradisi keilmuan dan kesantrian dimulai,” jelas Abuya Muhyiddin.
Ia menambahkan, peringatan Hari Santri bukan sekadar agenda nasional, melainkan momentum agung untuk mengenang lahirnya tradisi ilmu, dakwah, dan keteladanan Rasulullah sebagai mu’allim (pendidik).
“Hari Santri berbarengan dengan Hari Ulama, karena Rasulullah diutus sebagai pendidik umat. Maka hari ulama dan hari kiai sejatinya adalah hari sang Rasul, guru agung seluruh alam,” ujarnya.
Abuya Muhyiddin juga mengapresiasi perhatian Pemkab Sumedang dan Kementerian Agama yang terus mendukung dunia pesantren.
“Semoga sinergi antara pesantren, pemerintah daerah, dan Kementerian Agama dalam segala aspek kebaikan terus terjalin semakin erat. Ini bukti bahwa Sumedang sangat menghargai perjuangan para santri dan ulama,” tutupnya. (tha)





