HKTI Sumedang Kenalkan Teknologi Tanam Padi Tabela, Hasil Panen Petani Naik Tiga Kali Lipat

oleh
Dudi Supardi

RADARSUMEDANG.id, TANJUNGKERTA – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Sumedang memperkenalkan inovasi teknologi pertanian terbaru dalam budidaya padi, yakni sistem Tanam Benih Langsung (Tabela).

Inovasi ini dinilai lebih efisien dan mampu meningkatkan hasil panen dibandingkan metode tanam tradisional.

Ketua HKTI Sumedang, H. Dudi Supardi, menjelaskan bahwa alat tanam padi sistem Tabela ini sudah mulai digunakan oleh petani di wilayah Kecamatan Tanjungkerta dan Kecamatan Tomo.

Menurutnya, sistem Tabela memungkinkan benih padi yang sudah berkecambah langsung ditanam di lahan sawah tanpa melalui proses penyemaian (pesemaian) dan pemindahan (tandur) seperti biasanya.

“Kebanyakan petani masih menanam padi dengan cara tandur, yaitu disemai dulu, lalu dicabut dan dipindahkan ke sawah. Proses itu justru membuat akar terganggu dan pertumbuhan padi bisa terhambat hingga 10 hari,” ujar Dudi saat dikonfirmasi Radar Sumedang di PPS, baru-baru ini.

Dengan sistem Tabela, lanjut Dudi, benih yang telah direndam hingga keluar tunas langsung ditanam di sawah menggunakan alat khusus. Satu alat mampu menampung hingga 20 butir benih dalam sekali tanam.

“Kalau biasanya petani menanam 3 sampai 5 kali tandur dan menghasilkan sekitar 25 malai, dengan Tabela bisa meningkat tiga kali lipat. Di Desa Ciherang misalnya, hasilnya mencapai 65 sampai 85 malai per rumpun,” ungkapnya.

Menariknya, dalam demonstrasi penggunaan alat tersebut, HKTI bahkan melibatkan seorang mahasiswi untuk memperagakan cara kerja alat sambil mendengarkan musik. Alat ini dilengkapi roda di bagian bawah yang berfungsi menekan benih ke tanah secara merata, sehingga petani tidak mudah lelah atau sakit pinggang karena proses tanam dilakukan dengan posisi berdiri.

Selain memperkenalkan teknologi tanam, HKTI juga memberikan edukasi terkait penggunaan pupuk sesuai kebutuhan tanah dan tanaman.

Dudi menilai, banyak petani masih bergantung pada pupuk subsidi dengan kandungan unsur hara seimbang 16-16-16 (N-P-K), padahal kebutuhan tanaman padi sebenarnya lebih tinggi pada unsur kalium (K).

“Pupuk subsidi NPK 16-16-16 itu kandungannya sama, padahal padi membutuhkan kalium lebih tinggi. Jadi sebaiknya ada penambahan unsur K agar hasil panen lebih optimal,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dudi juga mendorong adanya kerja sama yang adil antara petani penggarap dan pemilik lahan. Ia mencontohkan praktik di daerah Karedok, Kecamatan Jatigede, di mana sistem bagi hasil sebaiknya disesuaikan dengan produktivitas panen, bukan berdasarkan sewa tetap.

Ia berharap penerapan sistem Tabela dan pembenahan manajemen pertanian ini dapat membantu petani Sumedang meningkatkan hasil panen sekaligus menekan biaya produksi.

“Kalau sewa sawahnya 7 kilogram per bata, dan hasil panen meningkat jadi 12 kilogram per bata, maka kelebihannya bisa dibagi dengan pemilik lahan. Dengan begitu, semua pihak dapat menikmati hasil dari peningkatan produktivitas,” pungkas Dudi. (jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.