Tanjakan Coet Wado : Mematikan, Mistis, Tak Pernah Sepi Tragedi

oleh
Tanjakan Coet di jalan Wado-Malangbong, Wado. Di lokasi ini kerap terjadi kecelakaan maut, hingga kerap disebut jalur tengkorak.
RADARSUMEDANG.id, WADO – Jalan berkelok, curam, dan penuh tantangan. Itulah gambaran jalur maut penghubung Wado – Malangbong di Kabupaten Sumedang. Membentang sekitar tiga kilometer dengan turunan dan tanjakan ekstrem, ruas ini telah menelan ratusan nyawa. Tak heran, warga menjulukinya sebagai “jalur tengkorak”.
Di sepanjang jalur ini terdapat dua tanjakan yang paling ditakuti pengendara: Tanjakan Coet dan Tanjakan Cae. Keduanya menyimpan jejak panjang tragedi, duka, sekaligus cerita mistis yang masih hidup di benak warga hingga kini.
Tanjakan Coet bukan sekadar nama lokasi, melainkan penanda sebuah kisah kelam yang terjadi lebih dari empat dekade lalu. Peristiwa tragis itu masih lekat dalam ingatan Agus Warsidi (67), Ketua RT 03/06 Dusun Cilangkap, Desa Sukajadi, Kecamatan Wado.
“Dulu kejadiannya sekitar tahun 1980-an. Truk pengangkut coet batu terguling di tanjakan ini. Batu-batu coet yang diangkut jatuh menimpa penumpang. Ada enam orang meninggal di tempat, cuma sopirnya saja yang selamat,” ujar Agus, Selasa (4/11).
Agus masih mengingat jelas kepanikan warga ketika tragedi terjadi. Suara benturan keras, jeritan minta tolong, dan warga yang berlarian menolong korban menciptakan suasana mencekam yang sulit dilupakan.
“Waktu itu suasananya kacau. Banyak warga nangis karena melihat korban berdarah-darah. Sejak itu orang-orang mulai menyebutnya Tanjakan Coet,” kenangnya.
Seiring waktu, nama Tanjakan Coet semakin melekat, bukan hanya karena tragedi masa lalu, tetapi juga lantaran seringnya kecelakaan terjadi tanpa sebab yang jelas. Warga pun meyakini adanya unsur mistis di lokasi tersebut.
“Sering banget ada kecelakaan di sini. Jalur ini memang ekstrem, tapi juga angker. Banyak yang bilang ada penunggunya. Tapi bisa juga karena jalan ini menanjak dan menurun panjang, hampir tiga kilometer,” kata Agus.
Jalur ini membentang dari Bunter hingga Jalan Cagak Sukajadi. Dari atas, pengemudi harus menaklukkan turunan tajam. Dari bawah, tanjakan panjang menanti. Tak jarang, kendaraan kehilangan kendali, rem blong, hingga terguling masuk jurang.
“Sudah sering rem blong, terguling, bahkan nyemplung jurang,” ungkap Agus.
Warga tak tinggal diam. Mereka berkali-kali melakukan doa bersama, tahlilan, hingga mendatangkan orang pintar untuk menetralisir energi negatif di sekitar lokasi. Namun, musibah tetap saja terjadi.
“Pernah didatangkan orang pintar dari Banten, tapi tetap saja tiap beberapa waktu ada kejadian,” ujarnya.
Belum lama ini, sebuah mikrobus berisi rombongan peziarah asal Majalengka terguling di lokasi yang sama. Empat orang meninggal dunia, belasan lainnya luka-luka. Tragedi itu menambah panjang daftar korban di jalur maut ini.
“Kalau dihitung, sudah ratusan nyawa melayang di jalan ini. Dulu ada bus Sri Padma, juga bus kecil Maju Jaya, korban banyak banget,” tutur Agus dengan nada berat.
Kini, setiap kali kendaraan besar melintas di jalur berbahaya tersebut, warga hanya bisa menatap cemas, berharap semuanya selamat hingga tujuan.
Karena bagi mereka, Tanjakan Coet bukan sekadar tanjakan. Ia adalah simbol nyata maut yang selalu mengintai, hadir dalam setiap kelengahan, dan menyisakan trauma panjang bagi warga sekitar.
“Setiap dengar ambulans, hati suka deg-degan. Takut ada yang celaka lagi,” kata Agus lirih.
Warga lainnya, Adah Dati (55) menuturkan hal yang sama. Ia menyebut, di depan rumahnya yang persis di pinggir jalan, kecelakaan yang berakibat fatal sudah lima kali terjadi.
“Ini di depan rumah saya sudah sering banget (terjadi kecelakaan), yang kemarin elf itu yang kelima. Ada yang meninggal ada yang luka parah itu sudah biasa,” ujar Adah.
Menurutnya, kecelakaan paling sering terjadi pada malam hari.
“Paling sering motor, jam 1 jam 2, korbannya sering dibawa ke teras rumah saya,” tuturnya.
Di jalur tengkorak Wado – Malangbong, maut seolah menjadi penunggu setia, dan setiap kendaraan yang melintas hanya bisa berdamai dengan keberanian, kehati-hatian, serta doa. (gun)

No More Posts Available.

No more pages to load.