RADARSUMEDANG.id, BUAHDUA – Komoditas padi organik dari Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, kini tengah dipersiapkan Pemerintah Kabupaten Sumedang sebagai sektor unggulan yang berpotensi menarik investasi jangka panjang.
Sekretaris Desa Cikurubuk, Tata Rukanta, menjelaskan bahwa desanya bisa mencapai tiga kali musim panen dalam setahun, dengan kapasitas produksi rata-rata 7–9 ton per hektare setiap siklus. Awal November ini, kata dia, menjadi awal masa tanam ketiga pada 2025.
“Desa Cikurubuk merupakan salah satu daerah penghasil padi terbesar di Sumedang. Kualitas padinya juga sudah banyak diakui para distributor sebagai yang terbaik,” ujar Tata kepada wartawan di Gedung Negara, belum lama ini.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Kepala Desa Cikurubuk Fadar Junawar terus berinovasi agar pengembangan pertanian berjalan searah dengan peningkatan kesejahteraan warga. Sejak 2022, Fadar melakukan berbagai percobaan bersama sejumlah tokoh untuk membangun Sistem Pertanian Terintegrasi (integrated farming).
Dengan sistem tersebut, Desa Cikurubuk kini dapat menerapkan model pertanian sirkular dari hulu ke hilir. Lahan hijauan seluas 45 hektare disiapkan sebagai sumber pakan ternak. Limbah peternakan kemudian diolah menjadi pupuk organik yang kembali digunakan untuk pertanian.
“Sistem pertanian organik ini terbukti meningkatkan kapasitas produksi hingga 30 persen dibanding metode sebelumnya. Hasil panen juga terserap pasar dengan harga di atas rata-rata,” ungkap Tata.
Terpisah, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menilai Sistem Pertanian Organik Berbasis Ekonomi Sirkular ini sangat potensial dikembangkan dalam skema investasi.
“Kita sudah siap dari sisi regulasi maupun sosial. Warga sudah memahami manfaatnya ketika sistem ini dijalankan secara profesional,” kata Dony di Gedung Negara.
Ia menjelaskan, nilai investasi proyek tersebut mencapai Rp139,8 miliar, terdiri atas Capex Rp73 miliar dan Opex Rp66 miliar. Sistem ini mencakup pembangunan pabrik pupuk organik berkapasitas 728 ton per tahun, pabrik pakan ternak 13.500 ton per tahun, serta pengembangan kandang komunal untuk 2.000 ekor per tahun.
Tak hanya itu, akan dibangun pula lahan produksi pakan hijauan 13.500 ton per tahun serta pabrik dan gudang beras organik dengan kapasitas penyimpanan 375 ton per tahun.
“Dari sisi aksesibilitas, kawasan ini sangat strategis. Bisa ditempuh lewat Gerbang Tol Paseh dan Cimalaka Cisumdawu. Ke Jakarta kurang dari empat jam, ke Bandung sekitar dua jam,” jelas Dony.
Ia juga menekankan bahwa proyek ini membuka peluang serapan tenaga kerja yang besar jika kerja sama investasi berjalan hingga 15 tahun.
“Tenaga kerja lokal akan terserap optimal. SDM di sana akan meningkat profesionalitasnya karena terlibat dalam sistem pertanian sirkular modern,” tutupnya. (jim)






