RADARSUMEDANG.id, BANDUNG — Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Jawa Barat, H. Ridwan Solichin, SIP, M.Si, menyatakan bahwa peringatan Hari Guru Nasional 2025 harus menjadi momen refleksi bersama untuk mengatasi tiga dosa besar dunia pendidikan: perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi.
Ridwan sepakat dengan pandangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa ketiga persoalan tersebut menunjukkan darurat moral yang harus diselesaikan melalui penguatan ekosistem pendidikan yang aman dan inklusif.
“Pada Hari Guru Nasional, kita kembali diingatkan bahwa guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menjaga ruang belajar agar bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi tumbuhnya karakter dan empati,” ujar Kang Rinso baru-baru ini.
Ia menekankan perlunya sistem perlindungan anak yang lebih kuat di setiap satuan pendidikan, lengkap dengan kebijakan anti-bullying, pencegahan kekerasan seksual, serta penguatan pendidikan toleransi dan kebinekaan.
Kang Rinso juga mendorong pemerintah pusat dan daerah menyiapkan anggaran pelatihan bagi guru agar mampu mendeteksi dini tanda kekerasan maupun intoleransi. “Guru berada di garis depan. Mereka perlu dibekali kemampuan sosial-emosional, bukan hanya kemampuan mengajar,” katanya.
Menurutnya, peringatan Hari Guru harus menjadi momentum memperbaiki ekosistem pendidikan secara nyata, bukan sekadar seremoni tahunan. “Jika semua pihak bergerak, pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua, kita bisa menciptakan sekolah yang benar-benar aman dan beradab,” katanya lagi.
Menurutnya, tema Hari Guru Nasional tahun ini, “Guru Hebat, Indonesia Kuat,” selaras dengan kebutuhan penguatan peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Kang Rinso menekankan bahwa guru yang hebat bukan hanya kuat dalam kompetensi akademik, tetapi juga dalam kemampuan membimbing karakter, membangun budaya saling menghargai, serta menjadi pelindung bagi setiap anak dari segala bentuk kekerasan.
Kang Rinso menambahkan bahwa mewujudkan “Guru Hebat, Indonesia Kuat” membutuhkan dukungan sistem yang memadai. Ia menilai penting adanya peningkatan kesejahteraan guru, pelatihan kompetensi sosial-emosional, serta penyediaan sarana pendukung seperti konselor sekolah dan unit layanan perlindungan anak.
“Guru hanya bisa menjadi hebat jika negara hadir memberikan perlindungan, pelatihan, dan fasilitas yang layak. Tanpa itu, beban mereka terlalu berat,” tegasnya.(Rik)






