RADARSUMEDANG.id — Riset BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan bahwa peranan sektor industri manufaktur dalam perekonomian Indonesia semakin menguat di tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hal tersebut terlihat dari data komposisi Penanaman Modal Asing (PMA) hingga kuartal III 2025 yang didominasi oleh sektor industri manufaktur.
Helmy menerangkan, dominasi sektor manufaktur ini membawa dampak positif bagi peningkatan dan pemerataan kesejahteraan. Sebab, PMA di sektor manufaktur menciptakan efek pengganda sangat kuat di luar Jawa.
Riset menunjukkan bahwa setiap PMA senilai Rp 1 triliun di luar Jawa menghasilkan tambahan Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) sekitar Rp 1,76 triliun. Sebagai pembanding, PMA senilai Rp 1 triliun di Jawa hanya menghasilkan tambahan PMTB senilai Rp 140 miliar.
“PMA yang didominasi sektor manufaktur sebagai penopang pertumbuhan investasi ini meningkatkan PMTB dan memperluas manfaat regional, dengan wilayah-wilayah di luar Jawa yang paling diuntungkan. Secara regional, PMA di luar Jawa menghasilkan PMTB yang jauh lebih besar, mencerminkan kebutuhan modal yang lebih dalam di wilayah tersebut dan menegaskan peran PMA dalam mendukung pertumbuhan yang lebih seimbang secara geografis,” paparnya.
Lebih lanjut, Helmy menyebut beberapa faktor kunci yang perlu diperhatikan untuk memperkuat momentum investasi. Di antaranya yaitu siklus belanja modal, tingkat pemanfaatan kapasitas industri, dan pertumbuhan upah minimum.
“Meskipun aliran PMA semakin bergeser ke industri manufaktur dan hilir, siklus belanja modal domestik belum selaras. Indikator terbaru menunjukkan bahwa investasi lokal masih berhati-hati. Menurut pandangan kami, tiga indikator yang penting untuk dipantau guna menilai momentum investasi adalah siklus belanja modal, pemanfaatan kapasitas industri, dan pertumbuhan upah minimum,” tutupnya.(jpc)






