RADARSUMEDANG.id, KOTA – Pagelaran wayang golek dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional berlangsung meriah di Lapangan Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Sabtu malam (29/11/2025).
Ribuan warga memadati area lapangan untuk menyaksikan pertunjukan semalam suntuk yang menghadirkan empat dalang terkemuka yang tergabung dalam Pepadi Jawa Barat.
Pada kesempatan itu, lakon “Semar Jadi Raja” menjadi suguhan utama. Melalui tokoh Semar, kisah kehidupan kepurbakalaan Sumedang pada masa lampau disampaikan dengan sentuhan filosofi khas pewayangan.
Semar digambarkan sedang menuturkan jejak peradaban masyarakat Sunda yang diyakini bermula dari wilayah Sumedang.
Dalam alur cerita, Semar menjelaskan bahwa Sumedang menyimpan unsur sejarah yang panjang, bahkan dipercaya telah ada sejak jutaan tahun lalu. Beberapa penemuan di Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo—seperti fosil hewan purba dan batuan bersejarah—menjadi bukti kuat keberadaan kehidupan pada masa paleolitikum, mesolitikum hingga neolitikum.
Penemuan tersebut telah diteliti para ahli dan diperkuat oleh Kabid Kebudayaan Disparbudpora Sumedang, M. Budi Akbar.
“Ini menunjukkan bahwa kebudayaan manusia purba hadir di Sumedang sejak masa awal kehidupan. Sumedang itu kolot, dituakan,” tutur Semar dalam lakon tersebut.
Semar juga menyinggung pandangan lama masyarakat Sunda terkait pantangan menikah dengan orang Jawa yang kini dianggap sudah tidak relevan. “Silakan menikah dengan suku mana pun, karena Sumedang mah dituakan,” terdengar dalam cerita.
Pada kesempatan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, mewakili Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, turut hadir dan menegaskan bahwa pagelaran wayang merupakan bagian dari komitmen pemerintah memberikan hiburan yang membahagiakan masyarakat.
“Nanggap wayang adalah cara membahagiakan rakyatnya, karena wayang itu hiburan,” ujar Herman. Ia juga kembali memaparkan nilai Panca Waluya—cageur, bageur, pinter, singer—yang harus menjadi cermin masyarakat Jawa Barat.
Herman menekankan pentingnya inovasi agar seni wayang tetap diminati generasi muda. “Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana agar wayang tetap menarik bagi generasi muda. Pertunjukan perlu disesuaikan dengan gaya mereka supaya mereka mau ikut menonton,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang, Tuti Ruswati, menyampaikan apresiasi kepada Pepadi Jawa Barat yang telah memilih Sumedang sebagai tuan rumah peringatan Hari Wayang Nasional tahun ini.
“Pagelaran wayang bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan pelestarian budaya. Saya melihat seni tradisi masih relevan dan tetap dicintai di tengah arus modernisasi,” katanya.
Tuti juga mengajak masyarakat ikut menjaga keberlangsungan seni wayang melalui menonton, mempelajari cerita, dan mendukung para pelaku seni. “Wayang mengandung nilai luhur tentang kehidupan, sifat baik dan buruk, serta mengajarkan kita memilih peran sosial yang baik,” ungkapnya.
Pagelaran tersebut menghadirkan empat dalang, yaitu Darsa Wibiksana, Iman R. Cecep Supriadi, Wawan Dede Amung Sutarya, dan Dandan Dede Amung Sutarya. Keempatnya tampil bergantian sepanjang malam, menyajikan cerita yang memadukan unsur tradisi dan sentuhan kekinian.
Selain warga, berbagai pelaku UMKM dan pedagang keliling turut meramaikan area PPS, membuat suasana peringatan Hari Wayang Nasional semakin semarak. (jim)







