Oleh: M. Nuur’aini Sholihat
RADARSUMEDANG.id — Pelaksanaan TKA Matematika tahun ini kembali memantik perbincangan nasional. Walau data resminya belum dirilis, sinyal awal yang muncul sudah cukup membuat kita berkaca: apa yang sebenarnya terjadi dalam pembelajaran matematika di sekolah? Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata soal kemampuan murid, melainkan tentang bagaimana proses belajar berlangsung. Di titik inilah kita perlu lebih jujur tentang bagaimana matematika hadir, dipahami, dan dialami oleh siswa dalam kehidupan mereka.
Di media sosial, kita kerap melihat cuplikan siswa SMA yang kebingungan menjawab 7×8. Cuplikan seperti itu sering menjadi bahan olok-olok, padahal ia mengantarkan kita pada pertanyaan yang lebih mendasar. Banyak siswa bukan tidak mampu; mereka hanya belum sungguh-sungguh mengalami perkalian sebagai gagasan, pola, atau hubungan bilangan yang bermakna. Perkalian telah lama hadir sebagai tabel hafalan, bukan struktur berpikir. Ketika konteks berubah atau beban kognitif meningkat, hafalan yang tidak menemukan maknanya mudah menguap. Tanpa ruang untuk mengalami, mengeksplorasi, dan merefleksikan, pemahaman matematis sulit berakar.
Kerentanan ini makin tampak ketika variasi kemampuan, minat, dan pengalaman belajar siswa bertemu dengan pola pembelajaran yang masih repetitif. Di beberapa kelas, matematika diajarkan melalui pola memberi penjelasan, memberikan contoh, memberi latihan yang efisien secara manajemen, tetapi miskin pengalaman autentik. Tidak mengherankan jika asesmen seperti PISA, AKM, atau TKA terasa asing bagi siswa, itu bukan karena siswanya tidak mampu, tetapi karena cara berpikir yang diminta tidak tumbuh dalam rutinitas belajar mereka.
Persoalan ini tidak lahir di SMA. Learning progression menunjukkan bahwa pemahaman matematika berkembang secara bertahap sejak sekolah dasar. Di SD, guru harus mengampu berbagai mata pelajaran sekaligus. Dalam tekanan beban kerja dan administrasi, pembelajaran matematika kerap mengandalkan langkah-langkah praktis untuk menjaga kelas tetap tertib. Guru sesungguhnya sudah berupaya: menghadirkan permainan kecil, benda konkret, dan media sederhana. Namun kesempatan untuk membangun pengalaman matematis yang lebih dalam belum selalu hadir secara konsisten.
Kerentanan yang dimulai di SD ini kemudian terbawa ke jenjang berikutnya. Di SMP dan SMA, tuntutan abstraksi dan penalaran meningkat, tetapi fondasi pemahaman belum sepenuhnya kuat. Di SMK, persoalan bergerak ke arah lain. Banyak siswa sangat terampil secara praktik, namun kesulitan membaca instruksi teknis, grafik produksi, atau data numerik, kecakapan yang penting dalam industri berbasis teknologi. Ketika matematika tidak terhubung dengan konteks nyata, sebagian siswa SMK berpotensi memasuki dunia kerja tanpa kapasitas bernalar yang memadai.
Di sisi lain, budaya belajar yang serba cepat dan kecenderungan mencari jawaban instan membuat siswa tidak terbiasa menikmati proses, apalagi bantuan kecerdasan buatan (AI). Kecemasan matematika, yang jarang dibicarakan, sering menjadi tembok senyap yang menghalangi keberanian bertanya dan bereksplorasi.
Dalam konteks inilah penting melihat kembali pendidikan sebagai pengalaman. Belajar tidak tumbuh dari penyampaian, melainkan dari perjumpaan dengan situasi bermakna. Pengetahuan lahir melalui keterlibatan dan refleksi. Ketika matematika dipisahkan dari kehidupan siswa (misal: membaca grafik curah hujan harian, harga bahan pokok mingguan, pola antrean minimarket, atau data aktivitas sehari-hari), maka matematika ini kehilangan maknanya. Simbol yang tidak terhubung dengan pengalaman tidak sanggup menumbuhkan nalar.
Pandangan ini sejalan dengan pragmatisme John Dewey, yang menegaskan bahwa belajar harus bertolak dari pengalaman nyata. Konsep hanya bermakna ketika terhubung dengan tindakan dan penyelidikan. Dalam kerangka ini, matematika seharusnya menjadi alat untuk memahami dunia, bukan sekadar prosedur abstrak. Ketika pengalaman siswa terpisah dari konsep, yang tersisa hanyalah simbol tanpa makna, hal ini persis kerentanan numerasi yang kita lihat hari ini.
Kurikulum Merdeka sebenarnya membawa ambisi besar untuk menempatkan pengalaman sebagai inti proses belajar. Ia mendorong konteks, proyek, kolaborasi, dan asesmen formatif. Namun pembelajaran mendalam memerlukan dukungan: waktu yang cukup, ruang untuk bertanya, dan ekosistem sekolah yang memberi peluang eksplorasi. Banyak guru ingin menghadirkan pembelajaran bermakna, tetapi tekanan jadwal, administrasi, dan tuntutan penyelesaian materi sering membuat mereka kesulitan membuka ruang penyelidikan. Tidak jarang proyek berhenti pada produk pajangan, sementara diskusi berubah menjadi presentasi pasif yang belum mencerminkan proses berpikir siswa.
Pemanfaatan ruang digital pun belum maksimal. Di banyak sekolah, teknologi digunakan sebatas memutar video atau menampilkan slide. Padahal perangkat digital dapat menjadi sarana eksploratif: membaca pola data, memvisualisasikan fungsi, atau memodelkan fenomena secara langsung. Potensi ini sering luput karena budaya pembelajaran masih berorientasi pada penyampaian, bukan penyelidikan.
Karena pengalaman belajar belum terbangun secara utuh, rendahnya kinerja awal TKA seharusnya tidak mengejutkan. Ia bukan cermin kegagalan siswa, melainkan cermin bahwa pembelajaran matematika kita masih bertumpu pada transmisi, bukan pengalaman. Siswa tidak menolak matematika; mereka kesulitan menemukan maknanya ketika matematika berdiri tanpa konteks. Mereka belajar cara menghitung, tetapi jarang belajar cara berpikir.
Tantangan terbesar pendidikan matematika hari ini bukan memperbanyak soal, tetapi memperkaya pengalaman. Siswa SMA perlu dihadapkan pada persoalan dunia nyata; siswa SMK perlu akrab dengan data yang relevan dengan kompetensi mereka; dan ruang digital perlu dihidupkan sebagai tempat berpenyelidikan, bukan hanya tempat menonton. Jika pengalaman itu hadir dengan konsisten, numerasi akan tumbuh sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, pendidikan kembali pada tujuan dasarnya: membantu anak memahami dunia dan menyalakan nalar yang hidup dalam keseharian mereka. Di situlah masa depan pendidikan matematika kita bertumpu, bukan pada lebih banyak hafalan, tetapi pada lebih banyak pengalaman yang menyalakan cara berpikir.(*)
*)Mahasiswa S3 Pendidikan Matematika UPI





