RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Upaya penanggulangan banjir di Kecamatan Jatinangor mulai memasuki tahap konkret. Camat Jatinangor beserta Kepala Desa Sayang, Cibeusi dan Kades Cipacing mengecek sejumlah titik krusial yang diduga menjadi penyebab banjir. Senin (12/01).
Tiga kepala desa bersama Camat Jatinangor turun langsung ke lapangan sebagai tindak lanjut hasil pertemuan awal yang digelar Kamis (6/1) lalu.
Camat Jatinangor Herman Suwandi mengatakan, Banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah di Jatinangor dinilai tidak hanya dipicu oleh tingginya curah hujan, tetapi juga akibat menyempitnya saluran air serta drainase yang tersumbat.
“Sejak Oktober 2025, intensitas hujan meningkat signifikan, sementara kondisi drainase dinilai tidak lagi memadai menampung debit air.
Kondisi tersebut mendorong Kami (Pemerintah Kecamatan Jatinangor) bersama para kepala desa dan pelaku usaha menyepakati langkah kolaboratif untuk menelusuri titik utama penyebab banjir sekaligus merumuskan solusi bersama,” ujarnya
didampingi Kepala Desa Cibeusi, Cipacing, dan Sayang.
Camat menambahkan, dalam pengecekan tersebut pihaknya menyusuri sejumlah kawasan permukiman padat dan lingkungan usaha kos-kosan yang selama ini kerap terdampak genangan.
“Hari ini adalah salah satu contoh kerja sama yang baik. Pemerintah desa dan para pengusaha bersatu untuk menangani permasalahan banjir di Jatinangor,” ujar Herman Suwandi di sela kegiatan.
Menurut Herman, persoalan banjir tidak bisa diselesaikan dengan saling menyalahkan. Dibutuhkan kesadaran kolektif seluruh pihak untuk menjaga dan memperbaiki saluran air yang mengalami penyempitan.
“Kita tahu sejak Oktober curah hujan sangat tinggi, sementara saluran air semakin mengecil. Kalau tersumbat sampah, air pasti meluap. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Ia menambahkan, seluruh pihak telah sepakat untuk memperbaiki dan memperbesar kembali saluran air yang menyempit, baik melalui peran pengusaha maupun partisipasi warga.
Kepala Desa Cibeusi H. Jajang menekankan pentingnya penelusuran sumber persoalan banjir secara objektif.
“Kita harus benar-benar menelusuri titik utama banjir ini dari mana saja. Bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk memperbaiki bersama,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Cipacing Hj. Dede Juariah dan Kepala Desa Sayang Dodi Kurnaedi. Keduanya sepakat melibatkan pemilik kos-kosan serta pelaku usaha agar turut bertanggung jawab dalam pembenahan drainase lingkungan.
“Minimal banjir tidak terjadi lagi. Itu target kita bersama,” ujar Dodi.
Dukungan juga datang dari kalangan pengembang. Direktur Kerta Negara, Arfan, menegaskan komitmen pelaku usaha di Jatinangor untuk tidak bersikap pasif terhadap persoalan banjir.
“Kami sebagai pengembang tidak hanya melihat soal perizinan, tapi juga fakta di lapangan. Dengan isu banjir ini, kami siap melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab kami,” ujarnya.
Menurut Arfan, keterlibatan pengusaha merupakan bagian dari kolaborasi pentahelix, di mana pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha bergerak bersama untuk mencari solusi.
“Kalau tidak ada tindakan dan kolaborasi, masalah ini akan berlarut-larut. Kami hadir, gotong royong, dan siap mendukung selama itu positif untuk masyarakat,” pungkasnya. (tha)





