Oleh: H Ridwan Solichin, S.IP, MSi
RADARSUMEDANG.id — Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi ruang perenungan yang bermakna bagi sebuah gerakan politik dan sosial yang berorientasi pada pelayanan masyarakat untuk menata kembali arah perjuangannya. Momentum spiritual ini mengajak semua pihak untuk memperkuat nilai moral, memperdalam kepekaan sosial, serta meneguhkan tekad menghadirkan kehidupan berbangsa yang bermartabat dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan monumental Rasulullah Muhammad SAW, melainkan pesan besar tentang proses perubahan. Ia mengajarkan bahwa transformasi sejati tidak lahir secara instan, tetapi melalui kekuatan spiritual, kesabaran menghadapi ujian, serta keteguhan dalam memegang prinsip kebenaran. Dari peristiwa inilah umat Islam menerima perintah shalat—sebuah isyarat bahwa fondasi ruhiyah menjadi kekuatan utama dalam membangun kehidupan sosial, politik, dan peradaban.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Isra Mi’raj relevan dimaknai sebagai cermin atas kondisi Indonesia hari ini. Berbagai persoalan bangsa seperti krisis keadilan, kesenjangan sosial, melemahnya kepercayaan publik terhadap pemimpin, praktik korupsi, serta lunturnya etika dalam kehidupan publik menuntut solusi yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga spiritual dan moral. Isra Mi’raj mengingatkan bahwa perubahan besar harus dimulai dari pembenahan hati, niat, dan tanggung jawab pribadi, terutama bagi mereka yang memegang amanah kepemimpinan.
Bagi para pemimpin bangsa, Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan fasilitas. Sebagaimana Rasulullah SAW menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT, para pemimpin pun dituntut memiliki kesadaran vertikal—merasa selalu diawasi dan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kebijakan yang diambil. Kepemimpinan yang berlandaskan ketakwaan akan melahirkan keberanian untuk berlaku adil, kejujuran dalam mengelola kekuasaan, serta kepekaan terhadap penderitaan rakyat.
Sementara itu, bagi seluruh rakyat Indonesia, Isra Mi’raj menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai disiplin, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Shalat yang diperintahkan dalam peristiwa tersebut mengajarkan keteraturan, tanggung jawab, dan persatuan—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam merawat persaudaraan di tengah perbedaan suku, agama, dan pandangan politik. Bangsa yang kuat bukan hanya ditopang oleh sistem, tetapi oleh karakter warganya yang berakhlak, saling menghormati, dan siap bergotong royong.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan—mulai dari kesejahteraan masyarakat kecil, akses pendidikan dan kesehatan yang belum merata, hingga keterbatasan lapangan kerja—dibutuhkan kehadiran kekuatan sosial dan politik yang konsisten melayani, bukan sekadar mencari legitimasi kekuasaan. Isra Mi’raj menegaskan bahwa pelayanan yang tulus dan berkelanjutan adalah jalan untuk membangun kepercayaan dan menghadirkan perubahan yang dirasakan nyata oleh rakyat.
Nilai Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa setelah ujian yang berat, selalu ada harapan dan penguatan dari Allah SWT. Spirit inilah yang menjadi inspirasi untuk terus memperkuat barisan pengabdian, memperluas kerja-kerja sosial, serta menghadirkan solusi konkret bagi persoalan masyarakat. Kepercayaan publik tidak lahir dari retorika, melainkan dari keteladanan dan rekam jejak pelayanan yang konsisten.
Melalui momentum Isra Mi’raj ini, ditegaskan kembali arah perjuangan yang bertumpu pada tiga fondasi utama: penguatan nilai spiritual, pengokohan solidaritas sosial hingga ke akar rumput, serta keberlanjutan pelayanan yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Ketiganya menjadi kunci untuk membangun bangsa yang berkeadilan dan berkeadaban.
Perintah shalat yang diterima Rasulullah SAW juga sarat dengan nilai disiplin, kepemimpinan, dan kebersamaan. Nilai-nilai ini menjadi pedoman dalam menyiapkan pribadi-pribadi yang siap mengemban amanah sebagai pelayan publik, baik di ranah sosial, politik, maupun pemerintahan, dengan membawa praktik kepemimpinan yang bersih, profesional, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Diyakini bahwa perjuangan yang dijalankan dengan cara-cara bermartabat akan melahirkan keberkahan. Oleh karena itu, aktivitas sosial dan politik tidak semata ditujukan untuk meraih kekuasaan, tetapi untuk memastikan setiap amanah benar-benar digunakan demi kesejahteraan rakyat, penguatan keadilan sosial, serta terjaganya nilai-nilai moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan meneladani semangat Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, seluruh elemen bangsa diajak untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih adil, sejahtera, religius, dan bermartabat. Sebuah komitmen pelayanan diharapkan hadir sebagai jalan bersama—konsisten dalam pengabdian, kuat dalam nilai, dan teguh dalam memperjuangkan masa depan bangsa yang lebih baik.(*)
*)Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Jawa Barat





