Menjemput Taqwa Ramadhan, Memperkuat Ukhuwah di Era Digital Teknologi  

oleh

Oleh: KH. Dr. Ade Jamarudin, SS, MA

RADARSUMEDANG.id — Di tengah dinamika dunia tahun 2026 yang bergerak serba cepat, di mana teknologi kecerdasan buatan dan arus informasi digital mengepung nyaris setiap detik kehidupan kita, Ramadan hadir bukan sekadar sebagai rutinitas tahunan. Tidak terasa, putaran waktu membawa kita kembali ke ambang pintu bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Ia adalah “jeda besar” (the great pause) yang diberikan Allah SWT agar manusia kembali menemukan jati dirinya sebagai hamba.

Pada tahun 2026, tantangan terbesar manusia bukan lagi sekadar lapar dan haus, melainkan “pengepungan” informasi. Di era AI dan digitalisasi yang serba instan, pikiran kita sering kali terfragmentasi. Ramadan disebut sebagai The Great Pause (Jeda Besar)—sebuah momen untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk duniawi agar kita tidak kehilangan jati diri sebagai hamba Tuhan.

Persiapan Ramadan yang ideal tidak dimulai pada tanggal 1 Ramadan, melainkan sejak bulan Sya’ban. Para ulama salaf mengibaratkan Rajab sebagai bulan menanam benih, Sya’ban sebagai bulan menyiram tanaman, dan Ramadan sebagai bulan memanen hasil.

Bangunkan Spiritual di Bulan Sya’ban

Sebagai aktivis dan bagian dari umat, kita perlu bertanya: sudahkah kita “menyiram” hati kita? Kesiapan mental (istidad nafsiyyah) jauh lebih penting daripada sekadar kesiapan logistik. Mulailah dengan memperbanyak puasa sunnah dan tilawah di sisa hari bulan Sya’ban ini. Hal ini bertujuan agar saat memasuki hari pertama Ramadan, tubuh dan jiwa kita tidak lagi mengalami “kaget ibadah,” melainkan sudah dalam kondisi panas (warm-up) yang optimal.

Tahun 2026 menyajikan tantangan yang unik. Distraksi digital kini lebih canggih dari sebelumnya. Jika dahulu godaan puasa adalah aroma makanan di siang hari, kini godaan yang tak kalah berat adalah “makanan bagi mata dan pikiran” di layar gawai kita. Ramadan tahun ini harus menjadi momentum bagi kita untuk melakukan Digital Detox. Mari kita berkomitmen untuk membatasi waktu layar (screen time) yang tidak produktif. MUI Sumedang senantiasa menghimbau agar umat Islam lebih bijak dalam menyaring informasi. Jangan sampai pahala puasa kita gugur hanya karena jempol yang terlalu ringan membagikan berita yang belum jelas kebenarannya (tabayyun) atau terjebak dalam ghibah digital di kolom komentar.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

Secara tradisional, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Namun, di tahun 2026, “konsumsi” manusia bukan lagi sekadar makanan fisik, tapi juga informasi.

Digital Detox di sini berarti membatasi diri dari penggunaan gawai (gadget) yang berlebihan. Tujuannya agar fokus manusia kembali kepada Allah (Hablum Minallah). Jika waktu habis hanya untuk scrolling media sosial, maka esensi Ramadan sebagai bulan peningkatan intensitas ibadah (seperti Tadarus dan I’tikaf) akan tergerus oleh distraksi layar.

Jempolnya Puasa: “Gugurnya Pahala Puasa”

Pernyataan ini merujuk pada prinsip bahwa puasa bukan hanya soal sahnya (menahan lapar), tapi juga soal penerimaannya di sisi Allah. Ghibah Digital: Menulis atau membaca komentar yang menjatuhkan kehormatan orang lain di media sosial memiliki dosa yang sama dengan ghibah lisan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Di era sekarang, “penyebab utama” kesia-siaan itu seringkali datang dari interaksi buruk di ruang digital.

Tabayyun: Kewajiban Verifikasi Informasi

MUI menekankan pentingnya Tabayyun (cek dan ricek) sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6. Di bulan Ramadan, setan dibelenggu, namun nafsu manusia untuk menyebarkan berita menarik (meskipun hoaks atau fitnah) tetap ada. Jempol yang ringan maksudnya adalah kemudahan kita membagikan (share) informasi tanpa memikirkan dampaknya. Dalam pandangan Islam, menyebarkan kebohongan—meskipun kita tidak tahu itu bohong—tetaplah sebuah dosa yang bisa menghapus keberkahan puasa.

MUI secara tegas mengharamkan aktivitas memproduksi, menyebarkan, dan/atau memfasilitasi akses terhadap konten yang berisi ghibah, fitnah, namimah (adu domba), serta penyebaran hoaks. Jangan sampai pahala puasa kita gugur hanya karena jempol yang terlalu ringan membagikan berita yang belum jelas kebenarannya (tabayyun) atau terjebak dalam ghibah digital di kolom komentar. Ingatlah, di hadapan Allah, jejak digital kita adalah catatan amal yang akan dimintai pertanggungjawabannya.” MUI senantiasa menghimbau agar umat Islam lebih bijak dalam menyaring informasi. Hal ini merupakan perintah langsung dari Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Di bulan Ramadan, di mana kejujuran menjadi fondasi utama ibadah, melakukan tabayyun adalah bentuk nyata dari pengabdian kita kepada-Nya. Jangan sampai puasa kita yang sudah payah dijaga dari lapar dan dahaga, justru rusak karena kita menjadi bagian dari penyebar fitnah di dunia maya.”

Penutup

Ramadan 2026 adalah kesempatan emas untuk melakukan reboot total atas sistem kehidupan kita. Mari jadikan masjid-masjid kita tidak hanya ramai secara fisik, tetapi juga makmur secara substansi dengan kajian-kajian yang mendalam dan amal sosial yang berdampak. Semoga Allah SWT menyampaikan usia kita ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal’afiat, penuh keimanan, dan kekuatan untuk menjalankan segala ketaatan. Amin.

“Sya’ban adalah jembatan, Ramadan adalah tujuan. Jangan sampai kita tiba di tujuan dengan jiwa yang masih lelah oleh urusan dunia. Mari mulai ‘berkemas’ dari sekarang.”

“Puasa tahun ini bukan sekadar menahan lapar yang terasa di perut, tapi juga menahan jari agar tak menyebar fitnah di layar. Bersihkan hati, murnikan jempol, raih ridho Ilahi.” (*)

*)Pengurus MUI Sumedang/ Dewan Ahli ISNU Sumedang

No More Posts Available.

No more pages to load.