Banjir Tomo Sumedang Rendam 370 Rumah dan SMPN 2 Tomo, Air Capai 2 Meter

oleh
Siswa SMPN 2 Tomo gotong royong mengangkat meja dan membersihkan lumpur sisa banjir, Kamis (12/2). Banjir melanda tiga desa di Kecamatan Tomo. (Agun Gunawan / Radar Sumedang)

RADARSUMEDANG.id, TOMO – Sebanyak 370 rumah di tiga desa di Kecamatan Tomo terendam banjir pada Kamis dini hari (12/2). Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Rabu sore, menyebabkan Sungai Cilutung, Cisaar Lanang, dan Cisaar Wadon meluap.

Tiga desa yang terdampak yakni Desa Darmawangi, Marongge, dan Tolengas. Air datang cukup deras dan cepat meninggi hingga masuk ke dalam rumah warga. Sejumlah warga sempat panik karena tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka.

Selain permukiman, banjir juga merendam beberapa sekolah dasar dan SMP Negeri 2 Tomo. Aktivitas belajar mengajar sempat terhenti karena ruang kelas dipenuhi air dan lumpur.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang langsung turun ke lokasi setelah menerima laporan. Tim melakukan patroli menggunakan perahu karet untuk memantau kondisi warga dan memastikan tidak ada korban jiwa.

Warga Desa Darmawangi, Wawan (46), mengatakan banjir mulai masuk ke permukiman sekitar pukul 23.00 WIB. Di beberapa titik, ketinggian air mencapai dua meter, terutama di wilayah yang lebih rendah.

“Di ujung sana ada yang sampai dua meter karena datarannya lebih rendah. Di sini sekitar 40 sentimeter masuk ke rumah. Semakin ke sana makin tinggi, tapi ada juga yang tidak sampai masuk rumah,” ujarnya saat membersihkan lumpur, Kamis pagi (12/2).

Meski air sempat tinggi, warga Desa Darmawangi tidak sampai mengungsi. Air mulai surut sekitar pukul 01.00 WIB atau dua jam setelah merendam permukiman.

“Jam 01.00 WIB mulai surut. Tidak ada yang dievakuasi, malam hanya petugas patroli pakai perahu karet,” tambahnya.

Di SMPN 2 Tomo, sebanyak 300 siswa terpaksa menghentikan kegiatan belajar. Mereka bersama guru bergotong royong membersihkan ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan ruang guru dari lumpur sisa banjir.

Kepala SMPN 2 Tomo, Sofwan Gozali, mengatakan pihak sekolah memprioritaskan pembersihan ruang belajar agar kegiatan belajar bisa kembali normal.

“Yang penting ruang belajar dibereskan hari ini supaya besok bisa digunakan lagi. Untuk ruang seperti laboratorium komputer kemungkinan butuh waktu lebih lama karena ada karpet,” ujarnya.

Menurutnya, ketinggian air di ruang kelas mencapai sekitar 40 sentimeter. Beruntung, petugas piket sempat mengamankan sejumlah dokumen dan peralatan penting saat air mulai naik.

“Begitu air naik, piket langsung mengamankan barang-barang penting. Hanya karpet di ruang komputer yang perlu waktu sekitar dua hari untuk dibersihkan,” katanya.

Sofwan menambahkan, banjir bukan kali pertama terjadi di wilayah tersebut. Biasanya banjir datang dalam siklus lima tahunan, namun kali ini kembali terjadi setelah tiga tahun.

“Biasanya lima tahunan, tapi sekarang baru tiga tahun sudah banjir lagi. Air dari tiga sungai naik bersamaan,” imbuhnya.

Berdasarkan data sementara BPBD Kabupaten Sumedang, di Desa Darmawangi banjir merendam 20 rumah di RW 2, 67 rumah di RW 3, dan 60 rumah di RW 4, dengan total sedikitnya 147 kepala keluarga terdampak.

Di Desa Marongge, banjir merendam 7 rumah di RW 1, 41 rumah di RW 2, serta 4 rumah dan satu masjid di RW 3. Di RW 4, sebanyak 11 rumah terdampak, termasuk satu posyandu dan satu PAUD.

Sementara di Desa Tolengas, tepatnya Dusun 2 Citele, tercatat 160 kepala keluarga terdampak. Hingga Kamis siang, warga masih membersihkan sisa lumpur di rumah dan fasilitas umum. (gun)

No More Posts Available.

No more pages to load.