RADARSUMEDANG.id – Blusukan Kang Dedi Mulyadi (KDM) di Kecamatan Parigi berubah panas setelah seorang ayah menghampirinya sambil ngos-ngosan untuk melaporkan skandal besar.
tabungan siswa SD senilai Rp2,5 miliar tidak pernah dikembalikan selama empat tahun terakhir.
Kasus ini diduga melibatkan kepala sekolah hingga koperasi PGRI yang telah bangkrut.
Warga tersebut mengungkapkan bahwa uang tabungan anak-anak awalnya disimpan melalui guru kelas, kemudian dititipkan kepada kepala sekolah.
Namun yang mengejutkan, dana itu justru dipinjamkan ke koperasi PGRI.
“Jumlah tabungannya 2 miliar seteng, Pak,” ujar sang ayah, dikutip Pojoksatu.id dari Kang Dedi Mulyadi Channel.
Ia menambahkan, “Katanya dipinjamkan ke guru-guru, tapi saya minta catatan utangnya enggak dikasih.”
KDM terlihat terkejut mendengar detail tersebut, bahkan sempat kebingungan.
“Saya tadi bingung sama Bapak 2 miliar seteng tidak dibayar,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa transaksi uang sekolah seharusnya memiliki sistem administrasi jelas, bukan berpindah tangan tanpa pencatatan resmi.
Yang lebih menyakitkan, beberapa orang tua mengaku hanya menerima pengembalian sekitar 10 persen dari tabungan anak mereka.
“Rp10 juta baru dibayar Rp1 juta,” kata warga itu, menjelaskan bahwa anaknya kini sudah duduk di bangku SMP namun tabungannya tak kunjung tuntas.
KDM langsung merespons cepat. Ia memastikan akan memeriksa kasus ini melalui lembaga pengawas pemerintah.
“Nanti saya periksa ya lewat Inspektorat,” ujarnya. Ia menegaskan pentingnya kepastian hukum demi melindungi hak anak-anak sekolah.
Warga yang merasa ditelantarkan sekolah pun meluapkan kekecewaannya. “Saya orang kecil, Pak,” kata sang ayah.
Berharap KDM menjadi jalan keluar setelah empat tahun tanpa kejelasan.
Skandal ini diduga melibatkan banyak SD di Parigi, termasuk Karang Jaladri.
Jika benar, kasus ini menjadi satu dari dugaan penyalahgunaan dana pendidikan terbesar di tingkat sekolah dasar.(net)





