RADARSUMEDANG.ID — Kegiatan penanaman jagung serentak Kuartal I Tahun 2026 dilaksanakan di lahan PTPN, Desa Palabuan, Ujungjaya, Sabtu 7 Maret 2026 sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Kegiatan tersebut melibatkan sinergi antara Polda Jawa Barat, pemerintah daerah, TNI, perbankan, dunia usaha, serta kelompok tani.
Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Rudy Setiawan, mengatakan program ini menjadi bagian dari upaya optimalisasi lahan pertanian serta penguatan ekosistem pertanian yang berkelanjutan di Jawa Barat.
Yang mana berdasarkan pemaparan Perum Bulog, target penyerapan produksi di Jawa Barat terus meningkat. Pada tahun 2025 target per bulan mencapai 205 ton, sementara pada tahun 2026 meningkat menjadi 323 ton per bulan.
“Progresnya cukup signifikan. Dalam pembukuan kami sudah mencapai 1.744 ton. Saat ini produksi di Jawa Barat mencapai sekitar 88 ton per hari, dan kami mendorong agar angka ini terus ditingkatkan karena potensi petani di Jawa Barat sangat besar,” kata Kapolda.
Ia juga mengingatkan agar lahan sawah tetap dipertahankan dan tidak dialihfungsikan secara sembarangan.
Selain itu, harga pupuk saat ini disebut sudah mengalami penurunan hingga sekitar 20 persen sehingga diharapkan dapat membantu meringankan biaya produksi petani.
Program penanaman jagung tersebut juga memanfaatkan lahan milik PT Perkebunan Nusantara di wilayah Ujungjaya, Sumedang.
Kapolda menjelaskan, saat ini sekitar 1.200 hektare lahan dikelola oleh kelompok tani binaan Polda Jawa Barat melalui kerja sama dengan PTPN dan Perhutani. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ekonomi petani.
Menurutnya, sebelumnya petani kerap menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait pembiayaan. Kondisi tersebut sering dimanfaatkan oleh tengkulak ketika kelompok tani mengalami kesulitan modal.
Namun sejak empat bulan terakhir, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) mulai masuk dan memberikan akses pembiayaan kepada petani. Di Kabupaten Sumedang sendiri, penyaluran KUR telah mencapai sekitar Rp440 miliar.
Melalui dukungan perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), petani bahkan bisa mendapatkan pinjaman hingga Rp100 juta tanpa agunan dengan bunga sekitar lima persen.
Kapolda menjelaskan sistem pembiayaan yang diterapkan menggunakan mekanisme ekosistem tertutup. Dana KUR yang diterima petani tidak langsung dicairkan dalam bentuk uang tunai, melainkan disalurkan kepada pihak ketiga untuk kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan), bibit, serta sarana produksi lainnya agar tidak disalahgunakan.
Selain itu, dukungan dari dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) juga diarahkan dalam bentuk bantuan bibit, alsintan, dan pupuk, bukan sekadar bantuan dana.
“Dengan pola ini petani lebih terbantu karena kebutuhan produksi langsung tersedia,” ujarnya.
Ia menambahkan, program tersebut juga memberikan potensi keuntungan bagi petani sekitar Rp30 juta setiap periode tanam selama empat bulan.
Polda Jawa Barat juga mengembangkan inovasi melalui Satgas Pangan berupa program zero waste, yakni memanfaatkan sampah organik dari perkantoran sebagai media tanam untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Hingga awal Maret 2026, Polda Jabar bersama jajaran dan mitra telah mengoptimalkan potensi penanaman jagung seluas 21.190 hektare.
Dari jumlah tersebut, penanaman serentak yang dilaksanakan hari ini mencapai 433,76 hektare yang tersebar di 23 Polres jajaran.
“Program ini diharapkan mampu memperkuat sektor pertanian, meningkatkan produktivitas petani, sekaligus mendukung stabilitas ekonomi serta ketahanan pangan nasional,” jelas Kapolda (jim)
Kapolda Jabar, Irjen Pol Rudy Setiawan saat menabur bibit jagung disela penanaman jagung serentak Kuartal I Tahun 2026 di lahan PTPN Desa Palabuan, Kecamatan Ujungjaya, Sabtu 7 Maret 2026.(Panji/Radar Sumedang)





