Oleh: Naurah Shafa Rasiyah Rambe
RADARSUMEDANG.id — Jeruk bali adalah buah yang memiliki banyak khasiat. Jeruk bali mengandung banyak vitamin C. Selain itu, jeruk bali sering kali digunakan sebagai menu diet karena memiliki kalori yang rendah tetapi mengandung protein serta banyak serat. Jeruk bali juga mengandung berbagai antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Antioksidan ini membantu melawan radikal bebas, yaitu molekul tidak stabil yang dapat merusak sel dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, jeruk bali ternyata dapat memengaruhi cara kerja beberapa obat di dalam tubuh.
Penelitian dalam Journal of Applied Pharmaceutical Science menjelaskan bahwa jeruk bali mengandung senyawa tertentu yang dapat menghambat kerja enzim yang memetabolisme beberapa jenis obat di usus yang bernama Cytochrome P450 3A4 (CYP3A4). Ketika obat dikonsumsi, obat tidak langsung bekerja di dalam tubuh. Akan tetapi, obat akan dicerna dan dipecah terlebih dahulu agar dapat digunakan atau dikeluarkan oleh tubuh.
Enzim CYP3A4 membantu memecah dan memetabolisme obat sehingga kadar obat yang berada di dalam tubuh berada dalam batas aman. Proses ini sangat penting karena setiap obat memiliki dosis tertentu yang harus dijaga agar obat tidak memiliki kadar yang terlalu tinggi dalam tubuh. obat dimetabolisme terlebih dahulu agar kadarnya tetap berada pada tingkat yang efektif dan tidak menimbulkan efek samping berbahaya.
Saat kerja enzim CYP3A4 ini terhambat, tubuh memiliki waktu lebih lama untuk memetabolisme obat. Obat yang dimetabolisme dengan lambat dapat menumpuk sehingga kadar obat dalam darah meningkat. Hal ini berbahaya karena dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Namun, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa efek samping dari interaksi antara jeruk bali dan obat tidak selalu menghasilkan efek yang sama.
Dalam beberapa kasus, interaksi yang terjadi menjadikan kadar obat yang menjadi lebih rendah di dalam tubuh. Ketika kadar obat menjadi lebih rendah, obat mungkin tidak dapat bekerja dan memiliki efek yang efektif terhadap tubuh. Efek yang terjadi sulit diprediksi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi genetik, usia, lingkungan, serta perbedaan jenis kelamin dan hormon pada setiap individu.
Sebagai contoh dari perbedaan faktor yang dapat menimbulkan efek yang berbeda, dua orang dapat mengonsumsi obat yang sama dengan dosis yang sama serta sama-sama mengonsumsi jeruk bali. Namun, efek yang terjadi pada tubuh mereka bisa berbeda. Pada satu orang, konsumsi jeruk bali dapat menghambat aktivitas enzim Cytochrome P450 3A4 (CYP3A4) secara lebih kuat sehingga kadar obat di dalam tubuh meningkat dan berpotensi menimbulkan efek samping yang serius, seperti gangguan irama jantung. Sementara pada orang lain, efek penghambatan tersebut mungkin tidak terlalu besar sehingga perubahan kadar obat di dalam tubuh tidak terlalu signifikan.
Tidak semua obat memiliki interaksi dengan jeruk bali. Namun, beberapa jenis obat tertentu diketahui dapat berinteraksi dengan buah ini, terutama obat yang dimetabolisme oleh enzim Cytochrome P450 3A4. Interaksi ini dapat memengaruhi kadar obat di dalam tubuh sehingga meningkatkan risiko efek samping.
Menurut penjelasan dari U.S. Food and Drug Administration, diketahui beberapa obat dapat berinteraksi dengan jeruk bali. Beberapa obat di antaranya adalah obat penurun kolesterol golongan statin seperti simvastatin dan atorvastatin. Selain itu, obat untuk tekanan darah tinggi seperti nifedipine, obat untuk mencegah penolakan organ transplantasi seperti cyclosporine, serta obat anti-kecemasan seperti buspirone juga dapat berinteraksi dengan jeruk bali. Interaksi serupa juga dapat terjadi pada beberapa obat lain, seperti kortikosteroid budesonide yang digunakan untuk penyakit radang usus, obat gangguan irama jantung seperti amiodarone, serta antihistamin seperti fexofenadine.
Interaksi antara makanan dan obat sebenarnya tidak hanya terjadi pada jeruk bali. Beberapa jenis makanan lain juga dapat memengaruhi cara tubuh memetabolisme obat. Misalnya, sayuran seperti brokoli dan kubis diketahui dapat memengaruhi aktivitas enzim metabolisme obat lainnya, seperti Cytochrome P450 1A2. Perubahan aktivitas enzim ini dapat menyebabkan obat yang dimetabolisme oleh enzim CYP1A2 lebih cepat sehingga kadar obat di dalam tubuh menjadi lebih rendah dan efeknya berkurang. Sehingga penting bagi pasien untuk memperhatikan kemungkinan interaksi antara makanan dan obat yang dikonsumsi.
Untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan, pasien perlu memerhatikan beberapa hal berikut:
- Tanyakan kepada dokter atau apoteker apakah obat yang dikonsumsi dapat berinteraksi dengan jus jeruk bali atau makanan dan minuman tertentu lainnya.
- Baca panduan penggunaan atau lembar informasi pasien yang disertakan pada obat resep untuk mengetahui kemungkinan interaksi dengan jus jeruk bali atau makanan dan minuman tertentu lainnya.
- Periksa label Informasi Obat pada obat bebas untuk melihat apakah terdapat peringatan mengenai konsumsi jus jeruk bali atau makanan dan minuman tertentu lainnya.
- Jika dianjurkan untuk menghindari jus jeruk bali, periksa juga label minuman atau produk yang mengandung jus buah untuk memastikan tidak mengandung jeruk bali.
- Beberapa buah lain seperti jeruk Seville, pomelo, dan tangelo juga dapat memberikan efek yang mirip dengan jeruk bali, sehingga sebaiknya dihindari jika obat yang dikonsumsi diketahui berinteraksi dengan jus jeruk bali.
Dengan memperhatikan langkah-langkah sederhana ini, risiko interaksi obat dengan jus jeruk bali dapat diminimalkan, sehingga pengobatan tetap aman dan efektif.(*)
*)Mahasiswa Jurusan Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta






