Pasca Banjir Bandang, Kades Cisampih Tegaskan Tidak Ada Illegal Logging di Kawasan Gunung Jagat

oleh
oleh
FOR RADARSUMEDANG.ID DIBERSIHKAN: Pasca bencana banjir bandang pada Sabtu (28/3) sore, sejumlah sudut wilayah Desa Cisampih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang sudah kembali dibersihkan oleh warga masyarakat bersama aparat

RADARSUMEDANG.ID – Bencana banjir bandang yang telah terjadi di wilayah Desa Cisampih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang pada Sabtu (28/3) sore, murni terjadi akibat cuaca ekstrim. Penjelasan itu disampaikan Kepala Desa Cisampih, Yanti Yulianti melalui pesan WhatsApp (WA) yang diterima RADARSUMEDANG.ID pada Senin, 30 Maret 2026.

 

Dia menjelaskan, wilayah Desa Cisampih berada di kemiringan. “Kalau hujan terus-terusan turun dengan intensitas tinggi, seluruhnya rawan longsor,” ucap Kades.

 

Lokasi longsor itu berada jauh di bawah Gunung Jagat. “Kalau penebangan liar di kawasan Gunung Jagat, seperti yang diisukan itu, tidak benar,” tegasnya.

 

Lebih lanjut Kades mengklarifikasi bahwa lokasi longsor itu tanah milik warga di kaki Gunung Jagat yang terletak jauh di bawah. “Saya tekankan tidak ada illegal logging atau penebangan liar di kawasan Gunung Jagat, silahkan bisa dicek,” pungkasnya.

 

Hingga berita ini disusun, dilaporkan tidak ada bencana longsor susulan. “Susulan Alhamdulillah tidak ada, pada sehat semua,” tutup Kades seraya menambahkan, untuk total kerugian masih dalam pendataan pihak terkait.

 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, banjir bandang melanda permukiman warga di Dusun Cisampih, Desa Cisampih pada Sabtu (28/3) petang. Derasnya arus air yang datang secara tiba-tiba membuat warga panik.

 

Salah seorang warga, Ali Sopian mengatakan, banjir terjadi setelah wilayah Sumedang diguyur hujan deras disertai angin kencang sejak pukul 15.00 WIB. “Hujan deras sekitar dua jam, air turun dari gunung, sementara sungainya kecil sehingga mampet di gorong-gorong dan akhirnya meluap ke permukiman,” kata Ali.

 

Air yang datang membawa lumpur sempat masuk ke dalam rumah warga dengan ketinggian lebih dari satu meter. Sementara itu, Ketua RT setempat, Karmadi, menyebutkan akibat peristiwa tersebut sekitar 25 rumah warga, satu masjid, serta satu bangunan posyandu sempat terendam.

 

Beruntung, banjir tidak berlangsung lama dan langsung surut seiring meredanya hujan. Selain faktor cuaca ekstrem, banjir juga diduga dipicu oleh aktivitas penebangan pohon di kawasan Gunung Jagat.

 

“Ada penebangan di atas, meskipun lahannya milik warga. Lumpur juga datang dari arah Gunung Jagat,” imbuhnya. Warga mengaku khawatir kejadian serupa kembali terjadi, terutama saat hujan turun kembali karena masih terdapat potensi longsoran kecil di bagian atas. (tri)

No More Posts Available.

No more pages to load.