Oleh: Imadudin, S.Ag
RADARSUMEDANG.id — Setiap peringatan Hari Jadi Sumedang, kita dihadapkan pada dua rasa yang kerap datang bersamaan: bangga dan getir. Bangga karena Sumedang adalah tanah yang sarat sejarah, kaya nilai budaya, dan memiliki identitas kuat sebagai daerah yang pernah mencapai kejayaan. Namun di sisi lain, ada rasa “melang”—kecewa dan prihatin—ketika kita menyaksikan praktik-praktik yang mencederai nilai luhur tersebut.
Rasa “melang” itu muncul bukan tanpa alasan. Ketika masih ada oknum, baik dari kalangan pejabat maupun di luar struktur pemerintahan, yang lebih mementingkan kepentingan pribadi melalui korupsi atau gratifikasi, maka sesungguhnya kita sedang mengkhianati jati diri Sumedang itu sendiri. Sebuah daerah yang lahir dari semangat pengorbanan dan perjuangan, tidak seharusnya dikotori oleh perilaku yang merusak kepercayaan publik.
Padahal, sejarah telah memberi kita teladan yang begitu kuat. Kita tentu tidak bisa melupakan bagaimana perjuangan membangun Jalan Cadas Pangeran pada masa kolonial Belanda. Dengan penuh pengorbanan, bahkan darah dan nyawa, jalan itu dibangun demi membuka akses transportasi dan menggerakkan roda perekonomian antara Sumedang dan Bandung. Hingga kini, jalan tersebut menjadi jalur penting lintas provinsi. Semangat kolektif dan pengorbanan itulah yang seharusnya menjadi cermin bagi generasi saat ini.
Sumedang bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang peradaban yang memiliki akar sejarah panjang sejak masa Kerajaan Sumedang Larang. Berawal dari Tembong Agung pada abad ke-8, berkembang menjadi kerajaan yang mencapai puncak kejayaan pada masa Pangeran Geusan Ulun, dan secara resmi berdiri pada 22 April 1578. Filosofi yang melekat dalam nama Sumedang, yakni “Insun Medal, Insun Madangan”—aku dilahirkan untuk menerangi—mengandung makna yang dalam: bahwa setiap insan Sumedang memiliki tanggung jawab moral untuk membawa cahaya kebaikan bagi lingkungannya.
Nilai filosofis ini seharusnya tidak berhenti sebagai slogan atau warisan sejarah semata. Ia harus hidup dalam praktik keseharian, terutama dalam tata kelola pemerintahan dan pembangunan daerah. Sumedang akan benar-benar “gemilang” bukan hanya karena infrastruktur yang megah atau pertumbuhan ekonomi semata, tetapi karena hadirnya keadilan, pemerataan, dan integritas dalam setiap lini kehidupan.
Transformasi dari kerajaan menjadi kabupaten modern adalah perjalanan panjang yang penuh dinamika. Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi: kejujuran, pengabdian, dan semangat melayani. Hari Jadi Sumedang seharusnya menjadi momentum refleksi bersama—apakah kita sudah berjalan di jalur yang benar, atau justru semakin menjauh dari jati diri tersebut?
Sudah saatnya rasa “melang” itu kita ubah menjadi energi untuk berbenah. Bukan dengan saling menyalahkan, tetapi dengan memperkuat komitmen bersama. Para pemangku kebijakan harus menunjukkan keteladanan, masyarakat harus berani bersuara, dan seluruh elemen harus bersinergi dalam membangun Sumedang yang bersih dan berintegritas.
Jika semangat pengorbanan seperti pada masa pembangunan Cadas Pangeran dapat kita hidupkan kembali—meski dalam bentuk yang berbeda—maka bukan hal mustahil Sumedang akan kembali bersinar. Sumedang yang bukan hanya gemilang dalam narasi, tetapi juga dalam kenyataan.
Pada akhirnya, pertanyaan penting bagi kita semua adalah: apakah kita ingin terus terjebak dalam rasa “melang”, atau bersama-sama mewujudkan Sumedang yang benar-benar “gemilang”? Jawabannya ada pada tindakan kita hari ini.(*)
*)Kepala MTs Istigfarlah Sumedang






