- Warga dan organisasi lingkungan gelar doa bersama di kaki Gunung Tampomas.
- Kegiatan tandai 17 tahun penolakan proyek geothermal.
- Berlangsung di Wisata Cipanas Cileungsing, Buahdua.
- Petisi berisi dua tuntutan kepada Pemkab dan Gubernur Jabar.
- Warga khawatir proyek berdampak pada lingkungan dan sosial.
BUAHDUA – Memperingati Hari Jadi ke-448 Sumedang, sejumlah organisasi peduli lingkungan Tampomas menggelar doa bersama dan diskusi di Wisata Cipanas Cileungsing, Desa Cilangkap, Kecamatan Buahdua, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus menandai 17 tahun penolakan terhadap rencana proyek panas bumi (geothermal) di kaki Gunung Tampomas.
Acara ini diikuti berbagai organisasi, di antaranya Paguyuban Nafas Tampomas (Panas), Rukun Wargi Sumedang (RWS), Maung Muda Pasundan, Ghabah, Padepokan Legok Wangi, Padepokan Tembong Agung, serta masyarakat sekitar.
Selain doa bersama, kegiatan diisi dengan pelaksanaan Rajah Kasumedangan, paparan sejarah perjuangan, pemaparan dari sejumlah komunitas seperti Rizoma, Tren Asia, dan Gunung Institut, hingga sesi tanya jawab serta pembacaan petisi penolakan proyek geothermal.
Tokoh masyarakat Desa Cilangkap, Eme, menyampaikan bahwa masyarakat bersama organisasi lingkungan menyuarakan dua poin utama dalam petisi tersebut.
“Poin pertama, meminta Pemerintah Kabupaten Sumedang untuk segera menghentikan penawaran proyek panas bumi Tampomas kepada pihak pengusaha. Poin kedua, meminta Gubernur Jawa Barat untuk turun langsung menemui warga,” ujarnya.
Menurutnya, petisi tersebut disampaikan sebagai bentuk perhatian sekaligus bahan pertimbangan bagi pemerintah sebelum proyek dijalankan.
Ia juga menilai, rencana proyek geothermal di kawasan kaki Gunung Tampomas berpotensi menimbulkan dampak sosial, termasuk perpecahan di tengah masyarakat antara yang mendukung dan menolak.
“Kami khawatir jika proyek ini tetap berjalan, akan menimbulkan perpecahan sosial serta berdampak pada kelestarian lingkungan, terutama sumber air dan hutan di sekitar Gunung Tampomas,” ucapnya.
(gun)





