Kirab Mahkota Binokasih dan Integritas Bangsa: Jihad MUI Sumedang Melawan Korupsi 2026

oleh

Oleh: Dr. Ade Jamarudin, SS, MA

RADARSUMEDANG.ID, KOTA — Sumedang tahun 2026 berdiri di persimpangan jalan yang paradoks. Di satu sisi, kita menyaksikan kemegahan Kirab Mahkota Binokasih, sebuah tradisi agung yang membawa kita kembali pada memori kejayaan Prabu Geusan Ulun dan keluhuran budaya Pajajaran. Di sisi lain, atmosfir tatar pertiwi kita sedang sesak oleh awan mendung isu korupsi yang melanda pusat-pusat kebijakan. Kasus korupsi proyek Penerangan Jalan Umum (PJU) dan penyalahgunaan anggaran infrastruktur yang menjadi perbincangan hangat di kedai-kedai kopi hingga ruang sidang, adalah luka yang menganga di tubuh Sumedang.

Sebagai pengurus MUI, kita harus bertanya: Apa artinya mengarak mahkota emas seberat 8 kilogram itu jika di saat yang sama, amanah rakyat digadaikan demi keuntungan pribadi? Kirab Binokasih bukan sekadar tontonan sejarah, melainkan “tuntunan” moral. Kirab ini adalah milangkala (hari jadi) yang seharusnya menjadi momentum muhasabah massal, sebuah jihad konstitusional dan spiritual untuk membersihkan Sumedang dari tangan-tangan jahil yang menggerogoti harta ummat.

Filosofi Binokasih dan Jihad Melawan Rasuah

Mahkota Binokasih Sanghyang Pake memiliki nama yang berasal dari kata “Bino” (penerang/cahaya) dan “Kasih” (sayang). Secara filosofis, mahkota ini melambangkan bahwa pemimpin harus menjadi cahaya yang memberikan kasih sayang kepada rakyatnya. Namun, kondisi Sumedang tahun 2026 menunjukkan sebuah ironi yang menyakitkan. Bagaimana mungkin “Cahaya Binokasih” bisa bersinar jika proyek-proyek penerangan jalan justru menjadi ladang bancakan korupsi? Proyek yang seharusnya menerangi jalan-jalan di pelosok Rancakalong atau Surian agar rakyat aman beraktivitas, justru padam akibat gelapnya nurani para koruptor.

Dalam pandangan Islam, korupsi adalah ghulul (pengkhianatan terhadap amanah) dan suhth (harta haram). MUI Sumedang memandang bahwa melawan korupsi di tahun 2026 ini adalah bentuk Jihad Fii Sabilillah. Jihad ini tidak lagi menggunakan pedang, melainkan menggunakan pena fatwa, lisan dakwah, dan ketegasan sikap moral. Kita tidak boleh membiarkan marwah Insun Medal Insun Madangan—Aku lahir untuk memberi penerangan—berubah menjadi Insun Medal Insun Madang (Aku lahir untuk makan/serakah).

Budaya Sumedang yang kental dengan konsep Papat Kalima Pancer mengajarkan keseimbangan. Ketika salah satu unsur, yakni kepemimpinan, sudah goyah akibat keserakahan, maka keseimbangan tatanan masyarakat akan hancur. Korupsi bukan sekadar kerugian negara secara nominal rupiah; ia adalah penghinaan terhadap leluhur Sumedang Larang yang telah mewariskan tata krama, integritas, dan kejujuran. Setiap rupiah yang dikorupsi adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai Nyunda yang kita banggakan dalam setiap helatan kirab budaya.

MUI Sumedang menegaskan bahwa kesalehan seorang pejabat tidak hanya diukur dari seberapa sering ia hadir di barisan depan saat doa bersama, tetapi dari seberapa bersih tangannya dari menandatangani kebijakan yang merugikan rakyat. Kita harus mengembalikan integritas sebagai panglima. Kirab Mahkota Binokasih tahun 2026 harus menjadi garis pembatas yang tegas: antara mereka yang benar-benar menjaga warisan leluhur dan mereka yang hanya menjadikan budaya sebagai topeng untuk menutupi borok moralitas.

Mengembalikan Marwah Tatar Sumedang

Menutup orasi moral ini, marilah kita maknai Milangkala Sumedang tahun 2026 bukan sebagai pesta pora seremonial belaka. Mahkota Binokasih yang diarak mengelilingi kota adalah simbol bahwa kekuasaan itu melingkar dan akan kembali kepada sumbernya, yaitu rakyat dan Allah SWT. Kekuasaan hanyalah pinjaman singkat, sebagaimana mahkota yang berpindah dari satu kepala ke kepala lainnya sepanjang sejarah.

MUI Sumedang menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat dan aparat penegak hukum untuk tidak kendor dalam mengusut tuntas setiap praktik lancung yang merugikan daerah. Korupsi adalah parasit yang membunuh pohon keberkahan. Jika kita membiarkan korupsi merajalela, maka Kirab Binokasih hanya akan menjadi parade kosong tanpa jiwa.

Mari kita jadikan spirit milangkala ini sebagai momentum kebangkitan integritas. Biarlah Mahkota Binokasih tetap menjadi simbol kemuliaan, dan biarlah kejujuran menjadi cahaya yang sesungguhnya menerangi jalan-jalan di Sumedang, melampaui redupnya lampu-lampu PJU yang terhambat korupsi. Semoga Allah SWT membersihkan tanah Sumedang dari para pengkhianat amanah dan mengembalikan kejayaan tatar kita sebagai daerah yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.(*)

*)Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumedang/ Dosen UIN Bandung

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.