BERITA SINGKAT
- Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mulai Milangkala Tatar Sunda 2026 di Sumedang.
- Mahkota Binokasih diserahkan dan diarak keliling delapan daerah di Jabar.
- Prosesi dikemas dengan nuansa budaya tradisional tanpa kendaraan modern.
- Puncak acara akan digelar di Gedung Sate, Kota Bandung.
- Kegiatan dinilai berdampak positif bagi ekonomi lokal dan UMKM.
RADARSUMEDANG.id, KOTA — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi resmi memulai rangkaian peringatan Milangkala Tatar Sunda 2026 dengan menyerahkan Mahkota Binokasih di Keraton Sumedang Larang, Sabtu (2/5) sore.
Prosesi pembukaan diawali dengan ritual adat dan pertunjukan seni khas Sunda yang merepresentasikan kekayaan budaya leluhur. Selanjutnya, mahkota bersejarah tersebut ditempatkan dalam kereta kencana untuk diarak ke sejumlah wilayah di Jawa Barat sebagai bagian dari rangkaian perayaan.
Dedi menjelaskan, Mahkota Binokasih merupakan salah satu bukti fisik penting dari peradaban Sunda yang masih bertahan hingga kini. Ia menilai, banyak jejak sejarah Sunda yang telah hilang, termasuk bentuk kerajaan dan istananya, sehingga keberadaan mahkota ini menjadi sangat signifikan.
“Jejak yang masih tersisa adalah Mahkota Binokasih. Saya sudah lama mengamati, apakah ini sejarah, mitologi, atau fakta,” ujar Dedi.
Menurutnya, kajian akademik yang dilakukan tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memastikan bahwa Mahkota Binokasih memiliki nilai sejarah dan material yang autentik.
Ia juga menyoroti keterbatasan pendanaan yang selama ini membuat pihak keraton belum optimal dalam memperkenalkan warisan tersebut kepada publik.
Mulai tahun ini, arak-arakan Mahkota Binokasih dikemas dalam nuansa budaya tradisional dan tidak lagi menggunakan kendaraan modern. Langkah tersebut merupakan upaya menghidupkan kembali nilai-nilai leluhur.
Rute arak-arakan akan melintasi delapan daerah di Jawa Barat sebelum mencapai puncak acara di kawasan Gedung Sate, Kota Bandung. Setelah itu, mahkota akan kembali ke Sumedang.
“Ini juga bagian dari Milangkala Sumedang yang kemudian berkembang menjadi Milangkala Tatar Sunda. Penetapannya akan dituangkan dalam peraturan gubernur setelah mendapat persetujuan Mendagri pada 18 Mei,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai perhelatan ini memberikan dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi lokal, mulai dari okupansi hotel hingga meningkatnya aktivitas restoran dan pelaku UMKM.
“Ini bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Dony.
Ia menambahkan, Milangkala Tatar Sunda menjadi sarana untuk menghidupkan kembali nilai sejarah sebagai panduan dalam pembangunan masa depan, khususnya bagi Jawa Barat dan Sumedang.
Perjalanan bertajuk “Napak Tilas Padjajaran” ini diawali dari Keraton Sumedang Larang, kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Cianjur, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Karawang, Kota Cirebon, dan berakhir di Kota Bandung. (gun)







