BERITA SINGKAT
- Seniman Tutun Imam Turmudzi pentaskan ulang tari Munding Dongkol di Curug Jompong.
- Pertunjukan jadi refleksi krisis ekologis Sungai Citarum.
- Karya diangkat dari arsip seniman Soegandi yang belum pernah dipentaskan.
- Menyoroti dampak industrialisasi dan pencemaran sejak era Orde Baru.
- Seni dijadikan medium kritik lingkungan dan pemanggilan ingatan kolektif.
RADARSUMEDANG.id, NANJUNG — Di hamparan bebatuan kering yang dipenuhi sampah di Curug Jompong, Nanjung, Lagadar, Kecamatan Margaasih, seorang seniman teater, Tutun Imam Turmudzi, menggelar pertunjukan tari yang sarat makna ekologis.
Di bekas aliran deras Sungai Citarum yang kini menyusut, ia menghadirkan kembali tarian yang nyaris hilang dari ingatan, yakni pertunjukan Munding Dongkol karya Soegandi yang sebelumnya tak pernah ditampilkan.
Pertunjukan tersebut bukan sekadar ekspresi artistik, melainkan rekonstruksi dari serpihan arsip, ingatan warga, dan jejak sejarah yang berkelindan dengan perubahan besar di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sejak era Orde Baru.
Tutun merujuk pada periode awal 1970–1980-an, ketika pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing membuka keran investasi asing untuk memulihkan ekonomi pasca-1965. Kebijakan ini memicu pertumbuhan pesat industri, khususnya tekstil, di sepanjang DAS Citarum.
“Namun di balik geliat industrialisasi tersebut, muncul persoalan serius: limbah pabrik yang tak terkelola dengan baik. Banyak industri membuang sisa produksi langsung ke sungai, memicu pencemaran yang berdampak luas,” ujar Tutun, ditemui di lokasi, Minggu (3/5).
Perubahan sosial pun terjadi. Warga yang sebelumnya bertani beralih menjadi buruh industri. Dalam ingatan kolektif masyarakat, masa tersebut juga diwarnai gelombang protes terhadap kerusakan lingkungan yang mulai terasa nyata.
Tutun menemukan pijakan artistiknya dari arsip seorang seniman asal Jelegong, Kabupaten Bandung, bernama Soegandi. Dalam catatan tersebut, tergambar sosok mitologis bernama Munding Dongkol, makhluk yang diyakini hidup di Sungai Citarum dan menjadi simbol kemarahan alam atas kerusakan lingkungan.
“Sosok ini diwujudkan dalam bentuk kostum dan gerak tari bangbarongan ‘Moending Dongkol Jang Kalah’, yang disebut sebagai medium ekspresi kegelisahan ekologis masyarakat saat itu,” ungkapnya.
Menariknya, dalam arsip tersebut tidak ditemukan bukti bahwa pertunjukan itu pernah benar-benar dipentaskan. Hanya terdapat gagasan artistik yang terhambat situasi represi pada masa Orde Baru, ketika ekspresi seni kritis kerap dibatasi.
“Dari celah inilah saya mengambil posisi: menghidupkan kembali kemungkinan yang tertunda,” katanya.
Di Curug Jompong, pertunjukan bangbarongan itu dihadirkan sebagai peristiwa hidup. Para performer bergerak di antara sampah plastik, lumpur, dan bebatuan kering, mengenakan kostum yang merujuk pada figur Munding Dongkol.
“Ini bukan nostalgia. Ini cara membaca ulang bagaimana kerusakan ekologis mengubah tubuh, ingatan, dan kebudayaan kita. Munding Dongkol bukan hanya tarian, tapi bahasa protes yang sempat terputus,” ujarnya.
Melalui pertunjukan ini, Tutun mencoba menjembatani masa lalu dan masa kini, menghubungkan arsip yang tak sempat menjadi peristiwa dengan realitas Sungai Citarum yang kini berada dalam kondisi kritis.
Ia juga menyoroti bagaimana seni tradisi dapat bergeser, bahkan menghilang, ketika lanskap ekologis yang melahirkannya ikut rusak.
“Pertunjukan di Curug Jompong menjadi semacam ritual pemanggilan ulang: bukan hanya terhadap Munding Dongkol sebagai mitos, tetapi juga terhadap kesadaran kolektif yang pernah hidup di tengah krisis,” ungkapnya. (kus)







