- In Coffee di Pamulihan mulai berkembang sebagai ruang kreatif berbasis seni dan budaya.
- Tempat ini tidak hanya jadi kafe, tetapi juga pusat pertunjukan dan aktivitas masyarakat.
- Berbagai event seperti festival calung dan pasanggiri jaipong sudah digelar.
- Juni mendatang akan digelar acara besar bertajuk “Gebyar Hajat Lembur”.
- In Coffee ditargetkan menjadi ikon baru yang menghidupkan seni budaya lokal.
PAMULIHAN — In Coffee yang berlokasi di Desa Citali, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, mulai menunjukkan eksistensinya sebagai ruang kreatif yang menggabungkan konsep kuliner dengan seni dan budaya.
Meski pembangunan gedung belum sepenuhnya rampung, berbagai kegiatan telah sukses digelar dan mampu menarik perhatian masyarakat.
Owner In Coffee, H. Andriansyah alias Ijong, menjelaskan bahwa ke depan tempat tersebut tidak hanya menjadi lokasi nongkrong, tetapi juga pusat pertunjukan seni budaya dan aktivitas masyarakat.
“Ke depan, bukan hanya seni budaya, tapi juga musik tradisional maupun modern akan ditampilkan secara rutin. Saat ini masih tahap uji coba seminggu sekali, nanti meningkat jadi dua kali, hingga targetnya bisa setiap hari. Termasuk juga kegiatan olahraga,” ujarnya.
Ia menambahkan, pada bulan Juni mendatang akan digelar acara besar bertajuk “Hajat Lembur” sebagai bentuk syukuran atas pembangunan gedung In Coffee.
Meski pembangunan belum selesai, antusiasme masyarakat sudah terlihat dari terselenggaranya festival calung dan pasanggiri jaipong tingkat Kabupaten Sumedang di lokasi tersebut.
“Sekarang saja belum beres sudah ada festival calung dan pasanggiri jaipong tingkat kabupaten. Bisa dibayangkan kalau sudah selesai, tentu akan lebih ramai,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan nantinya akan diawali dengan jalan sehat bertajuk “In Coffee Walker” yang disertai pembagian doorprize. Pada malam harinya, akan digelar berbagai pertunjukan seni budaya, mulai dari tarian, musik, hingga nyanyian tradisional.
Acara tersebut dikemas dalam konsep “Gebyar Hajat Lembur” yang juga menjadi ajang syukuran masyarakat setempat, namun tetap terbuka untuk umum.
Sebagai puncak acara, akan ditampilkan pagelaran wayang golek yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Dengan konsep tersebut, In Coffee diharapkan dapat menjadi ikon baru di Pamulihan yang mampu menghidupkan kembali seni budaya lokal sekaligus menjadi ruang berkumpul masyarakat lintas generasi.
(tha)







