BERITA SINGKAT
- Dinkes Sumedang menggencarkan edukasi pencegahan DBD menghadapi musim kemarau panjang akibat El Nino.
- Masyarakat diminta waspada terhadap potensi peningkatan kasus DBD saat transisi musim hujan ke kemarau.
- Kebiasaan menyimpan air terlalu lama dinilai berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.
- Sepanjang 2025 tercatat 1.446 kasus DBD di Sumedang dengan lima kasus kematian.
- Wilayah dengan kasus tertinggi berada di Puskesmas Jatinangor, Ujungjaya, dan Tanjungsari.
RADARSUMEDANG.id, KOTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumedang menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan demam berdarah dengue (DBD) menyusul prediksi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumedang, Surdi Surdiana, mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran DBD, terutama pada masa transisi dari musim huan ke musim kemarau.
“Kami saat ini sedang bersiap menghadapi prediksi BMKG terkait El Nino yang menyebabkan kemarau panjang dan suhu lebih panas dari biasanya. Beberapa penyakit diprediksi meningkat, terutama DBD saat masa transisi musim hujan ke kemarau,” ujar Surdi, Jumat (8/5).
Menurutnya, kondisi rawan kekeringan di sejumlah wilayah Sumedang saat musim kemarau mendorong masyarakat menyimpan air dalam waktu lama. Kebiasaan tersebut dinilai berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD.
“Selama ini kebiasaan masyarakat menyimpan air dalam waktu lama juga berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk sehingga perlu diedukasi secara intensif agar tidak menjadi sarang nyamuk,” katanya.
Ia menambahkan, Dinkes Sumedang bersama puskesmas di berbagai wilayah telah diminta melakukan langkah antisipasi guna menekan risiko peningkatan kasus DBD selama musim kemarau panjang.
Surdi juga mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti rutin membersihkan lingkungan, menguras tempat penampungan air, menjaga kebersihan diri, serta memperhatikan kondisi kesehatan tubuh.
“Perilaku hidup bersih dan sehat harus terus dibiasakan. Kita sudah belajar banyak saat COVID-19, dan ini saatnya mengingat kembali kebiasaan baik tersebut,” ucapnya.
Berdasarkan data Dinkes Sumedang, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 1.446 kasus DBD dengan lima kasus kematian.
Kasus meninggal dunia masing-masing terjadi di wilayah Puskesmas Cisempur sebanyak dua orang, Puskesmas Ujungjaya dua orang, dan Puskesmas Darmaraja satu orang.
Sementara itu, wilayah dengan jumlah kasus tertinggi yakni Puskesmas Jatinangor sebanyak 131 kasus, Puskesmas Ujungjaya 121 kasus, Puskesmas Tanjungsari 112 kasus, Puskesmas Cisempur 101 kasus, serta Puskesmas Cimalaka 89 kasus.
Dari hasil analisis Dinkes Sumedang, lonjakan kasus DBD tertinggi pada 2025 terjadi pada Januari dengan total mencapai 209 kasus.
(gun)







