BERITA SINGKAT
- Dishub Sumedang menindaklanjuti larangan siswa SMP membawa motor ke sekolah.
- Kebijakan diterapkan demi meningkatkan keselamatan berlalu lintas bagi pelajar.
- Sekolah diminta menyiapkan solusi transportasi alternatif bersama orang tua siswa.
- Beberapa trayek angkot di Sumedang disebut sudah tidak aktif karena minim penumpang.
- Pihak sekolah berharap pemerintah turut memperhatikan keterbatasan transportasi di wilayah pedesaan.
RADARSUMEDANG.id, SUMEDANG – Dinas Perhubungan Kabupaten Sumedang memastikan akan menindaklanjuti kebijakan larangan membawa kendaraan bermotor bagi siswa-siswi tingkat SMP. Kebijakan tersebut didasari pertimbangan aspek keselamatan berlalu lintas, sehingga para kepala sekolah diminta mencari solusi alternatif transportasi bagi para siswa.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sumedang, Herman Suwandi mengatakan, pihaknya bersama Satlantas terus melakukan sosialisasi keselamatan berlalu lintas kepada para kepala sekolah SMP di Kabupaten Sumedang.
“Kami berharap para kepala sekolah dapat berupaya menindaklanjuti Surat Edaran Bupati terkait larangan siswa SMP menggunakan kendaraan pribadi roda dua ke sekolah. Keselamatan anak-anak menjadi prioritas utama,” kata Herman saat dikonfirmasi di PPS, Rabu (13/5/2026).
Menurut Herman, terdapat sejumlah alternatif yang bisa dilakukan, mulai dari penggunaan angkutan umum, bersepeda hingga berjalan kaki bagi siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah.
Selain itu, sekolah juga dapat bekerja sama dengan orang tua siswa untuk menyediakan transportasi khusus bagi wilayah yang belum terjangkau trayek angkutan umum.
“Misalnya dalam satu wilayah ada kendaraan mobil yang bisa digunakan bersama untuk antar jemput siswa. Biayanya dapat disepakati bersama antara orang tua dan penyedia kendaraan dengan sistem iuran per bulan. Yang terpenting adalah keamanan dan keselamatan siswa saat berangkat maupun pulang sekolah,” ujarnya.
Namun demikian, Herman mengakui masih terdapat sejumlah wilayah di Kabupaten Sumedang yang kondisi geografisnya cukup luas dan belum sepenuhnya dilintasi angkutan umum aktif. Beberapa trayek angkot bahkan saat ini sudah tidak lagi beroperasi karena minimnya penumpang.
“Seperti trayek Darmaraja–Cibugel maupun beberapa trayek di wilayah lain, saat ini memang ada yang tidak aktif karena jumlah penumpangnya sangat sedikit sehingga pelaku usaha transportasi kesulitan menutup biaya operasional. Tetapi trayeknya sendiri tidak dihapus. Artinya, jika memang ada kebutuhan dan potensi penumpang, tinggal dikoordinasikan kembali dengan pelaku usaha transportasi,” ungkap Herman.
Ia menambahkan, pihak sekolah dan orang tua diharapkan dapat membangun pola kerja sama transportasi antar jemput sekolah berbasis wilayah agar siswa tetap bisa berangkat sekolah dengan aman tanpa harus membawa sepeda motor sendiri.
“Kalau ada satu kendaraan khusus antar jemput dari satu wilayah menuju sekolah, tentu itu akan jauh lebih aman. Karena pada akhirnya kalau terjadi insiden di jalan, semua pihak tentu akan ikut bertanggung jawab. Mudah-mudahan kita semua bisa berikhtiar mencari solusi terbaik demi keselamatan anak-anak,” terang Herman.
Sementara itu, salah seorang perwakilan sekolah tingkat SMP di wilayah Kecamatan Cisarua, Edi, menyampaikan pihaknya mendukung penuh kebijakan larangan siswa SMP membawa sepeda motor ke sekolah.
Namun di sisi lain, ia berharap pemerintah juga memperhatikan kondisi riil di lapangan, khususnya terkait keterbatasan akses transportasi umum di wilayah pedesaan dan pegunungan.
“Kami pada prinsipnya sepakat siswa SMP tidak diperbolehkan membawa motor demi keselamatan. Tetapi kondisi wilayah Cisarua ini cukup luas dan banyak siswa yang rumahnya jauh dari sekolah. Sementara angkutan umum yang melewati sekolah saat ini hampir tidak ada,” sebut Edi.
Menurut Edi, sebagian siswa berasal dari desa-desa yang jaraknya cukup jauh dengan kondisi medan menanjak dan akses jalan yang terbatas. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri apabila kebijakan larangan membawa motor diterapkan tanpa dibarengi solusi transportasi yang memadai.
“Kalau untuk siswa yang rumahnya dekat mungkin masih bisa jalan kaki atau bersepeda. Tetapi bagi siswa dari wilayah pelosok tentu akan sangat kesulitan. Kami berharap trayek angkot yang dulu pernah ada bisa diaktifkan kembali,” katanya.(jim)







