BERITA SINGKAT
- Harga daging sapi di Pasar Kosambi Bandung tembus Rp160 ribu per kilogram.
- Pedagang daging sapi mogok berjualan sejak 17 Mei 2026 akibat harga pasokan tidak stabil.
- Warga mulai beralih membeli daging ayam karena dinilai lebih murah.
- Banyak kios tutup sehingga pembeli kesulitan mendapatkan stok daging sapi.
- Masyarakat berharap pemerintah segera menstabilkan harga dan pasokan daging sapi.
BANDUNG – Lonjakan harga daging sapi di Pasar Kosambi, Kota Bandung, mulai mengubah pola belanja masyarakat. Di tengah harga yang menembus Rp160 ribu per kilogram, sebagian warga kini memilih membeli daging ayam karena dianggap lebih murah dan mudah didapat.
Perubahan pola konsumsi itu terjadi setelah sejumlah pedagang daging sapi di Pasar Kosambi mogok berjualan sejak Minggu (17/5/2026) hingga Senin (18/5/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap harga pasokan daging sapi yang terus berubah dan dinilai tidak stabil.
Akibat aksi mogok tersebut, area penjualan daging sapi di pasar terlihat jauh lebih sepi dibanding hari biasanya. Banyak kios tutup sehingga pembeli kesulitan mendapatkan stok daging sapi untuk kebutuhan rumah tangga.
Kepala Unit Pasar Kosambi, Yayan Agustina Gunawan mengatakan, gejolak harga membuat pedagang berada dalam tekanan. Mereka harus menghadapi kenaikan harga dari pemasok, sementara daya beli masyarakat justru mengalami penurunan.
“Kami tahunya mereka tidak jualan dari kemarin, katanya ada kenaikan harga,” ujar Yayan, Senin (18/5/2026).
Menurut Yayan, kondisi tersebut secara perlahan mulai mengubah kebiasaan belanja masyarakat. Tidak sedikit warga yang memilih menunda membeli daging sapi dan beralih ke komoditas lain yang lebih terjangkau.
“Tadi saya sempat mengobrol sama pengunjung, mereka juga ada yang beralih ke daging ayam dulu,” katanya.
Saat ini harga daging sapi di Pasar Kosambi berada di kisaran Rp140 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram tergantung jenis dan kualitas. Harga tersebut dinilai cukup tinggi bagi sebagian masyarakat, terutama untuk kebutuhan konsumsi harian.
Kondisi kenaikan harga membuat pembeli harus memutar otak untuk menyesuaikan pengeluaran rumah tangga. Di tengah kebutuhan pokok yang terus naik, warga memilih mencari alternatif protein hewani dengan harga lebih rendah.
Salah seorang pembeli, Ane mengaku tetap membutuhkan daging sapi meski harga mahal. Namun dirinya kesulitan mendapatkan stok karena banyak pedagang memilih tidak membuka kios.
“Sekarang kesulitan. Mahal juga gak apa-apa kalau ada mah,” ucap Ane.
Selain berdampak pada pembeli, kondisi ini juga membuat aktivitas perdagangan di Pasar Kosambi melambat. Lapak-lapak yang biasanya ramai pembeli tampak lengang karena minim transaksi.
Warga lainnya, Laiyna berharap persoalan harga dan pasokan daging sapi segera ditangani agar tidak terus berlarut. Ia khawatir kondisi tersebut akan semakin membebani masyarakat jika harga terus naik dalam waktu lama.
“Mudah-mudahan ada solusi supaya harga stabil lagi dan stok kembali normal,” ujarnya.
Laiyna menilai stabilitas harga menjadi hal penting agar pedagang tetap bisa berjualan dan masyarakat tidak kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari di pasar tradisional.
Pemerintah dan pihak terkait diharapkan segera turun tangan mencari solusi atas gejolak harga daging sapi sehingga aktivitas jual beli di Pasar Kosambi dapat kembali normal dalam waktu dekat. (dsn)







