RADARSUMEDANG.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB mendorong penguatan ketahanan pangan keluarga di Desa Cijeler, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, melalui program BUDIKDALON (Budidaya Ikan dalam Galon).
Program tersebut digelar Jumat (7/8/2026) di GOR Jaya Laksana, Desa Cijeler, dengan melibatkan 37 peserta yang merupakan perwakilan kelompok Program Keluarga Harapan (PKH) dari delapan RW.
Penanggung Jawab Proker BUDIKDALON KKNT IPB, Umar Aufa, mengatakan program tersebut dirancang sebagai solusi sederhana bagi masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang terbatas sekaligus mengolah limbah galon plastik bekas agar memiliki nilai produktif.
“BUDIKDALON ini mengintegrasikan budidaya ikan lele dengan tanaman sayuran seperti kangkung dan pakcoy dalam satu wadah. Konsepnya sederhana sehingga bisa diterapkan masyarakat meskipun memiliki keterbatasan lahan,” ujar Umar.
Menurutnya, program tersebut juga diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan berbasis keluarga dan bersinergi dengan program Teras Hijau yang digulirkan pemerintah.
Konsep yang diperkenalkan menggunakan sistem integrasi berbasis akuaponik. Air dari wadah pemeliharaan ikan dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman sehingga budidaya ikan dan sayuran dapat dilakukan secara bersamaan.
Dalam pelaksanaannya, BUDIKDALON mendapat dukungan dari UPTD Perikanan dan Peternakan Wilayah Situraja. Sebanyak 1.000 ekor benih lele berukuran 5–7 sentimeter diberikan melalui Balai Benih Ikan (BBI) Sumedang.
Selain itu, kegiatan juga menghadirkan penyuluh perikanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai prinsip dasar serta manajemen pemeliharaan ikan lele dalam media terbatas.
Umar menjelaskan, mahasiswa KKNT IPB juga memberikan praktik langsung pembuatan instalasi BUDIKDALON. Bahan yang digunakan antara lain galon Le Minerale bekas, solder, gunting, cutter, keranjang plastik, gelas plastik bekas, rockwool, kain flanel, benih lele, dan pelet ikan.
“Kami memperkenalkan dua variasi desain. Pertama menggunakan keranjang plastik sebagai dudukan tanaman di bagian atas galon. Kedua menggunakan gelas plastik bekas yang dilubangi dan diberi kain flanel sebagai sumbu untuk menjaga kelembapan rockwool,” jelasnya.
Menurut Umar, penggunaan bahan-bahan bekas menjadi bagian penting dalam konsep tersebut. Selain menekan biaya pembuatan, masyarakat juga dapat memanfaatkan limbah rumah tangga yang sebelumnya belum terkelola secara optimal.
Dalam pelatihan itu, warga tidak hanya diajarkan membuat instalasi, tetapi juga mendapatkan panduan mengenai tahapan pemeliharaan lele. Mulai dari penebaran benih, pemberian pakan secara berkala, sortir ukuran ikan hingga teknik pemanenan.
Edukasi budidaya tanaman juga diberikan secara terintegrasi. Warga diajarkan memilih bibit kangkung dan pakcoy, melakukan persemaian menggunakan rockwool dan flanel, hingga teknik pemeliharaan tanaman.
“Harapannya, setelah pelatihan ini masyarakat bisa mengembangkan BUDIKDALON secara mandiri di rumah masing-masing. Jadi bukan hanya menjadi kegiatan saat KKN, tetapi bisa berkelanjutan dan membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga,” kata Umar.
Ia menambahkan, pemanfaatan lahan sempit melalui BUDIKDALON diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat Desa Cijeler untuk menghasilkan sumber pangan dari lingkungan rumah sekaligus membuka peluang nilai ekonomi.
Melalui kolaborasi mahasiswa, pemerintah, penyuluh perikanan dan masyarakat, program tersebut diharapkan mampu memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ketahanan pangan yang dapat dimulai dari tingkat keluarga.(rik)





