BERITA SINGKAT
- Pemkot Bandung menyiapkan teknologi AI untuk mengatur lalu lintas dan PJU.
- AI akan diterapkan pada sistem ATCS guna mengurangi kemacetan secara real time.
- Teknologi dinilai mampu mengatur durasi lampu lalu lintas lebih adaptif.
- PJU berbasis teknologi juga disiapkan untuk efisiensi energi dan pengawasan lampu jalan.
- Sejumlah titik rawan macet di Kota Bandung menjadi prioritas penerapan tahap awal.
RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai menyiapkan pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) untuk mengatur sistem lalu lintas dan penerangan jalan umum (PJU) di sejumlah titik kota. Teknologi tersebut diproyeksikan menjadi solusi baru untuk mengurangi kemacetan yang selama ini menjadi salah satu persoalan utama di Kota Bandung.
Pemanfaatan AI akan diterapkan pada sistem Automatic Traffic Control System (ATCS) atau pengaturan lampu lalu lintas otomatis. Pemerintah menilai sistem yang saat ini berjalan masih belum optimal karena pengaturannya belum sepenuhnya otomatis dan belum mampu menyesuaikan kondisi kepadatan kendaraan secara real time.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, penggunaan AI menjadi langkah penting untuk memperbaiki manajemen lalu lintas di tengah meningkatnya volume kendaraan di Kota Bandung.
“Kami mulai berpikir menggunakan AI untuk ATCS karena kami melihat kemacetan itu salah satunya terjadi akibat sistem pengaturan lalu lintas yang belum fully automatic,” ujar Farhan, Selasa (19/5/2026).
Farhan mengungkapkan, pengaturan lampu merah yang masih bersifat manual atau belum adaptif membuat antrean kendaraan di sejumlah ruas jalan kerap menumpuk, terutama pada jam sibuk dan akhir pekan.
Menurutnya, teknologi AI nantinya dapat membantu membaca kepadatan kendaraan secara langsung dan mengatur durasi lampu lalu lintas secara otomatis sesuai kondisi di lapangan. Dengan begitu, distribusi arus kendaraan di persimpangan diharapkan menjadi lebih lancar.
Selain pengaturan lalu lintas, Pemkot Bandung juga mulai menyiapkan modernisasi pengelolaan penerangan jalan umum berbasis teknologi. Sistem tersebut dirancang agar lebih efisien dalam penggunaan energi sekaligus mempermudah pengawasan kondisi lampu jalan di berbagai wilayah kota.
Menurut Farhan, penggunaan teknologi dalam pengelolaan kota menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari, terutama bagi kota besar seperti Bandung yang memiliki aktivitas kendaraan dan mobilitas masyarakat cukup tinggi setiap hari.
Ia menilai kemacetan tidak bisa hanya diselesaikan melalui pelebaran jalan atau pembangunan fisik semata. Pemerintah juga harus memperkuat sistem pengaturan lalu lintas agar lebih cerdas dan mampu menyesuaikan perubahan kondisi kendaraan secara cepat.
Pemkot Bandung saat ini masih mengkaji skema penerapan AI untuk sistem ATCS, termasuk kebutuhan infrastruktur pendukung dan kesiapan jaringan teknologi di lapangan.
“Sejumlah titik rawan macet akan menjadi prioritas penerapan tahap awal,” katanya.
Farhan mengakui penerapan teknologi berbasis AI membutuhkan anggaran dan kesiapan sistem yang matang. Namun ia optimistis langkah penerapan teknologi akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan kemacetan dan peningkatan kenyamanan pengguna jalan.
Selain meningkatkan kelancaran lalu lintas, penggunaan AI juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional pemerintah, khususnya dalam pengelolaan lampu lalu lintas dan penerangan jalan umum.
“Transformasi teknologi menjadi bagian penting dalam pembangunan kota modern. Karena itu, digitalisasi layanan publik dan penguatan sistem berbasis data akan terus didorong dalam berbagai sektor pemerintahan,” ungkapnya.
Farhan menambahkan, penerapan AI nantinya dapat membantu mengurangi titik-titik kemacetan yang selama ini sering dikeluhkan masyarakat, terutama di kawasan pusat kota dan jalur wisata saat akhir pekan.
“Pengembangan sistem lalu lintas berbasis AI dan modernisasi PJU, target terciptanya tata kelola transportasi perkotaan yang lebih efektif, adaptif, dan mampu meningkatkan kenyamanan mobilitas warga maupun wisatawan,” ujar Farhan. (dsn)





