Oleh: Naya Sunarya
RADARSUMEDANG.id — Suatu hari saya sempat berjalan-jalan ke salah satu desa di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Saya beristirahat sejenak di sebuah warung simpang tiga jalan desa sambil meneguk segelas kopi instan dan menikmati gorengan panas.
Warung tersebut cukup ramai. Beberapa warga terdengar berbicara soal kebutuhan infrastruktur jalan lingkungan, balai dusun, hingga rehabilitasi irigasi desa. Itulah sepenggal fenomena yang saya temui saat menepi beristirahat.
Tidak ada yang salah dari perbincangan tersebut. Selama ini, ketika berbicara soal pembangunan desa, bayangan yang muncul di kepala kita memang selalu sama: jalan aspal, gorong-gorong, tembok penahan tanah, atau balai desa baru.
Infrastruktur fisik memang penting. Namun pertanyaannya, sampai kapan kita terjebak dalam pola pikir yang sama?
Faktanya, kita sering lupa bahwa jalan yang paling mulus sekalipun tidak akan membawa kemajuan jika yang melintasinya adalah manusia yang minim keterampilan. Bangunan yang megah tidak akan berfungsi maksimal jika yang mengelolanya tidak memiliki kapasitas dan pengetahuan yang memadai.
Infrastruktur Terbaik adalah Manusianya
Kita perlu berani berpikir out of the box. Sudah saatnya desa beralih dari sekadar “desa pembangun” menjadi “desa pencerdas”. Kita perlu menghadirkan sebuah konsep baru yang saya sebut sebagai Bank Skill Desa.
Apa itu Bank Skill? Bukan bank yang menyimpan uang, melainkan wadah tempat warga desa “menabung” ilmu, keahlian, dan kompetensi. Di sana, warga menyetor waktu dan kemauan untuk belajar, lalu “menariknya” kembali dalam bentuk pekerjaan, usaha mandiri, dan kesejahteraan.
Mengapa Bank Skill Sangat Mendesak?
1. Investasi yang Tidak Akan Habis
Jalan bisa rusak, bangunan bisa lapuk dimakan usia. Namun skill dan ilmu yang tertanam di otak serta tangan warga adalah aset abadi. Kemampuan itu tidak bisa dicuri, tidak mudah rusak, dan nilainya justru terus bertambah seiring waktu.
Keterampilan akan menjelma menjadi sumber daya produktif bernilai ekonomi, melahirkan inovasi, dan menciptakan pembangunan berkelanjutan.
2. Solusi Nyata Pengangguran dan Kemiskinan
Memberikan bantuan sosial hanya menyelesaikan masalah hari ini. Namun memberikan pelatihan dan keahlian akan menjadi solusi jangka panjang.
Jika warga memiliki banyak keterampilan atau multiskilling, mereka tidak akan mudah putus asa ketika satu sektor usaha sedang lesu. Dalam jangka panjang, lingkaran kemiskinan dan pengangguran dapat diputus secara struktural karena masyarakat memiliki kemampuan mandiri untuk meningkatkan produktivitas hidupnya.
3. Mencegah Boros Anggaran yang Tidak Berkelanjutan
Sering kali dana desa habis hanya untuk pembangunan fisik. Padahal, jika sebagian dialokasikan untuk pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dampak ekonominya bisa berlipat ganda.
Orang yang memiliki kemampuan akan mampu menghasilkan nilai ekonomi. Dari penghasilan itulah mereka dapat membangun desanya sendiri secara mandiri.
4. Menjadikan Desa Sebagai Pusat Pertumbuhan Baru
Dengan sumber daya manusia yang tangguh, desa tidak lagi menjadi objek pembangunan, melainkan subjek pembangunan yang mandiri.
Desa dapat berkembang menjadi pusat industri, pusat wisata, maupun pusat perdagangan karena didukung SDM yang kompeten.
Ajakan untuk Pemangku Kebijakan dan Masyarakat
Kepada pemerintah desa, anggota BPD, dan para tokoh masyarakat, mari kita ubah prioritas dalam Musrenbang tahun depan. Jangan hanya sibuk membagi anggaran untuk batu dan semen.
Mari sisihkan, bahkan jadikan prioritas utama, anggaran untuk mencerdaskan dan melatih warga.
Siasati rigiditas dana desa dengan cerdas dan tempatkan program pembangunan Bank Skill Desa sebagai prioritas penting dan mendesak. Desa perlu mulai berinvestasi pada sumber daya manusia yang produktif secara ekonomi, inovatif, dan berkelanjutan.
Mari bangun Bank Skill Desa. Renovasi balai desa menjadi pusat pelatihan, bangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan instruktur kompeten, fasilitasi sertifikasi keahlian, dan tumbuhkan budaya belajar sepanjang hayat.
Kepada masyarakat, mari kita sadari bahwa harta paling berharga bukan hanya tanah atau sawah, melainkan keahlian yang kita miliki.
Penutup
Pembangunan fisik adalah wajah desa, tetapi sumber daya manusia yang berkualitas adalah nyawanya. Tanpa nyawa, wajah secantik apa pun hanya akan menjadi patung yang bisu.
Mari seimbangkan pembangunan beton yang terlihat oleh mata dengan pembangunan manusia yang manfaatnya dapat dirasakan sepanjang masa.
Membangun manusia melalui Bank Skill adalah investasi masa depan desa.
*)Penulis adalah warga Sumedang, mantan Anggota DPRD Sumedang, dan Ketua Dewas Fokus Sinergi Kemitraan.







