BERITA SINGKAT
- DPKP Sumedang mengembangkan Ubi Cilembu melalui teknologi kultur jaringan dan hilirisasi UMKM.
- Ubi Cilembu memiliki keunggulan rasa manis seperti madu yang menjadi daya saing utama.
- Uji coba budidaya dilakukan di berbagai wilayah dengan melibatkan kelompok tani dan 26 Polsek.
- Permintaan pasar untuk Ubi Cilembu olahan dan ekspor mencapai 12–40 ton per bulan.
- Hilirisasi dilakukan melalui pengembangan produk UMKM seperti bakpia ubi tanpa tambahan gula.
RADARSUMEDANG.id, KOTA – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Sumedang terus mengembangkan Ubi Cilembu sebagai komoditas unggulan daerah melalui penerapan teknologi kultur jaringan dan penguatan hilirisasi produk UMKM. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, serta mendorong kesejahteraan petani.
Kepala DPKP Kabupaten Sumedang, Tono Soehartono, mengatakan pengembangan Ubi Cilembu dilakukan secara terintegrasi dari sektor budidaya hingga pengolahan produk agar komoditas khas Sumedang tersebut tetap berkelanjutan dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Pengembangan Ubi Cilembu ini terus kami dorong melalui kultur jaringan dan hilirisasi agar bisa memperluas produksi sekaligus meningkatkan daya saing pasar,” kata Tono, Jumat (29/5).
Menurut Tono, Ubi Cilembu memiliki karakteristik unik berupa rasa manis seperti madu setelah dipanggang. Keunikan tersebut menjadi identitas sekaligus pembeda utama dibandingkan jenis ubi jalar lainnya.
Ia menilai karakteristik tersebut merupakan potensi besar yang dapat menjadikan Ubi Cilembu sebagai komoditas unggulan daerah yang mampu bersaing di pasar nasional maupun global.
“Sebagaimana dimaklumi bahwa Ubi Cilembu itu cuma ada di Cilembu. Yang membedakan itu adalah madunya dan itu menjadi potensi daya saing. Kalau tidak ada madu, itu bukan Cilembu,” ujarnya.
Untuk memperluas pengembangan, DPKP kini menerapkan teknologi kultur jaringan yang memungkinkan perbanyakan bibit berkualitas tanpa sepenuhnya bergantung pada kondisi tanah asal Cilembu.
Tono menjelaskan, berbagai uji coba budidaya telah dilakukan di sejumlah wilayah dengan melibatkan kelompok tani dan aparat kewilayahan. Salah satu program yang dijalankan yakni penanaman sekitar 5.000 bibit melalui kerja sama dengan 26 titik Polsek di Kabupaten Sumedang.
“Dari uji coba itu ada yang berhasil dan ada yang belum, ini menjadi bahan evaluasi kami untuk pengembangan berikutnya,” katanya.
Saat ini, sentra produksi Ubi Cilembu tersebar di empat kecamatan utama, yaitu Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari dengan total luas lahan budidaya sekitar 462 hektare.
Sementara itu, Desa Cilembu sebagai daerah asal komoditas tersebut memiliki sekitar 229 hektare lahan budidaya dengan produksi rata-rata berkisar antara 1.600 hingga 1.900 ton per tahun.
Dari sisi produktivitas, Ubi Cilembu di Sumedang mampu menghasilkan sekitar 15 hingga 20 ton per hektare. Dalam kondisi optimal, produktivitas bahkan dapat mencapai 40 ton per hektare.
Meski demikian, pengembangan komoditas ini masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketergantungan terhadap kondisi tanah tertentu serta fluktuasi produksi akibat faktor cuaca.
“Selain itu, tantangan kita adalah menjaga kontinuitas produksi karena permintaan pasar terus meningkat,” ujarnya.
Tono mengungkapkan, kebutuhan pasar terhadap Ubi Cilembu, baik untuk produk olahan maupun ekspor, saat ini mencapai 12 hingga 40 ton per bulan. Kondisi tersebut menuntut ketersediaan pasokan yang stabil agar peluang pasar dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Selain memperkuat sektor budidaya, Pemerintah Kabupaten Sumedang juga mendorong hilirisasi melalui pengembangan berbagai produk turunan berbasis Ubi Cilembu. Salah satunya adalah bakpia ubi yang memanfaatkan rasa manis alami tanpa tambahan gula.
“Ubi Cilembu ini bisa diolah menjadi berbagai produk, termasuk bakpia tanpa gula tambahan karena sudah manis alami,” katanya.
Melalui pengembangan budidaya berbasis teknologi dan penguatan hilirisasi UMKM, DPKP berharap Ubi Cilembu dapat semakin meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat posisi Sumedang sebagai daerah penghasil komoditas unggulan yang berkelanjutan.
Penulis: Gun





