Hadapi Perubahan Iklim, Pemkab Sumedang Prioritaskan Perbaikan Irigasi dan Efisiensi Pertanian

oleh
Infografis/ilustrasi Generate AI

BERITA SINGKAT

  • Pemkab Sumedang memperkuat sektor pertanian untuk menghadapi dampak perubahan iklim.
  • Pembangunan dan rehabilitasi 75 titik irigasi tersier diajukan ke Kementerian Pekerjaan Umum.
  • Jaringan irigasi sepanjang 2,1 juta meter saat ini mengairi sekitar 30 ribu hektare sawah.
  • DPKP mengembangkan pompanisasi, pipanisasi, sumur dalam, dan pompa listrik untuk efisiensi air.
  • Pemerintah juga memperbaiki distribusi pupuk bersubsidi agar tepat sasaran kepada petani.

RADARSUMEDANG.id, KOTA – Pemerintah Kabupaten Sumedang terus memperkuat sektor pertanian guna menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Salah satu langkah yang menjadi prioritas adalah pembangunan dan perbaikan infrastruktur irigasi untuk menjaga produktivitas lahan pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Sumedang, Tono Suhartono, mengatakan perubahan iklim menyebabkan pola cuaca semakin sulit diprediksi. Musim hujan dan kemarau tidak lagi datang sesuai perkiraan, sementara fenomena El Nino diperkirakan masih akan memberikan dampak hingga awal tahun 2027.

“Perubahan iklim membuat pola cuaca semakin tidak menentu. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian karena ketersediaan air sangat menentukan keberhasilan produksi tanaman pangan,” kata Tono, Selasa (1/6).

Menurutnya, kekurangan air pada fase kritis pertumbuhan tanaman dapat menurunkan produktivitas bahkan menyebabkan gagal panen di sejumlah wilayah. Oleh karena itu, penguatan jaringan irigasi menjadi langkah strategis yang terus dilakukan pemerintah daerah.

Saat ini, jaringan irigasi pertanian di Kabupaten Sumedang memiliki panjang sekitar 2,1 juta meter dan mampu mengairi kurang lebih 30 ribu hektare lahan sawah. Meski demikian, masih terdapat sejumlah titik yang rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau berkepanjangan.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumedang telah mengajukan pembangunan dan rehabilitasi sekitar 75 titik irigasi tersier kepada Kementerian Pekerjaan Umum.

“Pemetaan wilayah rawan kekeringan menjadi dasar pengajuan program kami ke pemerintah pusat. Harapannya, daerah-daerah yang selama ini mengalami kendala pasokan air dapat memperoleh penanganan lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Selain memperkuat jaringan irigasi konvensional, pemerintah juga mengembangkan program pompanisasi, pipanisasi, serta pembangunan sumur dalam untuk menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian. Berbagai inovasi teknologi turut diterapkan guna meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya air.

Salah satu inovasi yang tengah diuji coba adalah penggunaan pompa irigasi berbasis listrik. Teknologi ini dinilai lebih hemat dibandingkan pompa berbahan bakar minyak karena mampu menekan biaya operasional hingga 25 persen.

“Kami mulai mengembangkan penggunaan pompa listrik sebagai alternatif yang lebih efisien. Ke depan, kami juga menyiapkan pemanfaatan energi surya agar sistem irigasi menjadi lebih hemat energi dan ramah lingkungan,” jelas Tono.

Di sisi lain, upaya menjaga produktivitas pertanian juga dilakukan melalui pengelolaan pupuk yang lebih efektif. DPKP Sumedang mendorong penerapan pemupukan berimbang berdasarkan kondisi dan kebutuhan tanah sehingga penggunaan pupuk menjadi lebih efisien tanpa mengurangi hasil produksi.

Data serapan pupuk tahun 2025 menunjukkan tingginya aktivitas pertanian di Kabupaten Sumedang. Kecamatan Jatinunggal tercatat menggunakan sekitar 1,79 juta kilogram pupuk Urea dan 1,47 juta kilogram pupuk NPK. Sementara Kecamatan Ujungjaya menggunakan sekitar 1,52 juta kilogram pupuk Urea dan 1,37 juta kilogram pupuk NPK.

Pemerintah daerah juga terus membenahi distribusi pupuk bersubsidi melalui pemutakhiran data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan sistem elektronik RDKK (E-RDKK) agar bantuan dapat diterima petani yang berhak secara tepat sasaran.

“Kami ingin memastikan pupuk bersubsidi benar-benar diterima oleh petani yang membutuhkan. Selain itu, penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati terus kami dorong untuk menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan produksi pertanian dalam jangka panjang,” imbuhnya.

(gun)

No More Posts Available.

No more pages to load.