Waspadai Kemarau Panjang 2026, Pasokan Pangan dan Harga Telur Berpotensi Naik di Bandung

oleh
Aktivitas warga berbelanja kebutuhan pangan di salah satu pasar tradisional Kota Bandung. Pemkot Bandung melalui DKPP Kota Bandung mulai antisipasi potensi kemarau panjang yang diperkirakan terjadi hingga akhir 2026 karena dikhawatirkan dapat memengaruhi produksi pertanian, pasokan pangan, distribusi logistik, serta memicu kenaikan harga sejumlah komoditas strategis, cabai, sayuran, dan telur ayam.(Taofik Achmad Hidayat/Radar Bandung)

BERITA SINGKAT

  • Pemkot Bandung mewaspadai dampak kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga akhir 2026.
  • Kemarau berpotensi mengganggu produksi pertanian, distribusi pangan, dan memicu kenaikan harga bahan pokok.
  • Kota Bandung sangat bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain.
  • DKPP Kota Bandung mulai menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan pangan.
  • Telur ayam menjadi salah satu komoditas yang diperkirakan rentan mengalami kenaikan harga jika pasokan terganggu.

RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun 2026 berpotensi mengganggu produksi pertanian, distribusi pangan, serta memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yang mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi.

Ancaman musim kering yang diprediksi mulai melanda pertengahan tahun hingga penghujung 2026 dinilai dapat berdampak pada ketahanan pangan masyarakat, terutama karena Kota Bandung masih bergantung pada pasokan bahan pangan dari berbagai daerah penghasil di luar kota.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mulai melakukan berbagai upaya mitigasi guna menekan dampak kemarau panjang terhadap ketersediaan dan stabilitas harga pangan.

Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengatakan pemerintah tidak bisa hanya fokus pada kondisi saat ini, tetapi juga harus mengantisipasi berbagai potensi ancaman yang muncul dalam beberapa bulan ke depan.

“Isu perubahan iklim dan fenomena El Nino perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi berbagai sektor strategis, terutama sektor pangan,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).

Menurut Gin Gin, berdasarkan sejumlah prediksi cuaca, kemarau panjang diperkirakan mulai terjadi pada Juni 2026 dan dapat berlangsung hingga akhir tahun. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi curah hujan secara signifikan di sejumlah wilayah sentra pertanian.

“Dampak pertama yang paling terasa diperkirakan terjadi pada sektor produksi pangan. Berkurangnya pasokan air dapat menyebabkan produktivitas tanaman pangan dan hortikultura menurun, terutama di daerah-daerah yang menjadi pemasok utama kebutuhan masyarakat Kota Bandung,” katanya.

Ia menjelaskan, keterbatasan lahan pertanian di Kota Bandung membuat kebutuhan pangan masyarakat sangat bergantung pada daerah lain. Komoditas seperti beras, sayuran, cabai, telur, dan berbagai bahan pangan lainnya sebagian besar dipasok dari luar wilayah kota.

“Ketika produksi pertanian di daerah pemasok menurun akibat kemarau panjang, efek berantainya dapat langsung dirasakan masyarakat perkotaan. Bukan hanya menyangkut ketersediaan barang, tetapi juga biaya distribusi dan logistik yang berpotensi meningkat,” jelasnya.

Gin Gin menambahkan, gangguan pada rantai pasok pangan dapat terjadi mulai dari proses produksi hingga distribusi. Jika salah satu mata rantai terganggu, pasokan ke pasar akan berkurang dan berpotensi memicu gejolak harga.

“Yang pasti akan terkena dampak adalah produksi pertanian. Produksi termasuk supply, distribusi, dan logistiknya. Kota Bandung sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah sehingga setiap gangguan produksi maupun distribusi akan berpengaruh terhadap ketersediaan dan harga pangan,” ucapnya.

Selain faktor cuaca, DKPP juga menyoroti kondisi global yang masih memberikan tekanan terhadap sektor pangan. Ketidakpastian ekonomi serta rantai pasok internasional dinilai dapat memperbesar dampak yang ditimbulkan apabila kemarau panjang benar-benar terjadi sesuai prediksi.

Karena itu, Pemkot Bandung terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga dan ketersediaan bahan pokok di pasar tradisional maupun modern untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh kebutuhan pangan dengan harga yang terjangkau.

Menurut Gin Gin, sejumlah komoditas strategis diperkirakan rentan mengalami fluktuasi harga apabila pasokan terganggu. Salah satu yang mendapat perhatian khusus adalah telur ayam, mengingat komoditas tersebut menjadi sumber protein utama yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Ia menilai harga telur yang saat ini relatif stabil, bahkan cenderung lebih rendah dibandingkan beberapa waktu lalu, belum tentu dapat bertahan apabila terjadi gangguan produksi akibat musim kemarau berkepanjangan.

DKPP Kota Bandung memastikan akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan berbagai pihak guna menjaga stabilitas pasokan pangan serta mengantisipasi potensi kenaikan harga selama musim kemarau berlangsung.

(KRO)

No More Posts Available.

No more pages to load.