RADARSUMEDANG.ID, TANJUNGSARI – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Sumedang terus mengintensifkan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Hama Tikus di berbagai sentra pertanian guna mengantisipasi kerusakan tanaman dan potensi gagal panen.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan DPKP Kabupaten Sumedang, Iwan Gustiawan, mengatakan pengendalian hama tikus menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Langkah tersebut juga merupakan tindak lanjut atas arahan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir yang memberikan perhatian khusus terhadap upaya pemberantasan hama tikus di wilayah pertanian.
Menurut Iwan, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) berupa tikus masih terjadi di sejumlah wilayah pertanian di Kabupaten Sumedang. Bahkan sejak awal tahun 2026, permintaan bantuan pengendalian dari kelompok tani terus meningkat.
“Permintaan bantuan pengendalian hama tikus terus meningkat sejak awal tahun 2026. Hampir setiap kecamatan maupun desa mengajukan permohonan pengendalian kepada UPTD Pertanian dan Ketahanan Pangan wilayah masing-masing maupun langsung kepada Dinas Pertanian,” ujarnya kepada awak media, Senin (8/6).
Salah satu kegiatan pengendalian dilakukan UPTD Pertanian dan Ketahanan Pangan Wilayah Tanjungsari bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta petani Kelompok Tani Medal Harapan di Desa Kadakajaya, Kecamatan Tanjungsari.
Dalam kegiatan tersebut, petugas dan petani menerapkan metode pengemposan atau pengasapan liang aktif tikus. Teknik ini dilakukan dengan membakar belerang yang asapnya dialirkan ke dalam lubang sarang menggunakan alat pengempos berbasis tabung gas atau kleret.
Iwan menjelaskan, asap yang masuk ke dalam liang sarang dapat membuat tikus melemah bahkan mati di dalam sarangnya sehingga populasi hama dapat ditekan sebelum menyebabkan kerusakan lebih luas pada tanaman padi.
Selain pengemposan, petani juga menjalankan program Basmikus (Basmi Tikus) melalui penangkapan massal dan pemberantasan sarang aktif. Di sejumlah lokasi, pengendalian turut dilakukan dengan pemasangan umpan rodentisida secara terbatas sesuai rekomendasi petugas lapangan.
“Gerdal tikus merupakan kegiatan pengendalian yang dilakukan secara gotong royong dan serentak. Tujuannya untuk menekan populasi hama, melindungi tanaman padi, serta mengamankan produktivitas dan hasil panen petani,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan pengendalian sangat bergantung pada keterlibatan seluruh petani dalam satu hamparan lahan. Pasalnya, tikus memiliki tingkat reproduksi tinggi dan mampu berpindah lokasi dengan cepat sehingga pengendalian yang dilakukan secara parsial dinilai kurang efektif.
“Selama ini pengendalian cukup efektif menekan populasi tikus. Namun karena pergerakan hama ini sangat dinamis, kondisinya seperti kejar-kejaran. Oleh karena itu idealnya pemberantasan dilakukan secara serentak dalam satu kawasan pertanian agar hasilnya lebih optimal,” ungkapnya.
Iwan menambahkan, serangan tikus biasanya meningkat pada fase vegetatif hingga generatif tanaman padi. Hama tersebut dapat merusak batang muda, memakan anakan padi, hingga menyerang malai yang sedang berisi sehingga berpotensi menurunkan produktivitas secara signifikan.
Sebagai bagian dari penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), DPKP Sumedang juga mendorong petani untuk melakukan sanitasi lingkungan, menutup lubang sarang, membersihkan gulma di sekitar areal persawahan, serta menjaga keseimbangan ekosistem dengan melestarikan musuh alami tikus.
Masyarakat maupun kelompok tani yang mengalami serangan hama tikus dapat mengajukan permohonan pengendalian kepada UPTD Pertanian dan Ketahanan Pangan di wilayah masing-masing. Dalam pelaksanaannya, petani cukup menyiapkan tabung gas dan karung untuk menampung hasil tangkapan tikus.
“Untuk kebutuhan belerang sebagai bahan utama pengemposan terus diupayakan oleh Dinas Pertanian agar kegiatan pengendalian dapat berjalan berkelanjutan di seluruh wilayah Kabupaten Sumedang,” jelasnya.(jim)






