Cuaca Panas Meningkat, Dinkes Jabar Minta Warga Terapkan Pola Hidup Sehat

oleh
Permukiman warga di Kota Bandung. Musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan kering membuat Dinkes Jabar meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit yang muncul akibat cuaca ekstrem.(Diwan Sapta Nurmawan/Radar Bandung)

RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Asap, debu, dan cuaca kering selama musim kemarau berpotensi meningkatkan kasus gangguan pernapasan di Jawa Barat. Dinas Kesehatan Jawa Barat mengingatkan masyarakat agar mewaspadai peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama musim kemarau 2026. Kondisi udara yang semakin kering serta meningkatnya debu dan polusi dinilai menjadi faktor utama yang dapat memicu gangguan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi mengatakan musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang tahun 2026 tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air bersih, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas udara di berbagai daerah.

“Udara yang dipenuhi debu dan asap saat kemarau dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit paru-paru,” ujar Vini, Senin (22/6/2026).

Peningkatan aktivitas pembakaran sampah dan lahan juga berpotensi memperburuk kualitas udara. Kondisi yang dapat memperbesar risiko masyarakat terserang ISPA apabila tidak diantisipasi sejak dini. Selain gangguan pernapasan, Vini turut mengingatkan ancaman dehidrasi akibat suhu udara yang lebih tinggi selama musim kemarau.

“Aktivitas di luar ruangan tanpa asupan cairan yang cukup dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan,” katanya.

Masyarakat juga diminta mewaspadai heatstroke atau kondisi ketika suhu tubuh meningkat secara drastis akibat paparan panas berlebih. Kondisi ini dapat menjadi keadaan darurat medis jika tidak segera ditangani.

“Apabila mengalami gejala suhu tubuh lebih dari 40 derajat celsius, kulit panas dan merah, pusing, muntah, segera cari pertolongan medis,” kata Vini.

Di sisi lain, berkurangnya pasokan air bersih selama kemarau juga dapat meningkatkan risiko penyakit diare. Minimnya ketersediaan air membuat kebersihan lingkungan dan sanitasi rumah tangga menjadi kurang optimal.

Kondisi dapat menyebabkan bakteri dan virus lebih mudah berkembang. Dinkes menilai masyarakat perlu menjaga kebersihan makanan, minuman, serta lingkungan sekitar untuk mencegah penularan penyakit.

“Kemarau berkepanjangan juga dapat memengaruhi produksi pangan akibat kekeringan di sejumlah wilayah. Situasi ini dikhawatirkan menimbulkan persoalan gizi dan meningkatkan risiko malnutrisi,” ungkapnya.

Vini menjelaskan untuk antisipasi berbagai dampak kesehatan, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak minum air putih, serta menjaga waktu istirahat yang cukup.

“Warga yang beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan topi, payung, atau pelindung lain guna mengurangi paparan sinar matahari langsung saat suhu udara meningkat,” ucapnya.

Vini mengajak masyarakat menjaga lingkungan dengan menanam pohon dan memperbanyak ruang hijau sebagai upaya menjaga kualitas udara selama musim kemarau.

Selain itu, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan karena dapat menambah polusi udara dan memperburuk risiko gangguan pernapasan.

“Jangan membakar sampah dan lahan,” ujar Vini.

Vini menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kesehatan dan kualitas lingkungan selama musim kemarau berlangsung.(dsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.