RADARSUMEDANG.id, CONGGEANG – Petani di Desa Padaasih, Kecamatan Conggeang, mengeluhkan minimnya pasokan air untuk kebutuhan pertanian yang telah berlangsung lebih dari dua tahun.
Kerusakan intake irigasi, saluran irigasi tersier, serta jaringan pipanisasi menyebabkan sekitar 400 hektare dari total 700 hektare lahan pertanian terdampak, bahkan sebagian lahan menjadi tidak produktif.
Kondisi tersebut membuat para petani kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah, terutama saat musim tanam. Saat ini, kebutuhan air pertanian di Desa Padaasih masih mengandalkan jalur distribusi dari wilayah desa lain sehingga pasokannya sangat terbatas.
Salah seorang petani Desa Padaasih, Yaya, mengatakan kerusakan fasilitas irigasi telah terjadi selama lebih dari dua tahun dan belum mendapatkan penanganan menyeluruh.
“Sudah lebih dari dua tahun saluran irigasi dan fasilitas penunjangnya rusak. Akibatnya pasokan air dari hulu sampai hilir sangat terbatas. Saat musim tanam, petani sering kesulitan mendapatkan air dan terpaksa bergantian bahkan berebut air untuk mengairi sawah,” ujarnya, Senin (22/6).
Menurut Yaya, kondisi tersebut tidak hanya mengancam hasil produksi pertanian, tetapi juga berpotensi memicu perselisihan antarpetani akibat terbatasnya sumber air yang tersedia.
“Kami khawatir jika kondisi ini terus berlanjut bisa menimbulkan keributan antarpetani. Kami berharap pemerintah segera memperbaiki saluran irigasi dan jaringan pipanisasi agar pasokan air kembali normal, produksi pertanian meningkat, dan kesejahteraan petani dapat terwujud,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Padaasih, Nunu Nugraha, menjelaskan bahwa pemerintah desa hampir setiap musim tanam menerima keluhan dari para petani terkait kekurangan air untuk mengairi lahan pertanian.
“Kondisi saluran irigasi maupun pipanisasi saat ini mengalami kerusakan dan terputus di beberapa titik. Bahkan intake irigasi di hulu sungai hancur akibat pergerakan tanah. Selain itu, terdapat beberapa titik saluran irigasi tersier yang mengalami kerusakan cukup parah,” ungkapnya.
Nunu menambahkan, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama sehingga pemerintah desa belum mampu melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap infrastruktur irigasi yang rusak.
“Setiap musim tanam kami selalu menampung aspirasi dari para petani, tapi kami memiliki keterbatasan pada anggaran, juga material terbatas,” katanya.
Meski demikian, pemerintah desa bersama kelompok tani terus berupaya mengatasi persoalan tersebut dengan melakukan koordinasi dan pengaturan distribusi air secara bergilir agar lahan pertanian yang mengalami kekeringan tetap memperoleh pasokan air.
“Kami terus melakukan pengaturan pembagian air bersama kelompok tani agar lahan yang terdampak tetap bisa terairi. Namun, solusi permanen tetap membutuhkan perbaikan infrastruktur irigasi dan pipanisasi,” tambahnya.
Pemerintah Desa Padaasih berharap adanya dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sumedang, maupun diatasnya, untuk membantu pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi serta piimbuhnya, sesuai yang diajukan.
“Langkah dari pemerintah desa kami berkoordinasi dengan kelompok tani agar air yang bisa terbagi,” imbuhnya.
Dengan perbaikan tersebut, kebutuhan air bagi para petani diharapkan dapat terpenuhi sehingga produktivitas pertanian kembali normal dan lahan yang saat ini tidak produktif dapat kembali dimanfaatkan.
“Dari pendataan terakhir tahun 2025 ada sekitar 10 persen lahan pertanian yang hilang, karena terdampak kerusakan irigasi ini,” tuturnya. (gun)






