RADARSUMEDANG.id — Tren budaya ngopi yang terus berkembang di berbagai kalangan masyarakat, terutama generasi muda, menjadi angin segar bagi sektor perkebunan kopi di Kabupaten Sumedang.
Meningkatnya konsumsi kopi lokal berbanding lurus dengan semakin tingginya minat masyarakat mengembangkan usaha budidaya kopi.
Dampaknya, produksi kopi Sumedang terus meningkat dan kini mulai mampu bersaing hingga pasar internasional.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Sumedang, saat ini terdapat sekitar 6.640 petani yang membudidayakan tanaman kopi.
Jumlah tersebut tersebar di berbagai wilayah sentra perkebunan dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan.
Kepala DPKP Kabupaten Sumedang Tono Suhartono melalui Kepala Bidang Perkebunan, Ir. Sunsun Gartini, mengatakan perkembangan sektor kopi di Sumedang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang sangat positif.
Tingginya animo masyarakat untuk bertani kopi telah membawa Sumedang menjadi salah satu daerah penghasil kopi yang cukup diperhitungkan di Jawa Barat.
“Betul, jadi tingginya animo warga untuk bertani kopi ini ternyata telah berhasil mendorong Kabupaten Sumedang menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Jawa Barat. Sekarang hasil produksi kopi di Sumedang sudah mencapai 916,152 ton per tahun,” kata Sunsun kepada sejumlah awak media, belum lama ini.
Ia menjelaskan, geliat perkebunan kopi mulai terlihat sejak tahun 2020. Saat itu semakin banyak masyarakat memanfaatkan lahan di kawasan perbukitan dan pegunungan untuk ditanami kopi.
Didukung kondisi geografis yang berada pada ketinggian ideal, berbagai wilayah di Sumedang dinilai memiliki karakter lahan yang sangat cocok untuk menghasilkan kopi berkualitas dengan cita rasa khas.
Perkembangan tersebut terlihat dari bertambahnya luas areal perkebunan kopi. Jika sebelumnya hanya kurang dari 1.500 hektare, kini telah mencapai sekitar 3.707 hektare dengan produktivitas rata-rata 0,588 ton per hektare.
Menurut Sunsun, kebun kopi tersebut tersebar di 23 kecamatan sehingga menunjukkan bahwa komoditas kopi telah berkembang hampir merata di Kabupaten Sumedang.
“Ribuan hektare lahan perkebunan kopi ini tersebar di 23 kecamatan. Artinya, persebaran komoditas kopi di Sumedang sudah cukup merata di berbagai wilayah,” ujarnya.
Data produksi tahun 2025 mencatat para petani berhasil memanen kopi dalam bentuk buah ceri sebanyak 4.580,759 ton. Setelah melalui proses pengolahan, hasil tersebut setara dengan sekitar 916,152 ton biji kopi yang siap dipasarkan.
Tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal dan regional, kopi Sumedang kini juga mulai diminati pembeli dari luar negeri. Permintaan datang melalui berbagai jalur pemasaran, termasuk penjualan secara daring yang semakin memudahkan petani maupun pelaku usaha kopi menjangkau pasar ekspor.
“Sesuai informasi dari para petani, sekarang mereka sudah banyak menerima pesanan secara online dari pembeli asal luar negeri, baik itu pesanan untuk kopi jenis arabika ataupun robusta,” ungkap Sunsun.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi peluang besar yang harus terus dijaga. Peningkatan kualitas budidaya, penggunaan bibit unggul, penerapan standar panen yang baik, hingga pengolahan pascapanen menjadi faktor penting agar mutu kopi Sumedang tetap terjaga dan mampu bersaing di pasar global.
Selain peningkatan produksi, pengembangan hilirisasi juga dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan nilai tambah komoditas kopi. Melalui pengolahan menjadi kopi sangrai (roasted bean), kopi bubuk premium, hingga produk olahan lainnya, nilai jual hasil perkebunan dapat meningkat sehingga memberikan keuntungan lebih besar bagi petani dan pelaku UMKM.
Di sisi lain, menjamurnya kedai kopi yang menggunakan biji kopi lokal menjadi peluang baru bagi petani Sumedang.
“Kolaborasi antara petani, pelaku usaha, komunitas kopi, dan pemerintah diharapkan mampu membangun ekosistem kopi yang semakin kuat sekaligus memperluas promosi kopi khas Sumedang ke pasar nasional maupun internasional,” katanya.
Lebih lanjut dirinya meyakini potensi perkebunan kopi di Kabupaten Sumedang masih akan terus berkembang.
“Tentunya dengtdukungan pembinaan yang berkelanjutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan pemasaran, sektor kopi diyakini mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan ribuan petani yang menggantungkan hidupnya pada komoditas tersebut,” katanya. (jim)







