RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Asia Africa Festival (AAF) 2026 tidak hanya menghadirkan atraksi budaya dan menjadi magnet wisata di Kota Bandung, tetapi juga mencatat capaian penting di bidang lingkungan. Selama penyelenggaraan festival, panitia bersama pegiat lingkungan berhasil mengumpulkan 807,58 kilogram sampah plastik dari empat titik pengumpulan, sebagai bagian dari komitmen menghadirkan festival yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa mengatakan pengelolaan sampah menjadi salah satu agenda utama dalam pelaksanaan AAF 2026. Kolaborasi dengan komunitas lingkungan WAHU dilakukan untuk memastikan limbah yang dihasilkan selama festival tidak berakhir begitu saja di tempat pembuangan akhir.
Adi mengungkapkan hasil pengumpulan selama rangkaian kegiatan mencapai 807,58 kilogram sampah plastik atau hampir satu ton. Jika dihitung berdasarkan volumenya, jumlah setara dengan sekitar 18 meter kubik sampah yang berhasil diamankan untuk selanjutnya diproses melalui sistem pengelolaan terpadu.
“Selama kegiatan berlangsung kita bekerja sama dengan pegiat lingkungan WAHU dan berhasil mengumpulkan sampah plastik hingga 807,58 kilogram,” ujar Adi, Jumat (17/7/2026).
Adi menjelaskan seluruh sampah yang terkumpul tidak langsung dibuang, melainkan dipilah sesuai jenisnya sejak awal proses pengumpulan, agar setiap kategori sampah dapat diolah menggunakan metode yang sesuai dan memiliki nilai manfaat, sekaligus mengurangi beban sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.
Menurutnya, dari hasil pemilahan, sekitar 80 persen sampah yang terkumpul merupakan sampah plastik. Sisanya terdiri atas 10 persen sampah organik dan 10 persen sampah residu. Komposisi menunjukkan penggunaan plastik sekali pakai masih mendominasi limbah yang dihasilkan selama penyelenggaraan festival berskala internasional.
Adi menyebut data menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara untuk terus memperkuat kampanye pengurangan sampah plastik pada penyelenggaraan festival berikutnya. Selain mengedukasi pengunjung, panitia juga ingin mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
Adi menilai pengelolaan sampah tidak bisa dipisahkan dari konsep festival modern. Keberhasilan sebuah event tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung maupun kemeriahan acara, tetapi juga dari kemampuan penyelenggara menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan selama kegiatan berlangsung.
Adi menegaskan seluruh sampah plastik yang terkumpul langsung diarahkan ke sistem pengelolaan terpadu agar dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali. Sementara sampah organik dan residu dipisahkan sejak awal sehingga proses penanganannya menjadi lebih efektif.
“Jadi kegiatan ini ingin menunjukkan kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan sampah. Sampah plastik yang terkumpul langsung dikelola secara terpadu, sedangkan sampah organik dan residu juga dipisahkan sesuai jenisnya,” tegas Adi.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas lingkungan menjadi salah satu kunci keberhasilan program tersebut. Kehadiran WAHU dinilai memperkuat pelaksanaan pengelolaan sampah melalui sistem pemilahan, pengumpulan, hingga penanganan pascaacara yang lebih terstruktur.
“Program itu sekaligus menjadi bukti bahwa penyelenggaraan festival internasional dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan. Pendekatan mampu menjadi contoh bagi pelaksanaan berbagai agenda besar lainnya di Kota Bandung maupun daerah lain,” ungkapnya.
Selain menghasilkan dampak ekonomi melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, AAF 2026 juga membawa pesan penting mengenai budaya hidup bersih dan pengurangan sampah plastik.
“Edukasi kepada masyarakat dilakukan secara langsung melalui praktik pengelolaan sampah selama festival berlangsung,” ujar Adi.
Adi menambahkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah terus meningkat, tidak hanya saat menghadiri festival, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan perilaku dinilai menjadi faktor penting untuk menekan produksi sampah plastik yang masih mendominasi limbah perkotaan.
Adi pun kembali menegaskan melalui capaian pengumpulan lebih dari 807 kilogram sampah plastik dan sistem pengelolaan yang terintegrasi, Asia Africa Festival 2026 menunjukkan perhelatan budaya berskala internasional tidak hanya mampu menarik wisatawan, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun budaya peduli lingkungan serta memperkuat citra Bandung sebagai kota penyelenggara event yang berkelanjutan.(dsn)





