Sepakati Kerja Sama BRT Bandung Raya, Jatinangor Dapat Dua Rute Bus Listrik

oleh
Halte Bus UNPAD Jatinangor yang menjadi titik pemberhentian bus yang menuju ke sejumlah titik di Bandung Raya. Halte ini akan dijadikan koridor untuk proyek BRT Bandung Raya di Jatinangor. (For Radar Sumedang )

RADARSUMEDANG.id — Kabupaten Sumedang resmi menjadi bagian dari pengembangan layanan Bus Rapid Transit (BRT) Metropolitan Cekungan Bandung (Bandung Raya) setelah Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menandatangani Kerja Sama Daerah dengan Daerah Lain (KSDD) terkait penyediaan Public Service Obligation (PSO) untuk operasional layanan transportasi massal tersebut.

Penandatanganan kerja sama disaksikan langsung oleh Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama kepala daerah di kawasan Bandung Raya, yakni Wali Kota Bandung, Wali Kota Cimahi, Wakil Bupati Bandung, Bupati Bandung Barat, serta Bupati Sumedang.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Aan Suhanan, menjelaskan bahwa pembangunan BRT Cekungan Bandung merupakan bagian dari Indonesia Mass Transit Project (MASTRAN) yang didukung Pemerintah Indonesia, World Bank, dan Agence Française de Développement (AFD).

Menurut Aan, proyek tersebut dirancang untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang modern, cepat, nyaman, serta mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.

“Melalui pembangunan infrastruktur dan penerapan Intelligent Transportation System (ITS), layanan BRT Cekungan Bandung ditargetkan memiliki waktu tunggu maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan lima belas menit pada jam tidak sibuk. Harapannya masyarakat semakin beralih menggunakan transportasi publik sehingga kemacetan dan emisi dapat ditekan,” kata Aan kepada sejumlah awak media.

Secara keseluruhan, proyek BRT Cekungan Bandung meliputi pembangunan enam depo BRT, 719 halte off-corridor, 34 halte on-corridor, jalur khusus BRT sepanjang 21 kilometer, serta sistem ITS metropolitan yang akan mengintegrasikan layanan transportasi di kawasan Bandung Raya.

Total nilai pembiayaan proyek mencapai 264 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp3,8 triliun. Sementara itu, pembangunan infrastruktur jalur dan koridor halte BRT memiliki nilai investasi sekitar Rp1,3 triliun.

Aan menambahkan, penerapan ITS dan pengoperasian BRT Metropolitan Cekungan Bandung diharapkan mampu menghadirkan layanan angkutan umum yang lebih pasti, cepat, nyaman, dan dapat diandalkan.

“Dengan sistem transportasi yang semakin baik, masyarakat diharapkan lebih tertarik menggunakan angkutan umum sehingga mampu mengurangi kemacetan sekaligus menekan emisi kendaraan di kawasan Bandung Raya,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa transportasi publik modern merupakan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus menjadi bagian penting dalam membangun kawasan perkotaan yang lebih tertata dan ramah lingkungan.

Menurutnya, keberadaan BRT harus dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan publik lainnya, seperti pembangunan trotoar yang layak, penerangan jalan, keamanan, hingga perubahan budaya masyarakat agar terbiasa menggunakan transportasi umum.

Ia mengatakan, proyek ini menjadi kabar baik bagi masyarakat Bandung Raya, termasuk Kabupaten Sumedang, khususnya kawasan Jatinangor yang memiliki posisi strategis sebagai kawasan pendidikan.

“Sumedang memiliki wilayah Jatinangor yang sangat dekat dengan Kabupaten Bandung dan Kota Bandung. Nantinya kawasan tersebut akan terintegrasi dengan wilayah terluar Kota Bandung hingga Cimahi (Cibeureum), termasuk menghubungkan Kampus Universitas Padjadjaran di Jatinangor dengan Kampus Unpad Dipatiukur di Kota Bandung,” terangnya.

Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir menyambut baik masuknya Jatinangor dalam jaringan layanan BRT Metropolitan Cekungan Bandung. Menurutnya, Jatinangor merupakan etalase Kabupaten Sumedang sekaligus pusat pendidikan tinggi yang setiap hari menjadi tujuan mobilitas ribuan mahasiswa, dosen, pekerja, dan masyarakat.

“Ini menjadi kegembiraan bagi masyarakat. Jatinangor sebagai etalase Sumedang dan juga pusat pendidikan tinggi kini masuk wilayah layanan BRT. Hal ini akan semakin memudahkan mobilitas masyarakat dengan transportasi publik yang lebih baik, nyaman, dan terjangkau,” ujar Dony.

Dalam tahap awal, kawasan Jatinangor akan dilayani oleh dua koridor BRT. Koridor pertama yakni BRT 13 dengan rute Jatinangor–Cibeureum melalui Jalan Soekarno-Hatta. Sementara koridor kedua adalah BRT 18 dengan rute Jatinangor–Dipatiukur melalui Jalan Tol Cileunyi yang secara khusus menghubungkan Kampus Unpad Jatinangor dengan Kampus Unpad Dipatiukur di Kota Bandung.

Seluruh armada yang beroperasi pada kedua koridor tersebut direncanakan menggunakan bus listrik sehingga bebas emisi dan lebih ramah lingkungan, sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan sistem transportasi berkelanjutan di kawasan Bandung Raya. (jim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.