RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Menjelang penutupan operasional Terminal Cicaheum sebagai tindak lanjut pembangunan depo transportasi publik di kawasan Cicaheum, para pedagang mulai merasakan dampak ekonomi yang signifikan. Aktivitas terminal menurun drastis setelah sebagian besar bus antarkota dialihkan ke Terminal Leuwipanjang, sementara kompensasi bagi pedagang terdampak hingga kini belum juga dicairkan.
Perwakilan warga sekaligus pedagang Terminal Cicaheum, Ronny mengatakan kondisi Terminal Cicaheum membuat mayoritas pedagang kesulitan bertahan. Meski sekitar 90 persen kios masih beroperasi, minimnya bus yang masuk menyebabkan jumlah penumpang terus menyusut dan transaksi harian ikut anjlok.
Ronny mengungkapkan sejak penandatanganan kesepakatan kompensasi, 24 Juli 2026, para pedagang belum menerima kepastian mengenai jadwal pencairan bantuan.
“Informasi yang diterimanya menyebutkan proses pencairan masih menunggu penyelesaian pembebasan lahan yang hingga kini terkendala karena masih ada tiga rumah yang belum mencapai kesepakatan,” ujar Ronny, Minggu (2/8/2026).
Ronny mengatakan ketidakpastian itu membuat pedagang berada dalam posisi sulit. Mereka tetap membuka usaha setiap hari dengan harapan masih ada penumpang yang datang, namun kenyataannya sebagian besar armada bus antarkota sudah tidak lagi beroperasi dari Terminal Cicaheum.
Ronny meminta pemerintah dan pihak terkait segera mengizinkan armada bus kembali masuk ke Terminal Cicaheum, setidaknya hingga kompensasi benar-benar diterima oleh seluruh pedagang.
“Langkah yang dapat membantu pelaku usaha menghabiskan stok dagangan dan menjaga pemasukan selama masa transisi,” katanya.
Ronny menilai keberadaan bus menjadi faktor utama yang menggerakkan roda ekonomi di lingkungan Terminal Cicaheum. Tanpa lalu lintas penumpang, warung makan, kios kebutuhan perjalanan, hingga pedagang kecil kehilangan sumber pembeli yang selama ini menjadi tulang punggung usaha mereka.
Ronny menjelaskan,m saat ini sekitar 99 persen armada bus AKAP maupun AKDP telah bersiaga dan beroperasi dari Terminal Leuwipanjang. Kondisi membuat Terminal Cicaheum praktis kehilangan aktivitas utama yang selama puluhan tahun menjadi pusat keberangkatan dan kedatangan penumpang di wilayah timur Kota Bandung.
“Hanya beberapa perusahaan otobus yang masih terlihat masuk ke Terminal Cicaheum. Di antaranya Budiman, Hibaputra, Primajasa, Santika, Sahala, dan KYM. Sementara operator lainnya telah lebih dulu memusatkan operasional di Terminal Leuwipanjang,” ucapnya.
Ronny pun menuturkan berkurangnya jumlah armada yang masuk berdampak langsung terhadap omzet para pedagang. Banyak kios yang tetap buka dari pagi hingga malam, namun hanya melayani sedikit pembeli dibandingkan kondisi normal sebelum pengalihan operasional dilakukan.
“Para pedagang mengaku tidak menolak rencana pembangunan depo transportasi publik yang akan menggantikan fungsi Terminal Cicaheum. Namun mereka berharap proses transisi dilakukan secara bertahap agar pelaku usaha kecil tidak menjadi pihak yang paling dirugikan,” ungkapnya.
Selain meminta percepatan pencairan kompensasi, pedagang juga berharap pemerintah memberikan kepastian jadwal penutupan terminal.
“Kepastian pencairan kompensasi dinilai penting agar mereka dapat menyusun langkah usaha berikutnya, termasuk menghabiskan stok barang maupun mempersiapkan relokasi jika diperlukan,” ujar Ronny.
Ronny mengatakan ketidakjelasan waktu pencairan bantuan membuat pedagang kesulitan mengambil keputusan. Mereka tetap harus membayar kebutuhan operasional harian, sementara pendapatan terus menurun akibat minimnya aktivitas transportasi di terminal.
Ronny berharap koordinasi antara pemerintah daerah, pengelola terminal, dan instansi terkait dapat segera diselesaikan sehingga bus dapat kembali masuk sementara waktu atau kompensasi segera disalurkan kepada seluruh pedagang yang terdampak.
Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan operasional Terminal Cicaheum akan mulai ditutup pada pekan depan sebagai bagian dari tahapan pembangunan depo transportasi publik di kawasan Cicaheum. Penutupan dilakukan setelah seluruh koordinasi lintas instansi dinyatakan rampung.
Ronny menambahkan proses penutupan terminal tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan ekonomi masyarakat yang selama ini menggantungkan mata pencaharian dari aktivitas Terminal Cicaheum.
“Mereka meminta pemerintah memastikan masa transisi berjalan adil sehingga pembangunan tidak meninggalkan persoalan sosial bagi warga terdampak,” kata Ronny.(dsn)




