Oleh: Dr. Ir. Dudi, S.Pt., M.Si., IPM
RADARSUMEDANG.id — Di tengah pesatnya modernisasi Jawa Barat, benteng pertahanan keamanan hayati ternak lokal berdiri kokoh di Desa Marongge, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang. Di Kawasan bersejarah ini, Kerbau Maronnge tidak hanya dipelihara sebagai simbol budaya atau pembajak sawah, melainkan disimpan sebagai aset biologis bernilai tinggi: plasma nutfah yang adaptif terhadap iklim lokal, pakan marjinal dan tahan terhadap penyakit endemis.
Namun, keberadaan plasma nufah lokal ini dibayangi ancaman erosi genetik akibat penurunan populasi dan perkawinan sekerabat (inbreeding). Untuk memulihkannya, penerapan Community-Based Breeding Program (CBBP) atau pemuliaan berbasis komunitas hadir sebagi solusi ilmiah yang aplikatif.

Peternak Lokal Sebagi Penjaga Palsma Nutfah
Dalam kerangka CBPP, pemuliaan tidak lagi bertumpu pada laboratorium elit, melainkan berakar langsung di padang penggembalaan. Para peternak ditransformasikan menjadi “pahlawan genetik” aktor utama yang mengelola silsilah dan seleksi ternak secara mandiri namun terstruktur.
Strategi pemuliaan komunitas ini memadukan kearifan lokal dengan genetika kuantitatif dasar melalui tiga langkah mendasar:
1. Pencatatan Silsilah Sederhana: Peternak mendata garis keturunan induk dan pejantan untuk menghindari perkawinan antarkerabat dekat yang memicu penurunan kualitas fisik (inbreeding depression).
2. Seleksi Fenotipe Partisipatif: Penentuan pejantan unggul berdasarkan kriteria kuantitatif seperti pertambahan bobot badan, lingkar dada, serta daya tahan terhadap kondisi iklim ekstrem.
3. Rotasi Pejantan (Gene Flow): Memfasilitasi pertukaran pejantan antarkelompok peternak di tingkat desa guna memperluas variasi genetik tanpa harus membeli ternak baru dari luar daerah.
Sinergi Sains dan Ekonomi Perdesaan
Keberhasilan program ini membutuhkan kolaborasi erat antara kelompok peternak, peneliti perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Akademisi berperan memberikan pendampingan teknis seperti analisis statistik fenotipe dan pemetaan kriteria seleksi, sementara peternak menjamin keberlanjutan operasional harian. Mengawal kualitas genetik Kerbau Marongge bukan sekedar melestarikan ikatan historis masyarakat Sumedang. Lebih dari itu, pemuliaan ini adalah investasi strategis untuk menjaga kedaulatan pangan dan menyediakan sumber protein hewani yang tangguh di masa depan. Ketika peternak di pelosok desa dibekali literasi genetik yang memadai mereka secara otomatis menjadi benteng terdepan dalam menjaga keberlanjutan biodiversitas Nusantara.(*)
*)Pakar Pemuliaan Ternak Tropis
Departemen Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran






