Unpad Terima 12.982 Mahasiswa Baru, Persaingan Tembus 163 Ribu Pendaftar

oleh
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi saat berdialog dan menerima sejumlah aspirasi mahasiswa. (For Radar Sumedang).

RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Universitas Padjadjaran (Unpad) menerima 12.982 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027. Mereka resmi diterima melalui Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru yang menjadi bagian dari rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Penerimaan Raya Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran (Prabu) 2026.

Upacara tersebut digelar di Stadion Jati Padjadjaran, Unpad Kampus Jatinangor, Senin (10/8). Ribuan mahasiswa baru mengikuti kegiatan yang menjadi penanda dimulainya babak baru mereka sebagai bagian dari keluarga besar Unpad.

Berdasarkan Keputusan Rektor Unpad Nomor 2396/UN6.RKT/Kep/HK/2026 tentang Penetapan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027, mahasiswa yang diterima terdiri atas 354 mahasiswa program doktor, 1.566 magister, 300 spesialis, 69 subspesialis, 752 profesi, 8.759 sarjana, serta 1.182 sarjana terapan.

Jumlah tersebut merupakan hasil seleksi dari 163.502 pendaftar yang mengikuti berbagai jalur penerimaan di seluruh jenjang dan program studi. Dengan demikian, mahasiswa yang diterima hanya sebagian dari total pendaftar yang bersaing memperebutkan kursi pendidikan di Unpad.

Rektor Unpad Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita meminta mahasiswa baru tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diperoleh. Tingginya persaingan, menurut dia, harus menjadi pengingat bahwa terdapat tanggung jawab besar yang melekat pada status mereka sebagai mahasiswa.

“Jangan sia-siakan setiap detik yang kalian perjuangkan dengan susah payah ini dan isilah dengan ketekunan dalam proses pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas,” ujar Arief dalam sambutannya.

Dia menegaskan, hari penerimaan mahasiswa baru harus menjadi penanda dimulainya perjalanan baru. Mahasiswa tidak hanya dituntut berprestasi secara akademik, tetapi juga mampu berkembang melalui berbagai pengalaman di lingkungan kampus.

Unpad, lanjut Arief, terus memegang visi Unggul, Inklusif, dan Berdampak. Salah satu bentuk komitmen inklusivitas tersebut diwujudkan melalui pengelolaan dana beasiswa yang bersumber dari internal maupun eksternal kampus.

“Dalam setiap langkah kalian di Unpad, pegang teguh nilai-nilai utama kita bersama, yaitu: Sinergi, Kesetaraan, Progresif, Berketuhanan, Integritas, Keterbukaan, dan Berdampak,” katanya.

Arief juga mendorong mahasiswa aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, organisasi menjadi ruang penting untuk belajar kepemimpinan, beradaptasi, berkolaborasi, sekaligus mengelola konflik yang tidak sepenuhnya diperoleh melalui pembelajaran di dalam kelas.

“Kejujuran dalam ujian, keberanian dalam mengakui kesalahan, dan integritas dalam riset adalah pondasi sejati dari keunggulan,” tegasnya.

Kegiatan PKKMB-Prabu 2026 turut dihadiri Gubernur Jawa Barat H. Dedi Mulyadi Ia memberikan kuliah umum sekaligus berdialog langsung dengan mahasiswa baru.

Dedi menyampaikan pesan agar mahasiswa tidak berkecil hati menghadapi keterbatasan maupun berbagai persoalan selama menempuh pendidikan. Menurutnya, keberhasilan tidak semata-mata ditentukan fasilitas ataupun kondisi ekonomi.

“Pendidikan bukan hanya di fasilitas. Kualitas itu adalah kemauan kita untuk menjadi orang sukses. Jangan pernah berkecil hati dengan keadaan. Justru keadaan itu adalah jalan untuk menuju kemajuan,” ujar Dedi.

Dalam dialog tersebut, Dedi menerima sejumlah aspirasi mahasiswa. Di antaranya terkait biaya kuliah, bantuan pendidikan, hingga layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas.

Dedi juga berbagi pengalaman mengenai perjuangannya menempuh pendidikan. Ia mengaku pernah memiliki keinginan berkuliah di Unpad, tetapi keterbatasan ekonomi membuatnya harus bekerja sambil melanjutkan pendidikan. Kini, dia tengah menempuh pendidikan doktoral di Unpad.

“Beruntunglah jadi orang miskin. Beruntunglah jadi orang tertinggal. Dia punya semangat juang untuk menjadi orang kaya dan orang sukses,” ungkapnya.

Dalam sesi dialog, seorang mahasiswa baru penyandang disabilitas turut menyampaikan pengalamannya dalam mengakses pendidikan inklusif. Mahasiswa tersebut juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi dan meminta nasihat agar tetap memiliki semangat melanjutkan pendidikan.

Menjawab hal itu, Dedi memberikan pesan singkat namun penuh makna.

“Kata hati lebih tajam daripada mata yang bisa melihat,” katanya.

Dedi kemudian mengajak seluruh mahasiswa baru untuk tidak menyerah menghadapi kesulitan selama menjalani kehidupan kampus. Keterbatasan ekonomi maupun tantangan hidup, menurut dia, bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

“Pengalaman hidup yang sangat pahit akan membawa orang pada keberhasilan. Orang yang banyak mengalami kepahitan dalam perjalanan hidupnya, dia akan meraih kesuksesan,” pungkasnya. (tha)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.