RADARSUMEDANG.id – Persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat kian kompleks. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Peran keluarga dinilai menjadi kunci untuk mencegah berbagai persoalan tersebut sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sumedang pun terus memperkuat upaya pencegahan melalui program Sosialisasi Bimbingan Fisik, Mental, Spiritual, dan Sosial.
Kegiatan tersebut tidak hanya menyasar individu yang memiliki persoalan sosial. Dinsos juga melibatkan berbagai elemen masyarakat yang dinilai memiliki peran strategis dalam upaya pencegahan.
Mulai dari pengurus Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS), tokoh masyarakat hingga mahasiswa dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Sumedang Agus Khaeruman mengatakan, kompleksitas persoalan sosial saat ini menuntut keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Pencegahan, kata dia, harus dimulai dari lingkungan paling kecil, yakni keluarga.
“Kami melihat fenomena sosial saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Fenomena ini menuntut perhatian dan tindakan bersama seluruh lapisan masyarakat,” kata Agus kepada Radar Sumedang, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, persoalan sosial tidak bisa dilihat hanya dari aspek fisik. Kondisi mental, spiritual, lingkungan pergaulan hingga keluarga turut memengaruhi perilaku seseorang.
Karena itu, penguatan karakter sejak usia dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah seseorang terjerumus ke dalam perilaku menyimpang.
“Keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk mental dan karakter individu. Maka orang tua dan keluarga harus menanamkan nilai-nilai agama, moral, serta norma positif secara konsisten sejak dini,” ujarnya.
Agus menilai, keluarga memiliki posisi strategis karena menjadi lingkungan pertama tempat anak berinteraksi. Pola komunikasi, pengawasan, keteladanan serta perhatian orang tua turut menentukan perkembangan perilaku anak.
Apalagi, perkembangan teknologi dan arus informasi membuat anak maupun remaja semakin mudah mengakses berbagai konten. Tidak semuanya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
“Jadi, pencegahan itu harus dimulai dari keluarga. Jangan sampai ketika sudah terjadi masalah baru kemudian kita melakukan penanganan,” tegasnya.
Di sisi lain, tokoh masyarakat dan organisasi sosial juga diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam mendeteksi berbagai persoalan sosial di lingkungannya. Mereka dapat berperan sebagai penghubung antara masyarakat dan pemerintah ketika menemukan persoalan yang membutuhkan penanganan.
Mahasiswa juga dilibatkan sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi sosial. Sebagai kelompok generasi muda, mahasiswa diharapkan mampu memberikan perspektif sekaligus menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Dinsos menghadirkan tiga narasumber dari lintas sektor. Mereka berasal dari Ketua Pusat Rehabilitasi dan Advokasi (Prada), Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sumedang, serta Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang.
Keterlibatan narasumber dari berbagai latar belakang tersebut diharapkan memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada peserta. Sebab, persoalan sosial kerap berkaitan dengan berbagai aspek, mulai keluarga, lingkungan, budaya, pendidikan hingga kondisi masyarakat.
“Harapannya para peserta bisa menjadi agen perubahan. Apa yang didapatkan dalam kegiatan ini bisa disampaikan kembali kepada masyarakat sehingga kepedulian dan kesadaran sosial semakin kuat,” katanya.
Agus menambahkan, Dinsos berkomitmen melanjutkan kegiatan edukasi dan pembinaan secara berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan sosial sekaligus memperkuat fondasi mental dan spiritual masyarakat.
“Tentunya langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang tidak hanya memiliki ketahanan secara sosial, tetapi juga memiliki fondasi mental dan spiritual yang kuat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, keluarga, lembaga sosial, tokoh masyarakat dan generasi muda, upaya pencegahan diharapkan dapat dilakukan lebih dini sebelum persoalan sosial berkembang menjadi masalah yang lebih besar,” pungkasnya. (jim)





