RADARSUMEDANG.id — Kawasan Curug Buhud di Desa Sukatani, Kecamatan Tanjungmedar, diduga menyimpan jejak kehidupan laut purba.
Dugaan tersebut mencuat setelah sejumlah pegiat geowisata dari luar daerah menemukan struktur batuan yang mengandung endapan fosil cangkang kerang moluska di sekitar kawasan air terjun tersebut.
Temuan itu berada di sekitar aliran Sungai Cipicung dan Sungai Cikandung yang melintasi kawasan persawahan dan perkebunan. Lokasi tersebut selama ini relatif jarang dikunjungi wisatawan, meskipun memiliki bentang alam yang cukup menarik.
Curug Buhud sendiri memiliki karakteristik aliran air yang melebar ketika jatuh di atas hamparan batuan. Bentuknya sekilas menyerupai Air Terjun Niagara dalam ukuran yang jauh lebih kecil. Ketinggian air terjun diperkirakan sekitar 5 hingga 6 meter dengan bentangan aliran air yang cukup lebar.
Ketua Pemandu Geowisata Indonesia, Deni, mengatakan, kondisi geologi di sekitar Curug Buhud menarik perhatian karena memperlihatkan struktur batuan dan lapisan endapan yang diduga terbentuk dalam proses geologi dalam kurun waktu sangat panjang.
Menurutnya, saat pertama kali menginjakkan kaki di kawasan yang dijuluki sebagai “Niagara-nya Sumedang” itu, dirinya langsung melihat adanya indikasi bahwa kawasan tersebut memiliki sejarah geologi yang panjang.
“Melihat langsung struktur batuan ini, ada potensi kawasan Curug ini merupakan laut dalam purba. Di sini pasir dan lempung mengendap dalam jangka waktu yang sangat lama sampai ke dasar laut, sehingga bisa jadi kawasan ini dulunya merupakan laut dalam,” kata Deni sebagaimana dikutip dari Channel YouTube Layau World.
Selain struktur batuan, tim juga menemukan indikasi keberadaan fosil kayu yang berada di antara lapisan batuan yang telah mengalami pengerasan.
Struktur tersebut dinilai menjadi bagian menarik untuk dikaji lebih lanjut guna mengetahui proses pembentukan kawasan tersebut.
Deni menjelaskan, lapisan batuan di kawasan Curug Buhud memperlihatkan adanya material pasir dan lempung yang tersusun secara berlapis. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat menggambarkan proses sedimentasi yang berlangsung secara berulang dalam rentang waktu yang panjang.
“Jadi bayangkan di sini itu laut dalam. Kemudian ada lempung, datang lagi pasir di atas lempung. Proses seperti ini terus berulang. Ada binatang laut purba yang mati kemudian mengendap dan tertutup oleh lempung lainnya,” ujarnya.
Dari pengamatan di lapangan, tim juga menemukan sejumlah cangkang kerang yang tertanam maupun berada di sekitar bebatuan. Ukurannya bervariasi, mulai sekitar 8 hingga 10 sentimeter hingga mencapai ukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa.
“Saya baru kali ini datang ke sungai dan menemukan banyak sisa-sisa kerang seperti ini. Selain itu, ada juga yang menempel di batu dan ditemukan seperti siput purba berukuran kecil,” katanya.
Menurut Deni, keberadaan cangkang moluska tersebut menjadi salah satu temuan yang menarik karena dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi lingkungan pada masa lalu. Namun, untuk memastikan usia dan jenis fosil secara ilmiah, diperlukan penelitian lebih lanjut oleh ahli geologi maupun paleontologi.

Ia juga menduga bentuk Curug Buhud saat ini berkaitan dengan proses geologi berupa pergerakan dan perubahan struktur batuan pada masa lampau. Jejak patahan pada batuan yang membentuk kontur naik-turun disebut turut memengaruhi terbentuknya aliran air terjun.
“Di sini bahkan ditemukan bekas patahan dasar laut dan bentuknya naik turun. Dari proses itu kemudian terbentuklah air terjun seperti sekarang. Tidak heran kalau bentuknya cukup lebar dan sekilas menyerupai Niagara,” jelasnya.
Deni menyebut struktur geologi yang terdapat di kawasan tersebut berkaitan dengan Formasi Kaliwangu. Namun, untuk memastikan hubungan antara batuan, fosil dan formasi geologi yang ada di Curug Buhud, diperlukan kajian lebih mendalam melalui penelitian lapangan dan analisis laboratorium.
“Jadi diantara lapisan batuannya tersimpan fosil-fosil moluska laut, seperti Placuna placenta dan Strombus. Bisa dibayangkan, jutaan tahun lalu, wilayah ini merupakan bagian dari lingkungan laut. Diperkirakan sebelum perubahan geologi perlahan mengangkat dasar laut menjadi daratan,” terangnya.
Temuan di Curug Buhud menambah daftar lokasi di Kabupaten Sumedang yang memiliki potensi menyimpan jejak kehidupan purba. Sebelumnya, temuan fosil juga telah terungkap di kawasan Lembah Cisaar, Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo.
Di kawasan Lembah Cisaar, sejumlah temuan fosil yang pernah menjadi perhatian antara lain cangkang moluska, gigi hiu yang disebut berkaitan dengan Megalodon, serta struktur batuan yang diduga berkaitan dengan lingkungan pantai purba.
Rangkaian temuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah Sumedang memiliki kekayaan geologi yang cukup menarik untuk dikembangkan sebagai bagian dari potensi geowisata. Curug Buhud pun tidak hanya berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai lokasi edukasi mengenai sejarah pembentukan bentang alam dan kehidupan purba.
Meski demikian, temuan fosil dan dugaan mengenai keberadaan laut purba di kawasan Curug Buhud masih memerlukan verifikasi ilmiah. Kajian dari ahli geologi, paleontologi, maupun lembaga penelitian diperlukan untuk menentukan umur batuan, jenis fosil, lingkungan pengendapan serta sejarah geologi kawasan tersebut secara lebih akurat. (jim)





