RADARSUMEDANG.id — Kebijakan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk membantu para pengemudi becak mulai dirasakan masyarakat Kabupaten Sumedang. Sebanyak 220 unit becak listrik disalurkan kepada pengemudi becak di Sumedang melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), sekaligus menjadi momentum transformasi becak tradisional menjadi moda transportasi yang lebih modern, ramah lingkungan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Penyaluran bantuan berlangsung di Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Kamis (10/9/2026). Bantuan tersebut diprioritaskan bagi pengemudi becak lanjut usia sebagai bentuk perhatian terhadap masyarakat yang selama bertahun-tahun mengandalkan tenaga fisik untuk menghidupi keluarga.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menilai bantuan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar pemberian kendaraan. Menurutnya, becak listrik merupakan bentuk penghormatan Presiden kepada para pengemudi becak sekaligus apresiasi terhadap perjuangan mereka dalam mencari nafkah secara halal.

“Bantuan ini bukan sekadar pemberian alat transportasi. Ini merupakan bentuk penghormatan dan kepedulian Bapak Presiden kepada para pengemudi becak, sekaligus penghargaan atas kerja keras mereka selama ini,” ujar Dony.
Ia mengatakan, di balik setiap kayuhan becak terdapat perjuangan seorang kepala keluarga yang tidak mengenal panas maupun hujan demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Di balik kayuhan becak ada perjuangan sebuah keluarga. Ada tanggung jawab seorang bapak untuk menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan mencari rezeki yang halal. Lebih dari itu, ada harga diri dan kemauan untuk terus bekerja keras secara mandiri,” katanya.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Sumedang, Dony menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional yang telah memberikan bantuan 220 unit becak listrik kepada para pengemudi becak di Sumedang.
Dony juga mengapresiasi mekanisme penyaluran bantuan yang dilakukan secara sistematis. Para penerima tidak hanya mendapatkan kendaraan, tetapi terlebih dahulu diberikan pelatihan serta panduan penggunaan agar becak listrik dapat dimanfaatkan secara optimal dan dirawat secara berkelanjutan.
“Saya yakin para penerima akan memanfaatkan dan merawat becak ini dengan sebaik-baiknya. Gunakan untuk hal-hal yang baik, jaga kebersihan dan kondisinya, karena bantuan ini harus memberikan manfaat yang panjang bagi penerima dan keluarganya,” ucapnya.
Dony juga menegaskan, kehadiran becak listrik harus menjadi momentum untuk “menaikkan kelas” transportasi becak di Sumedang. Becak tidak boleh lagi dipandang hanya sebagai sarana mengantarkan penumpang, tetapi harus menjadi bagian dari wajah pelayanan dan keramahan masyarakat Sumedang.
“Becak di Sumedang harus berbeda dan mengikuti perkembangan zaman. Jangan hanya menjadi alat transportasi, tetapi harus menjadi simbol keramahan masyarakat Sumedang,” tegasnya.
Ia meminta para pengemudi membangun budaya pelayanan sederhana namun berkesan melalui senyum, salam, dan sapa kepada setiap penumpang.
“Siapa pun yang naik becak, biasakan senyum, salam, dan sapa. Jangan hanya mengantarkan orang sampai tujuan, tetapi berikan pengalaman yang baik. Orang akan terkesan ketika mereka disambut dengan ramah,” katanya.
Tidak berhenti pada penggunaan kendaraan listrik, Pemkab Sumedang juga menyiapkan ekosistem pendukung agar inovasi tersebut benar-benar berjalan. Salah satunya melalui penyediaan fasilitas pengisian daya atau charging station yang direncanakan berada di kawasan Taman Endog melalui kerja sama dengan PT PLN.
Selain itu, 220 pengemudi penerima bantuan akan difasilitasi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan secara gratis. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memberikan perlindungan dan jaminan sosial bagi para pengemudi yang selama ini bekerja di sektor informal.
Inovasi juga diterapkan pada sistem pembayaran. Pemkab Sumedang mendorong becak listrik dilengkapi pembayaran digital melalui QRIS dengan dukungan Bank BJB Sumedang.
Menurut Dony, digitalisasi tersebut penting agar becak Sumedang tidak tertinggal oleh perkembangan zaman sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menggunakan jasa transportasi tersebut.
“Becak Sumedang harus lain dari yang lain. Kita ingin becak ini mengikuti perkembangan zaman, termasuk dalam sistem pembayarannya. Dengan QRIS, masyarakat akan lebih mudah membayar secara digital dan pengemudi juga semakin terbiasa dengan ekosistem ekonomi digital,” ujarnya.
Dony berharap bantuan tersebut tidak berhenti sebagai program pemberian kendaraan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan kesejahteraan pengemudi sekaligus memperkuat karakter Sumedang sebagai daerah yang ramah, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan.
“Rawat dengan baik, manfaatkan untuk mencari rezeki yang halal, dan jadikan becak ini bagian dari wajah Sumedang. Becak harus bersih, ramah, tertib, modern, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya.(cwp)






