Seberapa Bahaya Influenza A? Kenali Gejala dan Kelompok yang Berisiko

oleh

RADARSUMEDANG.ID, SUMEDANG – Influenza A kerap dianggap tidak berbeda dengan flu atau batuk-pilek biasa. Padahal, infeksi virus ini dapat menimbulkan penyakit berat, terutama pada kelompok tertentu.

Influenza A memang tidak selalu berakhir dengan kondisi serius. Sebagian besar orang dapat pulih tanpa perawatan khusus. Namun, pada kondisi tertentu, infeksi influenza dapat berkembang menjadi komplikasi seperti pneumonia, sepsis, hingga gangguan pada organ lain.

Yang membuat Influenza A mendapat perhatian khusus adalah kemampuannya menjadi penyebab pandemi. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus influenza A merupakan satu-satunya tipe virus influenza yang diketahui dapat menyebabkan pandemi global. Hal itu terjadi ketika muncul virus Influenza A baru yang mampu menular secara efisien antarmanusia, sementara sebagian besar populasi belum memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.

Gejalanya Bisa Datang Mendadak

Berbeda dengan pilek biasa yang umumnya berkembang secara bertahap, influenza cenderung muncul secara mendadak. Gejalanya dapat berupa demam, batuk yang biasanya kering, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, pilek, serta rasa lelah yang cukup berat.

WHO menyebut sebagian besar penderita dapat pulih dari demam dan gejala lainnya dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, batuk dapat berlangsung lebih lama, bahkan dua minggu atau lebih.

Karena gejala influenza dapat menyerupai penyakit pernapasan lainnya, diagnosis tidak selalu dapat ditentukan hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan medis atau tes tertentu dapat diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Bisa Memicu Komplikasi Serius

Risiko influenza tidak hanya berasal dari gejalanya, tetapi juga dari komplikasi yang mungkin muncul. Pneumonia merupakan salah satu komplikasi serius yang dapat terjadi akibat infeksi influenza, baik karena virus secara langsung maupun infeksi bakteri sekunder.

CDC juga mencatat influenza dapat memperburuk penyakit kronis yang sudah dimiliki seseorang. Dalam kasus berat, infeksi dapat berkaitan dengan gangguan pernapasan, sepsis, hingga kegagalan beberapa organ. Komplikasi lain yang lebih jarang antara lain peradangan pada jantung, otak, atau otot.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti setiap orang yang terinfeksi Influenza A akan mengalami komplikasi berat.

Kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi. Di antaranya anak-anak, terutama usia di bawah lima tahun, lansia berusia 65 tahun ke atas, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis seperti asma, diabetes, penyakit jantung atau paru. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah juga termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Mengapa Influenza A Bisa Memicu Pandemi?

Influenza A memiliki banyak subtipe yang ditentukan berdasarkan dua protein permukaan virus, yakni hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Dua subtipe yang rutin beredar pada manusia antara lain A(H1N1) dan A(H3N2).

Virus influenza terus mengalami perubahan. Perubahan kecil pada virus menjadi bagian dari dinamika influenza musiman. Sementara itu, pandemi dapat terjadi ketika muncul virus Influenza A baru yang sangat berbeda dari virus yang sebelumnya beredar pada manusia.

Karena masyarakat belum memiliki kekebalan yang memadai terhadap virus baru tersebut, penyebarannya dapat berlangsung luas. Namun, kemunculan pandemi tidak berarti setiap perubahan pada virus influenza akan otomatis menjadi pandemi.

Flu Bukan Penyakit Baru

Influenza bukan penyakit yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir. Catatan sejarah menunjukkan penyakit dengan gejala menyerupai influenza telah dikenal sejak masa lampau.

Secara ilmiah, virus Influenza A kemudian berhasil diisolasi pada 1933. Sejak itu, penelitian mengenai virus influenza berkembang pesat, termasuk pemahaman mengenai berbagai subtipe dan kemampuannya mengalami perubahan genetik.

Dalam sejarah modern, sejumlah pandemi influenza pernah terjadi. Salah satunya pandemi 1918 yang dikenal sebagai Flu Spanyol. Setelah itu, dunia juga mengalami pandemi influenza pada 1957, 1968, dan 2009. CDC mencatat pandemi terjadi ketika virus Influenza A baru mampu menyebar secara efisien di antara manusia.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

Influenza dapat menyebar dengan mudah dari orang ke orang. Karena itu, menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menghindari kontak dekat ketika sedang sakit, serta tetap berada di rumah saat mengalami gejala menjadi bagian penting dari pencegahan.

Vaksinasi influenza juga menjadi salah satu cara utama untuk mengurangi risiko sakit dan komplikasi. WHO merekomendasikan vaksin influenza tahunan karena virus terus mengalami perubahan dan komposisi vaksin diperbarui secara berkala.

Bagi kelompok berisiko tinggi yang mengalami gejala influenza, pemeriksaan dan penanganan medis lebih dini penting dilakukan. Obat antivirus dapat memberikan manfaat lebih besar jika diberikan sedini mungkin, terutama dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul.

Jadi, Influenza A memang dapat berbahaya, tetapi tingkat keparahannya tidak sama pada setiap orang. Kewaspadaan terutama diperlukan ketika gejala berat muncul atau penderita termasuk kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.(net)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.