RADARSUMEDANG.id, SUMEDANG — Sebuah mobil Daihatsu Zebra Custom yang semula disiapkan untuk membuka usaha Warmindo kini memiliki fungsi yang berbeda. Kendaraan itu justru menjadi sarana berbagi makanan gratis bagi masyarakat di Kabupaten Sumedang.
Mobil tersebut digerakkan oleh Sertu Fahmi Aulia, anggota Kodim 0610/Sumedang, bersama istrinya, Ayudiah Rosmayati. Keduanya mengubah rencana berwirausaha menjadi sebuah gerakan sederhana yang mereka namai Mobil Makan Gratis.
Setiap hari, mobil itu membawa puluhan hingga ratusan porsi makanan yang dibagikan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkan. Tidak ada syarat khusus untuk mendapatkan makanan tersebut.
Ide itu berawal dari kebimbangan Fahmi dan istrinya dalam memanfaatkan kendaraan yang sebelumnya memang dipersiapkan untuk membuka Warmindo. Kesibukan pekerjaan dan mengurus anak membuat rencana usaha tersebut tak kunjung terealisasi.
Daripada kendaraan tersebut hanya terparkir, muncul gagasan untuk memanfaatkannya dalam kegiatan yang menurut Fahmi lebih memberikan kemanfaatan.
“Awalnya karena ada rasa kebimbangan untuk berwirausaha secara mandiri. Mobil ini sebenarnya mau kami gunakan untuk buka Warmindo, tapi karena kesibukan dan mengurus anak tidak jadi-jadi. Akhirnya terpikir, bagaimana kalau dibuat untuk sesuatu yang positif dan bisa mendulang pahala,” kata Fahmi saat ditemui Radar Sumedang di sela kesibukannya menyajikan makanan di kompleks Islamic Center, Jumat (25/9/2026).
Ia mengatakan, gerakan tersebut baru dimulai pada Senin lalu. Pada awalnya, Fahmi dan istrinya hanya bermodal tabungan pribadi untuk menyediakan makanan.
Porsi pertama yang disiapkan sebanyak 120 porsi. Tak disangka, seluruh makanan habis hanya dalam waktu sekitar satu jam.
Hari berikutnya, jumlah makanan yang disediakan masih 120 porsi. Namun antusiasme masyarakat justru semakin besar. Informasi mengenai Mobil Makan Gratis mulai menyebar melalui media sosial, hingga bantuan dari masyarakat berdatangan.
“Kalau dihitung dari tabungan, mungkin hanya bisa bertahan sekitar dua minggu. Tapi atas izin Allah, hari kedua banyak yang membantu. Ada orang-orang baik dari TikTok dan Instagram yang memberikan bantuan. Kami sangat terbuka,” ungkap Fahmi.
Dukungan tersebut membuat jumlah makanan yang disiapkan terus bertambah. Dari awalnya 120 porsi, kini bisa mencapai 180 porsi. Bahkan pada hari Jumat, makanan sebanyak itu hampir habis hanya dalam waktu kurang dari setengah jam.
Bagi Fahmi, cepatnya makanan tersebut habis bukan sekadar menunjukkan antusiasme masyarakat. Ia melihat ada kebutuhan nyata di lapangan, terutama bagi masyarakat yang tengah bekerja dan mencari nafkah.
Karena itu, lokasi pembagian makanan tidak selalu menetap. Fahmi bersama istrinya melihat titik-titik yang ramai dilalui masyarakat, terutama pada waktu makan siang.
“Senin sampai Jumat kami lihat titiknya, dimana banyak orang yang melintas, bekerja, mencari nafkah dan mungkin membutuhkan makan siang. Mungkin nilainya tidak seberapa, tetapi bagi pencari nafkah, makanan untuk anak-anak sangat berharga. Pengeluaran makan siang itu bisa dihemat dan mungkin ditabung untuk kebutuhan lainnya,” terang Fahmi.
Menu yang disajikan pun menyesuaikan dengan bahan makanan yang diperoleh dari para donatur. Jika ada yang menyumbangkan ayam, menu akan dibuat dengan lauk ayam. Begitu pula ketika ada yang memberikan sayuran.
“Misalnya ada yang donasi 150 potong ayam, ya menunya ayam. Ada yang donasi kangkung, kita bikin tumis kangkung. Donasi yang masuk macam-macam dan pada hari itu juga langsung dimasak. Kalau masih ada kekurangan, kami beli,” ujarnya.
Di balik gerakan tersebut, ada peran besar sang istri yang sejak pagi mempersiapkan makanan. Sebagian bahan yang memungkinkan disiapkan sejak malam, kemudian proses memasak dilanjutkan pada pagi hari.
Setelah menjalankan tugas kedinasannya, Fahmi menyempatkan diri datang untuk membantu pembagian makanan. Usai kegiatan selesai, ia kembali menjalankan tugasnya.
Rutinitas tersebut tentu membutuhkan tenaga dan waktu. Namun Fahmi merasa pilihan itu justru lebih bermakna dibandingkan jika kendaraan tersebut digunakan untuk membuka Warmindo yang harus beroperasi hingga malam.
“Kalau Warmindo mungkin sampai malam. Kalau ini satu jam sudah habis dan saya merasa pahalanya lebih besar,” katanya.
Fahmi sendiri bukan orang yang baru mengenal kehidupan jauh dari keluarga. Selama sekitar delapan tahun, ia menjalankan tugas di Papua sebelum akhirnya kembali ke Sumedang dan berkumpul bersama keluarga.
Kini, ketika kendaraan sudah dimiliki, anak sudah ada dan kehidupan keluarga berjalan, ia merasa ada satu hal lagi yang ingin dipersiapkan.
“Saya delapan tahun tugas di Papua, kemudian kembali ke sini berkumpul bersama keluarga. Kendaraan sudah punya, anak ada. Mau cari apa lagi? Tinggal cari bekal buat akhirat nanti,” ucapnya.
Fahmi berharap Mobil Makan Gratis tersebut tidak berhenti sebagai gerakan kecil yang hanya berlangsung sesaat. Ia ingin keberadaannya bisa bertahan panjang dan suatu saat menjadi gerakan bersama yang menjangkau lebih banyak wilayah di Sumedang.
“Harapan saya mobil ini umurnya panjang. Saya bisa terus memberikan kemanfaatan dan ke depannya menjadi gerakan yang masif, khususnya di Sumedang. Bukan hanya di Sumedang kota, mungkin bisa ke bagian timur, barat atau titik-titik yang belum pernah dijangkau,” jelas Fahmi.
Keyakinan itu tumbuh dari dukungan yang datang hanya beberapa hari setelah gerakan tersebut dimulai. Menurutnya, Sumedang tidak kekurangan orang-orang baik yang mau berbagi.
“Sumedang tidak kekurangan orang baik. Buktinya hari kedua sudah banyak donasi yang masuk,” pungkas Fahmi. (jim)







