Oleh: Naya Sunarya*
RADARSUMEDANG.id — Ada paradoks yang layak kita renungkan bersama. PT Kampung Makmur (Perseroda) didirikan tahun 2020 dengan modal dasar Rp100 miliar. Sampai saat ini, modal yang telah disetorkan Pemda berjumlah Rp37 miliar , terdiri dari uang tunai Rp2,5 miliar dan sisanya berupa aset strategis: Gedung Graha Insun Medal (GIM) senilai Rp27,2 miliar, tanah dan bangunan Resi Gudang, kawasan Cipanas Sekarwangi, Menara Kujang Sapasang, serta aset lainnya .
Kekayaan dikelola perusahaan ini sudah sangat besar. Namun setelah hampir 6 tahun berjalan, pertanyaan mendasar yang layak dikemukakan secara terbuka adalah: berapa yang telah disetorkan ke kas daerah sebagai pendapatan nyata?
Realitas Kontribusi : 5 Tahun Tanpa Setoran Berarti
Berikut gambaran kondisi kontribusi PT Kampung Makmur terhadap PAD Kabupaten Sumedang sejak berdiri:
Dalam Tahun Kondisi Kinerja Kontribusi ke PAD Catatan Penting pada tahun 2020 Baru berdiri, fokus penanganan pandemi & alat kesehatan Belum ada Perda penyertaan modal baru disahkan.Kemudian November 2020 sampai dengan 2021 Mulai operasional, modal disetor Rp37 miliar Belum ada setoran dividen. Pada tahun tersebut diarahkan fokus pemulihan awal. Sedangkan tahun 2022–2024 Berganti arah usaha ke pariwisata, aset, perdagangan & jasa . Pada tahun tersebut Tidak ada laporan keuangan terpublikasi secara terbuka. Arus kas hanya cukup untuk keberlangsungan operasional harian . Selanjutnya pada tahun
2025 Manajemen lama masih berjalan tapi Belum ada kontribusi signifikan dan Belum ada dividen yang disetorkan ke APBD . Pada khir ya tahun 2026 (s.d. September) Direksi baru dilantik Juli 2026; masih dalam tahap pemulihan dan aa sekali Masih belum menyumbang ke PAD. Bupati sendiri menyatakan: “progresnya masih pada tahap yang standar, cash flow baru dapat terpenuhi untuk bertahan”
Kesimpulan jujur yang harus diakui: Selama kurun waktu hampir 6 tahun, dari modal Rp37 miliar ditambah aset bernilai tinggi, belum ada kontribusi dividen yang nyata dan terukur masuk ke PAD. Justru sebaliknya untuk biaya operasional terus berjalan, sementara pemanfaatan aset strategis seperti GIM dinilai Komisi II DPRD belum optimal menghasilkan pendapatan.
Potensi Nyata , Namun Aset Masih ” Dijaga ” Bukan “Dikerahkan ”
Tidak ada keraguan soal nilai asetnya. GIM berdiri di pusat aktivitas masyarakat yang seharusnya menjadi pusat perkantoran, perdagangan, dan kegiatan sosial yang menghasilkan arus kas tetap setiap bulan. Tiga destinasi wisata memiliki daya tarik yang sudah dirasakan warga, namun belum dikelola sebagai satu kesatuan ekonomi.
Masalah utamanya bukan pada asetnya, melainkan pada cara mengelolanya. Selama ini aset lebih banyak “dijaga” daripada “dikerahkan”. Biaya perawatan terus keluar, sementara setiap meter persegi bangunan dan setiap hektar kawasan belum dikonversi menjadi pendapatan yang berkelanjutan. Nilai ekonomi sebuah aset tidak terletak pada harganya di atas kertas, melainkan pada kemampuannya menghasilkan manfaat yang berulang dan berkembang.
AKAR MASALAH Yang Harus Diakui
Pertama, fokus usaha terlalu menyebar tanpa inti yang kuat. Dari awal bergerak di alat kesehatan saat pandemi, kemudian beralih sekaligus ke pariwisata, pengelolaan aset, perdagangan, dan jasa. Tidak ada prioritas yang dijalankan secara mendalam. Akibatnya, tidak ada satu pun lini bisnis yang menjadi sumber pendapatan andalan.
Kedua, tata kelola belum sepenuhnya transparan. Laporan keuangan kinerja belum dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat. Keputusan operasional masih rentan dicampuri kepentingan di luar bisnis. Selama penempatan personel maupun arah kebijakan lebih didasarkan pada kedekatan daripada kompetensi dan perhitungan bisnis, efisiensi dan keuntungan akan selalu menjadi urutan kedua.
Ketiga, belum diterapkan konsep skala ekonomi. Satu gedung hanya dimanfaatkan sebagian; satu destinasi hanya mengandalkan tiket masuk tanpa mengembangkan produk turunannya. Padahal semakin luas pemanfaatan aset, biaya per unit justru turun dan keuntungan meningkat. Inilah yang disebut skala ekonomi — kunci agar aset besar benar-benar menghasilkan pendapatan besar pula.
Keempat, belum ada kesinambungan program jangka panjang. Pergantian kepemimpinan kerap mengubah arah kebijakan, sehingga rencana bisnis tidak berjalan konsisten. Direksi baru yang dilantik Juli 2026 membawa harapan baru, namun harus dijalankan di atas fondasi tata kelola yang benar-benar baru pula.
Kerangka Kerja: Mengubah “Aset Diam” Menjadi “Aset Bekerja”
Prinsip dasarnya sederhana: setiap aset harus punya fungsi penghasil pendapatan yang terukur. Rumusnya:
Nilai Ekonomi = Pemanfaatan × Tarif Pasar × Tingkat Hunian/Kunjungan
Tidak boleh ada ruang yang kosong tanpa alasan, tidak boleh ada fasilitas yang tidak memberi imbal balik ekonomi. Berikut strategi konkretnya:
- Graha Insun Medal adapah Mesin Pendapatan Paling Cepat
GIM adalah aset paling siap menghasilkan. Langkahnya:
– Zonasi ruang: Lantai dasar untuk tempat usaha dan pameran; lantai satu–dua untuk sewa kantor dan ruang kerja bersama; aula untuk sewa kegiatan; area parkir dikelola secara profesional. Setiap fungsi dihitung potensi pendapatannya.
– Tarif berbasis pasar: Lakukan survei harga di sekitar lokasi, tetapkan tarif yang kompetitif namun tidak merugi. Tawarkan paket sewa harian, bulanan, hingga tahunan agar arus kas dapat diprediksi.
– Kerja sama operasi (KSO): Pengelolaan parkir, kebersihan, dan layanan penunjang diserahkan
kepada pihak yang berpengalaman dengan sistem bagi hasil — BUMD tidak menanggung seluruh biaya operasional.
– Target bertahap: Capai hunian 60% pada tahun pertama, naikkan menjadi 85% pada tahun kedua. Semakin penuh hunian, biaya per penyewa semakin turun — itulah skala ekonomi mulai bekerja.
- Pariwisata : 2Tiga Destinasi, Satu Paket
Taman Seribu Cahaya, Cipanas Sekarwangi, dan Menara Kujang Sapasang tidak boleh dikelola sendiri-sendiri:
– Integrasi tiket: Satu kartu wisata berlaku untuk ketiga lokasi. Biaya promosi dibagi tiga, jangkauan pasar meluas, pengunjung terdorong mengunjungi lebih banyak tempat.
– Pemisahan pengelolaan: Inti kawasan dikelola langsung; kios, makanan, pemandu, dan jasa penunjang diserahkan kepada masyarakat dan kelompok sadar wisata lewat kemitraan. BUMD tidak perlu mempekerjakan semua orang, cukup mengelola sistem dan standarnya.
– Pendapatan beragam: Jangan hanya mengandalkan tiket masuk.
Kembangkan sewa tempat acara, produk khas berlabel destinasi, dan paket kerja sama dengan hotel serta restoran lokal. Satu pengunjung bisa menghasilkan pendapatan berlipat ganda.
- Aset Lain : Pilih, Kembangkan, Atau Alihkan
Lakukan penilaian menyeluruh atas aset tanah, sistem resi gudang, dan lainnya. Yang sesuai fokus dikembangkan secara mendalam; yang tidak mendukung tujuan utama dapat disewakan atau dialihkan agar tidak menjadi beban biaya. Fokus pada komoditas unggulan Sumedang seperti beras, jagung, dan kopi agar volume naik dan biaya per unit turun.
Tatat Kelola Yang Menjamin Hasil
Semua strategi di atas tidak akan berjalan tanpa pengelolaan yang benar:
– Pisahkan kepemilikan dan pengurusan: Pemda menetapkan arah kebijakan, namun keputusan operasional sepenuhnya di tangan manajemen profesional. Kenaikan gaji dan perpanjangan masa jabatan didasarkan pada angka kinerja, bukan kedekatan.
– Setiap biaya harus bernilai balik: Tidak ada pengeluaran tanpa kaitan langsung dengan peningkatan pendapatan. Struktur organisasi dirampingkan; posisi yang tidak menghasilkan dipangkas. Prinsipnya: biaya tumbuh lebih lambat daripada pendapatan.
– Laporan terbuka dan berkala: Setiap tiga bulan, kinerja dipublikasikan. Masyarakat dan DPRD berhak mengetahui tingkat hunian, pendapatan, serta setoran ke PAD. Jika dalam dua kuartal berturut-turut tidak mencapai target minimal, dilakukan evaluasi kinerja manajemen.
– Laba dikembangkan kembali sebelum dibagi: Pada tahap awal, sebagian besar keuntungan diinvestasikan untuk pembenahan aset agar mampu menghasilkan lebih besar. Setelah stabil, minimal 20–30% laba disetorkan ke PAD secara berkelanjutan.
Peta Jalan Mènuju Kemandirian & Setoran Nyata Ke PAD
Fase Waktu Fokus Utama Tanda Keberhasilan
Pemulihan 0–6 bulan Inventarisasi, laporan keuangan terbuka, penetapan tarif pasar Peta aset lengkap dipublikasikan, target pendapatan ditetapkan Pertumbuhan Awal 6–12 bulan Sewa mulai berjalan, kemitraan dibentuk, promosi dimulai Hunian GIM ≥60%, pendapatan menutup biaya operasional penuh Skala Ekonomi 1–2 tahun Hunian naik, paket wisata terintegrasi, biaya turun relatif Setoran perdana ke PAD mulai terlihat nyata. Kemandirian 2–5 tahun Sumber pendapatan beragam, kemitraan strategis berjalan Kontribusi PAD tumbuh minimal 20% per tahun secara stabil.
Penutup
Hampir 6 tahun berlalu. Modal Rp37 miliar sudah ditanamkan. Aset ratusan miliar sudah diserahkan. Namun kenyataannya, sampai hari ini belum ada dividen yang dapat dibanggakan masuk ke kas daerah. Bukan karena asetnya tidak bernilai — melainkan karena belum dikelola dengan prinsip usaha yang sehat, transparan, dan profesional.
Kita tidak butuh BUMD yang hanya besar di nama dan asetnya, namun tidak menyumbang apa-apa. Yang kita butuhkan adalah perusahaan yang mengelola kekayaan daerah dengan tanggung jawab — profesional, transparan, dan benar-benar menghasilkan.
Aset yang sudah ada sudah cukup. Sekarang waktunya membuktikan bahwa kekayaan itu bekerja untuk rakyat. Bukan janji, bukan harapan, melainkan angka nyata yang masuk ke kas daerah dan terasa manfaatnya di kehidupan setiap warga Sumedang. Direksi baru periode 2026–2031 memegang kendali ini. Seluruh masyarakat menunggu bukan lagi rencana, melainkan hasil.
*)Warga Sumedang, Mantan Anggota DPRD Sumedang, Ketua Dewan Pengawas Fokus Sinergi Kemitraan





